Minggu, Mei 31, 2009

Antologi Cerpen "Membaca Perempuanku" (2003)

Membaca Perempuanku


Aku menelanjangi perempuanku dalam potretnya. Kupandangi seluruh lekuk misteri yang tersembunyi di dirinya. Sebuah misteri serupa buku tebal yang tak menyuguhkan penyelesaian di akhir ceritanya. Yang membuat setiap pembaca bertanya-tanya tanpa pernah menemu jawaban pasti. Seperti rahasia yang sengaja tak ingin diungkap. Dan aku adalah salah satu dari pembaca itu. Sekaligus yang juga sempat memilikinya.

Kuperhatikan potretnya lebih teliti. Tentu saja ia hanya diam, dan melihat ke arahku dengan senyum khasnya. Aku berpikir untuk mencari tahu secara utuh tentang dirinya. Terutama yang berkaitan dengan diriku. Pernah aku berniat untuk mengambil dan membaca buku harian -itupun kalau ia punya- miliknya. Tapi rupanya ia bukan tipe perempuan seperti itu. Ia perempuan yang tak membutuhkan buku khusus untuk menuangkan kisah perjalanan hidupnya. Seperti juga ia tak pernah membutuhkan atau sekedar menginginkan barisan boneka di tempat tidurnya. Maka, kini, dengan rasa penasaranku atasnya kutelanjangi ia dalam potretnya. Barangkali ada sedikit jawaban yang bisa kudapat. Atau minimal kuharap saat ini ia mulai lelah memelihara misteri dirinya sendiri dan mau membukanya walau sedikit. Karena pada diriku, kesabaran yang ada sudah kian menipis.

Ia masih sangat manis, sama seperti waktu terakhir kali kami bertemu. Kira-kira dua minggu yang lalu. Sorot matanya tajam, setajam belati yang selalu ia bawa dalam jiwanya. Entah untuk apa. Yang pasti ia sering sekali menyebut tentang belati itu. Tapi tak pernah dijelaskannya. Aku pernah menanyakannya, dan ia langsung menikamkan belati itu ke dadaku. Ngilu. Perih. Seolah seluruh tulang rusukku remuk, hancur. Jantungku terasa teriris-iris menyisakan puing-puing yang berantakan. Sejak itu aku tak lagi menyinggung soal belati itu. “Aku menyimpannya dengan sangat rapi di satu bagian tubuhku.” katanya suatu kali padaku mengenai belati miliknya. Dan aku memilih untuk tidak berkomentar apapun. Walau begitu, aku merasa kedua matanya sangat indah. Seperti sebuah puisi. Dan aku menyebutnya, mata puisi.

Malam ini, di ruang sajakku, aku tatap mata perempuanku lebih lama lagi. Ada guratan sepi yang kutangkap di sana. Seperti kabut pekat kala pagi menjelang. Menutupi pancaran sinar dua purnama yang sangat kukagumi. Memedihkan pandangan, dan setiap mata yang mencoba menembus kepekatannya. Aku pernah mencobanya, bahkan berkali-kali. Tapi selalu saja aku tersesat di samarnya dan menarik mundur langkahku untuk mengambil sekian nafas dan kembali bersiap untuk menembusnya lagi. Sungguh, perempuan ini benar-benar serupa barisan misteri yang bernyawa. Meskipun kadang terlihat seperti sebuah kematian yang ikhlas, karena diamnya. Tapi tetap saja mempesona.

Sudah setahun ini ia menjadi kekasihku. Tapi semakin lama ia terasa semakin menjadi misteri bagiku. Termasuk soal perasaannya padaku. Aku benar-benar kesulitan memahami bentuk isi hatinya. Padahal sejak di awal kami berhubungan, aku telah mati-matian berupaya menjelajahi seluruh jiwanya, juga hatinya. Tapi hasilnya, aku malah jadi kebingungan sendiri. Semua terasa bagai waktu senja. Begitu misteri. Sementara aku semakin renta. Dan, ia adalah puisi yang tak pernah berhasil kupahami sepenuhnya.

Suatu kali, saat kami bertemu, aku memaksa masuk ke jiwanya. Aku tenggelamkan ia dalam pelukan panjangku. Kucoba untuk menjelajahi seluruh organ tubuhnya, juga batinnya. Aku menemukan dirinya yang tetap tenang menghadapi keinginanku yang menggebu mencari jawaban atas segala pertanyaanku. Seketika aku merasa sebagai orang asing yang masuk ke sebuah rumah dengan puluhan ruang kosong di dalamnya. Semua tampak putih. Sunyi. Sesunyi tatap mata perempuanku di dalam potretnya. Tiba-tiba aku merasa suasana berubah mencekam. Tubuhku menggigil dihantam angin kencang yang datang ke arahku. Segalanya menjadi gelap. Aku hampir tak dapat melihat apapun. Kukedipkan kedua mataku berkali-kali, mencoba untuk menyesuaikan diri dalam keadaan yang bagiku sangat aneh ini. Tapi tampaknya tubuh perempuanku sama sekali tak menerimaku di sini. Aku melihat lagi ruang-ruang kosong tadi, kini tampak begitu banyak pintu di sisi-sisinya. Dan, semua serentak tertutup dengan keras. Menimbulkan gelegar suara yang sangat nyaring dan berturut-turut. Aku merasa pusing. Terdengar bunyi anak kunci diputar berkali-kali. Dimanakah aku sekarang? Aku tak sanggup mencari tahu lebih jauh lagi tentang suasana ini.

Pusingku tiba-tiba hilang. Kepalaku berguncang pelan. Masih di bahu perempuanku. Di pelukan panjang kami. Aku menatap wajahnya yang dingin. Datar. Lalu ia tersenyum seperti biasa. Aku sedikit tenang melihatnya. Tapi ingatanku masih tersedot ke ruang-ruang kosong tadi. Bagaimanakah hati kekasihku sebenarnya? Aku merasa ada yang ia sembunyikan dariku. Ya. Tentang dirinya. Juga ikatan yang kami jalani berdua selama ini. Benarkah ia hanya berpura-pura mencintaiku? Tapi perhatiannya begitu besar ia tumpahkan ke seluruh alir nafasku. Takkah ada arti semua itu di matanya? Pertanyaan-pertanyaan ini terus saja mengikutiku untuk menemukan jawabannya. Sampai kadang aku lelah sendiri, dan lebih memilih berusaha untuk tidak memperdulikannya. Meskipun tiapnya tetap saja bermain-main di pikiranku.

Keinginanku untuk mengetahui isi hati perempuanku semakin membengkak. Seperti penyakit yang tak sembuh-sembuh menyerang seluruh tubuhku. Aku ingat, saat aku kabarkan padanya perihal pernikahanku sekitar tiga bulan lalu. Perempuanku menangis. Aku dengan jelas mendengar isaknya di antara gemerisik suara gangguan pada kabel telepon yang menghubungkan kami. Aku meninggalkannya, tanpa memutuskan ikatan yang ada di antara kami. Ia tak bicara, hanya menangis terus-menerus. Entahlah. Aku tak dapat memahami arti tangisannya itu. Mungkinkah ia benar-benar terluka dan tak ingin kehilanganku? Atau malah itu hanya tetesan kepura-puraan yang begitu terlihat sempurna? Jangan-jangan ia telah mulai benar-benar jatuh cinta padaku. Tapi aku tak mendapat jawaban atas semua ketidakjelasan itu. Sementara, kami tak pernah memutuskan ikatan yang telah terjalin cukup lama. Hingga saat ini. Ketika aku masih saja merinduinya dengan seluruh hatiku, dan hanya bisa merenungi misteri dirinya dari sebuah potret.

Setiap hari aku memandangi potretnya. Seperti setiap hari pula aku menulis puisi. Tapi tak satupun puisiku untuknya. Dan ia tak pernah meributkan atau setidaknya menanyakan hal ini kepadaku. Tinggal aku yang sibuk menduga-duga apakah ia sungguh tidak membutuhkan kehadiranku atau perhatianku?

Barangkali salah satu sisi hidup adalah memang membiarkan sesuatu hal berjalan sesuai garis permainannya sendiri dan tak perlu kita pahami.

Tetapi malam ini aku kembali terjebak dalam kerinduan yang akut dan meminta pertanggungjawaban padaku. Saat aku memandang potret perempuanku, dan rasa penasaranku atas isi hati perempuan itu terhadapku hadir lagi mengurungku.

Aku agak ragu. Haruskah aku menuruti keinginan hatiku malam ini? Untuk melakukan penjelajahan pada jiwa perempuanku. Sampai aku menemukan jawaban yang kucari selama ini. Mungkin akan menjadi usaha pencarianku yang terakhir. Mungkin juga tidak. Aku sadar saat ini di diriku hanya terdapat secuil keyakinan kalau aku akan berhasil. Pasti akan sulit sekali. Pikirku. Seperti aku sebagai orang buta yang berusaha meraba dan menembus malam untuk mencapai jalan pulang. Tapi benarkah aku harus mencobanya lagi? Untuk yang kesekian kalinya. Tapi untuk apakah aku melakukannya? Mengapa aku harus mengikuti keinginan hatiku ini? Apa karena perempuan itu masih menjadi kekasihku hingga saat ini? Atau aku masih mengharapkan dirinya di sisiku? Salah siapakah jika semua ini masih terjalani. Dimana kami masih suka membuat janji untuk bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan istriku. Dan, kami masih membagi serbuk kasih pada masing-masing kuntum jiwa raga kami. Seperti dua kunang-kunang yang tak ingin melepaskan genggaman satu sama lain. Menyatukan cahaya. Walaupun dibalik semua itu aku tak pernah bisa mengetahui sebenar-benarnya warna cahaya perempuanku itu. Tapi kami tetap meneruskan ikatan ini. Kami juga bercinta. Maka apakah makna dari semua ini? Aku benar-benar ingin mengetahui jawabannya. Harus.

Aku mengingat beberapa hal tentang perempuanku. Mencoba mengenalinya dari kesehariannya. Ia adalah perempuan yang kuat. Sejak kecil ia sudah sangat mandiri. Juga berani. Ia tidak pernah takut dengan apa dan siapapun. Bahkan pada bahaya yang dapat mengancam keselamatannya sekalipun. Sungguh, ia seorang perempuan yang tak sama seperti perempuan pada umumnya. Aku tahu ia suka minum minuman beralkohol, tapi bukan mabuk. Atau tentang rokok putih yang selalu bertengger dan hampir menggelapkan bibir segarnya. Aku juga mendengar kalau ia sangat mudah mendapatkan lelaki yang ia sukai. Aku percaya itu. Bahkan kalau tidak salah ia pernah menyebut dirinya sendiri sebagai petualang.

“Aku berhubungan dengan banyak lelaki. Tapi aku masih punya cinta. Dan aku akan terus merindukannya sampai aku menemukan yang aku cari.” katanya suatu hari padaku beberapa waktu lalu.

“Apa kau sudah menemukannya?”

Ia hanya diam.

Saat itu aku merasa ia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Tapi sikapnya berlawanan dengan semua itu. Atau aku yang salah menafsirkan konsep cinta miliknya dengan konsep yang ada di kepalaku? Berbedakah makna cinta di pikiran kami? Tapi cinta adalah urusan hati, bukan logika.

Dan, aku sempat hilang kesabaran melihat sikapnya yang tak kumengerti itu.

“Kau tahu?”

“Apa?”

“Wajah manismu menjadi sangat menakutkan setiap kau menjerat lelaki lain lagi dalam hari-harimu.”

“Aku mencari.”

“Kau mencari dengan membunuh banyak hati.”

“Kau tak tahu apa-apa.”

“Karena hatimu terlalu sunyi.”

Perempuanku diam. Kali ini ia tidak tersenyum sama sekali. Dingin. Tanpa ekspresi.

“Dan kau sedang membunuhku.” kataku.

Tiba-tiba perempuan itu menatap ke arah dua mataku. Sorot matanya begitu tajam menghujamku. Ia tak berkedip. Sebuah kebencian terpancar dengan sangat kuat saat itu. Aku hening. Yakin sekali kalau ia akan segera mengeluarkan belati miliknya dan menikamku. Aku menunggu. Dan, benar. Aku mulai merasa sakit pada dadaku. Denyut jantungku berdetak tak karuan. Aku seolah tertarik pada jurang yang sangat dalam dan tubuhku terhempas pada tumpukan duri tanaman liar. Aku meringis di hadapannya. Siapakah yang ada di depanku saat ini? Ia tak seperti perempuanku yang aku kenal. Aku merasa perempuan ini ingin melumatku habis-habisan dan mencincang tubuhku dengan belati miliknya. Seluruh bagian dadaku terasa nyeri. Seolah ada benda tajam yang menusukku. Tapi saat ini aku tak melihat perempuan itu menggenggam belati. Di dadaku pun tak tertancap sebuah belati seperti yang kurasakan.

Perempuan itu lalu memalingkan wajahnya. Perlahan-lahan nafasku teratur kembali, juga denyut nadiku. Tak ada lagi rasa sakit. Semuanya menjadi sangat aneh bagiku. Sangat aneh.

Aku ngeri mengingat semua kejadian yang kualami dengan perempuanku. Terutama setiap ia menghadirkan sorot matanya yang tajam dan bermusuhan. Tapi malam ini ia tidak ada di depanku. Hanya potretnya yang diam dan tentunya tak dapat menikamkan belati padaku. Maka aku bertekad untuk menjelajahinya dari kejauhan. Ya, malam ini. Entah bagaimana caranya. Yang pasti aku tidak akan hanya mengandalkan barisan kata-kata puitisku saja. Takkan berhasil. Perempuanku terlalu kuat untuk sebuah hujaman berupa kata-kata.

Aku belum mendapatkan cara yang tepat untuk menemui perempuanku. Sedang malam sudah semakin larut. Jarum jam di dinding terasa bergerak dengan lelah dan mengantuk. Sudah pukul dua belas kurang sepuluh menit. Tapi aku tidak. Aku sama sekali tak merasa mengantuk. Hanya sedikit lelah menyerang punggungku. Mungkin karena terlalu lama duduk di kursi ini.

Kupandangi potret perempuanku. Anganku ngelangut padanya. Sedang apakah kau sekarang, perempuanku? Lamunanku tentangnya terayun-ayun di hembus angin lembut yang ditiupkan kipas angin kecil di atas meja bacaku. Tapi hatiku menjadi sakit mengingat segala sikap samarnya padaku. Yang membiarkanku terhuyung-huyung melangkah mencari kepastian isi hatinya atasku.

Aku tak ingin ini berlangsung lebih lama lagi. Kami terus bertemu dan bercinta. Dan aku mengkhianati istriku yang mencintaiku. Meskipun ia tahu aku tak benar-benar mencintainya. Bahkan saat kami bercinta, aku masih saja membayangkan istriku itu sebagai perempuanku. Kekasihku. Sementara, ia, perempuanku, tak pernah menjelaskan padaku perihal isi hatinya. Malam ini aku akan mengakhirinya.

Aku mendekatkan potret perempuanku ke wajahku. Kau harus menjawabku sekarang. Kataku. Seketika kesadaranku lenyap perlahan. Kurasakan keningku menabrak semacam dinding. Dan, aku sudah berada di tempat yang tak terlalu asing bagiku. Ya, ini adalah bagian diri perempuanku. Aku pernah memasukinya dulu. Tanpa ragu lagi aku memulai penjelajahanku.

Kudatangi otak perempuanku. Aku merasa sedikit pusing. Rumit sekali. Batinku. Sesak. Aku menemukan ribuan huruf yang berserakan di sana. Lalu susunan strategi petualangan dan permainan cinta yang telah dipersiapkannya dengan sangat rapi. Aku menggelengkan kepalaku. Aku ingin bertanya, tapi tak tahu pada siapa. Aku melihat beberapa nama lelaki. Tapi tidak namaku. O, perempuanku. Dimana kau simpan namaku selama ini? Aku berjalan pelan-pelan. Kujumpai sebuah puisi yang tak jadi. Puisi sepi. Ah, ini dia. Batinku. Satu sisi rahasia perempuanku. Tentang sepi yang mungkin diam-diam menjadi luka tersendiri baginya. Tapi aku tak peduli, aku ke sini untuk mencari jawaban setiap pertanyaanku. Tapi sampai kutelusuri semua bagian otaknya, tak kutemukan namaku satupun. Aku benar-benar tak ada di benaknya. Tidak sekalipun. Pikirku. Hatiku memanas. Ada rasa sakit dan kecewa yang dalam pada perempuanku. Kuambil huruf-huruf yang kubawa di kantong celanaku. Kulemparkan pada otak perempuanku. Kupecahkan barisan nama lelaki yang tadi kulihat. Tak ada lagi yang teratur di sini. Juga susunan strategi petualangan cinta perempuanku. Aku pergi.

Lalu kumasuki hati perempuanku. Kutemui beberapa ruang di dalamnya. Juga nama-nama. Serta tumpukan puisi sepi dan hasrat yang meledak-meledak. Kegilaan dan keliaran yang cukup membuatku risih. Tapi lagi-lagi tak kutemukan namaku di sana. Aku merasa putus asa. Kulihat sebuah belati tertancap tegak tepat di tengah-tengah hatinya. Jadi ini belati yang ia sebut-sebut itu? Tanpa pikir panjang kutendang belati itu hingga patah dua. Sungguh perempuanku tak memiliki hati seindah senyum dan wajah manisnya. Pikirku. Atau matanya yang puitis. Yang biasa kusebut dengan mata puisi. Ironis sekali. Sepasang mata puisi itu berdampingan dengan sebuah pisau hati. Aku menundukkan kepalaku. Sedalam-dalamnya. Jadi memang benar selama ini perempuanku hanya pura-pura mencintaiku. Kuambil sebuah pena yang terselip di saku bajuku. Kutuliskan sebuah puisi panjang di dinding hatinya. Puisi pertama yang kutuliskan untuknya. Sekaligus terakhir kalinya. Tetesan darah kali ini tampak begitu indah. Membentuk huruf dan kata-kata puitis. Tanganku sudah penuh darah. Terlebih penaku. Tapi puisi panjangku belum selesai. Beruntung aku tak membutuhkan tinta kali ini. Darah perempuanku adalah tintanya. Dinding hatinya adalah kertas yang menunggu tarian penaku menyetubuhi keluasan badannya. Aku menulis sambil tertawa-tawa. Sesekali aku tertawa sambil menitikkan air mata.

Aku kehabisan kertas. Maka aku berjalan ke tempat-tempat lain. Kusambung puisiku yang masih terputus. Aku masih menyimpan banyak huruf di kantong baju dan celanaku. Kutuliskan lagi puisiku di paru-paru perempuanku, di tulang-tulang rusuknya, jantungnya, ginjalnya, dan semua organ tubuhnya. Juga ususnya. Aku lama menjalari ususnya. Kata-kataku terukir rapi di sini. Puisi panjangku masih juga belum menemu ujungnya. Aku mulai kelelahan. Tapi kuteruskan menulisi urat-urat seluruh tubuhnya dengan kata-kata puisiku. Lalu dengan diliputi rasa sakit dan kecewa, aku melarutkan seluruh sisa-sisa huruf yang kubawa ke dalam aliran darahnya. Juga di nafasnya. Kudengar denyut nadinya tampak melemah. Mungkin tak kuat membawa puisi panjangku. Aku menitikkan air mata. Mataku sudah basah dengan air mata. Aku mencintai perempuanku. Bisikku pelan. Dan, aku sudah lelah sekali. Perjalananku terasa begitu lama. Mungkin hari sudah pagi. Aku tak tahu pasti. Aku pun meninggalkan tubuh perempuanku dengan perasaan hampa.

Aku terbangun dari tidurku ketika jam di dinding berdentang. Aku masih di atas meja bacaku, di ruang sajakku. Kulirik jam dinding, pukul delapan pagi. Di tangan kiriku terdapat potret perempuanku. Tak ada yang berubah. Wajahnya masih sangat manis seperti sebelumnya. Tapi tak lagi penuh misteri. Hanya bayangan samar hatinya, dan puisi panjang milikku.

Di sebuah kamar, di kota lain, seorang perempuan muda duduk terkulai di kursi meja kerjanya. Kepalanya menelungkup di atas meja. Wajahnya menindihi potret seorang lelaki. Di sudut mejanya tergeletak sebuah kertas bertuliskan puisi yang tak jadi. Pada bagian atas kertas terdapat sebuah tulisan singkat: untuk lelakiku, penyairku. Yang kutemui dan menemuiku malam ini.

Wajah perempuan itu tampak pucat. Sekujur tubuhnya tak bergerak. Sisa-sisa nafasnya satu-persatu melayang seperti tetes embun yang menguap di luar jendela kamarnya. Dan, hilang perlahan diculik waktu. Pagi yang berganti siang.

Yogyakarta, Juni 2003



PISAU


Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan dalam hidupku. Sudah sekitar enam bulan ini aku hanya menghabiskan waktuku dengan duduk merenung di atas sebuah bukit di desaku, sambil menunggui perjalanan pulang matahari sore. Diam, tanpa melakukan apapun. Mungkin terasa aneh, terutama bagi orang-orang yang telah lama mengenalku. Mereka tampak heran melihat kebiasaan baruku ini.

Banyak yang mengatakan aku berubah. Dulu aku dikenal sebagai gadis yang suka tertawa dan bergaul dengan siapa saja. Sementara kini aku cenderung lebih suka untuk menyendiri dan diam. Tapi, beginilah aku. Inilah aku apa adanya sejak aku mulai merasa sendiri. Tepatnya sejak kematian ayah kandungku dua tahun lalu akibat penyakit gagal ginjal.

Namun, kesedihanku itu perlahan-lahan bisa kuredakan. Sedikit demi sedikit aku memupuk kekuatan dalam diri sendiri untuk dapat bangkit dan bertahan. Dan, aku berhasil, sampai ibuku menikah lagi dengan seorang pria setengah baya yang ada di desa kami. Aku sempat menentang keinginan ibuku itu. Tetapi setelah perdebatan panjang, akhirnya aku mengalah dan hanya memilih diam.

Pernikahan itu pun terjadi enam bulan lalu. Disinilah awal mula aku merasakan berada dalam sebuah lubang hitam yang merebut segala semangat hidup yang telah kubangun selama ini. Aku menjadi seorang gadis yang pendiam, namun menyimpan sekian luka dan dendam. Sejak itu pula aku tak pernah lupa untuk membawa sebilah pisau kemanapun aku pergi, dan siap kutikamkan kapan saja kepada orang-orang yang mencoba menggangguku.

Sore ini seperti biasa aku menaiki tubuh bukit. Matahari meluncur pelan di hadapanku. Kulipat kedua kakiku hingga lututku bertemu daguku. Dinding terjal bukit seolah menjadi cermin memantulkan sisa-sisa cahaya matahari. Aku telanjangi bulat merah raja siang itu dengan lamunan. Makin penuh ruang khayalku saat ini. Pikiranku mengawang menyusuri langit sore yang berwarna merah nyala.

Dimana Tuhan bersembunyi? Tanyaku dalam hati. Aku hampir tak pernah merasakan kehadiran-Nya disisiku lagi. Mungkin kau yang tidak pernah mau menemui-Nya. Bagaimana mungkin? Tiap hari aku duduk di sini dan memanggil-manggil nama-Nya. Tapi Dia sekalipun tidak pernah menjawab seruanku. Bahkan hingga aku pulang lagi ke rumah meninggalkan-Nya. Mungkin karena kau sudah lama tidak sembahyang. Ha? Apa gara-gara itu lantas Tuhan tidak mau menemuiku lagi? Tidak mau menjawab panggilanku yang sudah demikian serak dan basah oleh air mata ini?

Nah, kau lihat sendiri kan. Kau hanya bisa terus berteriak-teriak tak henti memanggil nama Tuhanmu. Bertanya, ataupun memaki. Tapi tak pernah kau mau melangkahkan kakimu untuk menujuNya. Kalau begini terus maka sampai kapan pun kau tidak akan bisa bertemu dengan Tuhan. Bahkan sekedar melihat wajah-Nya. Atau bayangan-Nya. Aku tercengang mendengar ucapan nuraniku.

Matahari kian menghilang dari pandanganku. Perlahan senja mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu. Ini mengingatkanku pada para penyair di desaku. Tak jarang aku membaca kata senja dalam bait-bait puisi mereka. Seolah-olah senja adalah masa yang demikian agung dan bisa menimbulkan rasa cinta dan bahagia pada hati mereka. Aku sempat setuju. Tapi sejak enam bulan ini aku sama sekali tidak merasakan senja dapat menumbuhkan kekaguman.

Tentu saja, sekarang hatimu sudah tidak punya ruang untuk menciptakan cinta. Hatimu sudah terlalu sesak dengan segala bentuk luka dan dendam. Yang ada di pikiranmu hanya bagaimana menyembunyikan pisau di punggungmu, dan menikamkannya pada orang-orang yang selama ini menorehkan luka itu di dirimu. Nuraniku mengusikku lagi rupanya. Tapi kau memang benar. Mungkin aku sudah menjadi orang yang kehilangan gairah cinta. Aku tidak percaya pada siapapun juga akhir-akhir ini. Semua terlihat mencurigakan, dan aku harus waspada setiap waktu.

Langit sudah sangat merah. Seperti darah, pikirku. Langit ini berdarah! Apakah langit ini terluka? Atau malaikat-malaikat sedang berperang dengan para setan dan jin yang ada di balik awan sana? Hingga darah mereka mengalir dan menjadi langit merah senja ini? Terjadi pertumpahan darahkah disana? Aku jadi teringat berita perang yang kulihat di televisi semalam. Semua persis langit senja ini. Penuh warna merah. Aku makin bersemangat melihat seluruh langit kini telah tenggelam di aliran merah darah. Langit ikut merasakan apa yang kurasakan. Hatiku bersorak gembira. Barangkali Tuhan kali ini menjawab panggilanku. Kasihan. Kau sudah begitu sakit tampaknya. Nurani berbisik padaku. Aku tak peduli!

***

Masih kususun mimpi kebencian di batas sipitnya matahari. Tiba-tiba ayah tiriku muncul di hadapanku di garis cakrawala yang menipis. Serentak rasa dendam mengurungku yang telah siap dengan sebilah pisau di punggung.

“Mau apa kau ke sini?”

“Aku ingin menjemputmu pulang, sayang.”

“Aku tidak akan pernah pulang.”

“Tapi rumah kita juga masih rumahmu. Dan akan menjadi tak lengkap jika kau tidak cepat kembali menemui ayah ibumu ini.”

“Kau bukan ayahku. Dan jangan memanggilku dengan sebutan sayang lagi.” Perutku terasa mual-mual mendengar cara bicara ayah tiriku itu.

“Kau tetap harus pulang! Bagaimanapun kau harus menuruti perintahku. Aku ini ayahmu!”

Kebencian dan dendamku terasa memuncak saat ini. Ini sudah kelewatan! Kurasakan ada yang bergetar di dalam jiwaku untuk segera berdiri dan menabrak tubuh ayah tiriku itu hingga ia jatuh ke dasar bukit. Tapi aku masih membiarkannya berdiri di depanku beberapa saat. Kau tidak boleh mati semudah itu. Pikiran jahatku mulai menguasaiku.

Tatapanku menajam menatap wajah ayah tiriku. Kulihat juga dua mata ayah tiriku itu memancarkan pandangan yang sudah sangat kukenal. Ya. Pandangan itu sama seperti biasanya jika ia melihatku di rumah. Saat ibuku tidak ada, dan ayah tiriku akan mendobrak pintu kamarku untuk dapat menyetubuhiku di rumah kami sendiri. Dan aku hanya bisa pasrah menahan marah ketika ibuku malah menyuruhku untuk tutup mulut.

Kutatap mata ayah tiriku yang saat ini masih berdiri di hadapanku. Tampak ia mulai mendekati aku dan berusaha menindihi tubuhku. Aku melawan. Aku meronta sekuat tenagaku.

“Semua akan berakhir saat ini juga.”

“Apa maksudmu sayang?”

Aku tak memperdulikan kata-kata ayah tiriku itu. Kuambil pisau yang selalu kusembunyikan di balik punggungku, dan kuhujamkan satu tusukan tepat di perutnya. Darah mengucur membasahi badanku. Lelaki itu meletakkan tangannya ke arah perutnya. Tapi luka itu sangat lebar. Darah muncrat kemana-mana. Akhirnya kulihat ia menghembuskan nafas terakhirnya di hadapanku. Langit pun menjadi bertambah merah.

Aku tertawa puas. Samar-samar ayah tiriku hilang dari benakku. Lenyap. Begitu juga bayangan laut darah yang tak pernah ada di atas bukit ini. Aku masih tertawa-tawa mengingat kejadian barusan. Aku berhasil! Tidak. Kau tidak pernah berhasil. Kau kalah! Aku berhasil! Aku berhasil membunuhnya dengan tanganku sendiri. Tidak! Aku bertengkar dengan nuraniku. Baik, kau akan lihat kalau aku memang telah berhasil.

Aku memandang lagi ke arah langit senja. Aneh, senja hari ini terasa lebih lama dari hari-hari kemarin. Angin berhembus lembut. Hawa dingin menepuk-nepuk kedua pipiku dengan mesra. Aku sedikit mengantuk dibuatnya. Tapi bayangan kejadian ayah tiriku tadi membuat aku tak ingin tidur. Aku rindu erangan sakit itu. Aku ingin lagi orang lain ikut merasakan luka yang selama ini kusimpan. Aku ingin melihat kucur darah dari orang-orang itu. Orang-orang yang telah sengaja menorehkan luka padaku. Aku ingin membunuh meraka. Dan muncullah bayangan ibuku tepat di depan wajahku. Secepatnya kuambil pisau…

“Jangan pernah mencoba mendekatiku lagi.”

“Sayang, ini aku… ibumu.”

Kalimatnya putus seiring jatuhnya tubuh ibuku di bukit. Sekali lagi darah mengalir deras sepanjang tanah bukit berumput ini. Aku makin kacau. Darah seperti telah benar-benar menguasai seluruh jiwaku. Ada rasa asing pada diriku sendiri, namun semua hilang seketika kala aku mengingat segala luka dan dendam yang ada dalam diriku. Kubiarkan ibuku menemui kematiannya di antara senja. Aku berhasil lagi.

Batinku lirih mengucapkan kalimat kemenangan. Sementara bayangan tubuh ibuku yang berlumuran darah perlahan-lahan sirna dari pandanganku. Senja kembali sepi. Langit masih berwarna merah nyala. Dan bukit tetap kosong seperti sedia kala. Tak ada setetes pun cecer darah tertinggal di sini. Aku meraba pisau yang terselip di punggungku, masih melekat rapi tak berubah sedikit pun.

Bagaimana? Sudah puas membunuh semuanya? Nuraniku datang lagi di ujung sepi. Aku mendesah. Aku sudah berhasil membunuh mereka. Apa kau tadi ikut menyaksikannya? Tidak. Aku tidak tertarik dengan semua itu. Hati-hati dengan bicaramu. Aku bisa membunuhmu kapan saja aku mau. Boleh saja. Asal kau tahu aku adalah bagian dari dirimu. Jika kau bunuh aku, maka berarti kau juga membunuh dirimu. Aku ragu. Baik, aku tidak akan membunuhmu.

Hemm….rupanya kau takut mati juga ya. Tidak! Aku bukan takut mati. Tapi masih ada yang harus aku bunuh lagi. Apa? Iya, masih ada satu yang belum kubunuh. Senja hampir habis, aku harus cepat-cepat melakukannya sebelum terlambat. Kau benar-benar sudah sakit parah. Inilah aku. Jika kau tak suka, kau boleh pergi. Okey, aku pergi. Aku mendesah lagi. Selalu berakhir begini jika bicara dengan nuraniku. Bertengkar. Tapi sudahlah. Aku harus menuntaskan tugasku.

Aku mengatur lamunanku yang terakhir. Kuingat lagi wajah ayah kandungku yang meninggal dua tahun lalu. Bermacam-macam kenanganku bersamanya dulu kembali datang menemuiku senja ini. Tiba-tiba ada rasa benci melihat ayah kandungku yang terlalu cepat meninggalkan aku sendiri untuk pulang ke pangkuan Ilahi. Membiarkanku masuk ke dalam lubang hitam yang dibuat oleh ibu dan ayah tiriku. Maka sebelum senja habis, segera kubunuh bayangan ayahku itu berikut kenangan lama dengannya. Kuambil pisau dari punggungku dan kulemparkan ke arah ayahku yang berdiri melayang di langit senja. Pisauku menancap di dada kiri ayahku. Darah menetes jatuh ke dasar bukit. Saat darah itu berhenti menetes, bayangan itu pun sirna. Tinggal jejak senja yang menyisa. Semua sudah selesai. Aku merasa sangat tenang.

Hari mendadak gelap. Tak ada lagi warna merah nyala di langit, atau sisa-sisa darah di bukit ini. Dadaku sesak berguncang, gamang menjemput malam. Telah banyak yang kubunuh senja ini, bagaimana bila malam ini mereka datang dan berbalik menyiksaku? Menawarkan kesedihan seperti yang telah lama kulewati bersama air mata? Tubuhku bergetar kencang, semua tak boleh terulang lagi padaku. Aku tak ingin ada hari-hari berikutnya yang membuatku jadi lebih kejam dari hari ini. Membunuh sebelum terbunuh. Tidak boleh!

Serentak aku beranjak berdiri di tepi bukit yang kian gelap menunggu sinar bulan. Matahari telah hilang sempurna. Hanya dialah selama ini yang menjadi teman hidupku. Dan kini ia telah pergi. Aku akan sangat sendiri malam ini. Tapi tidak! Telah kutemukan jalan keluar semua ini. Ya! Matahari, tunggu aku!

Tubuhku melayang mengikuti arah perjalanan pulang matahari senja. Beberapa lama kurasakan gesekan angin dingin menusuk tubuhku yang hanyut di udara. Hingga tak kulihat lagi berkas cahaya bulan dimataku. Sempat kuingat kepalaku menghantam batu besar di dasar bukit beberapa puluh meter dari tempatku duduk tadi. Lalu semuanya menjadi begitu hening.

Yogyakarta, 12 April 2003



Catatan Hati Seorang WIL


Malam demi malam berlalu tanpa kesan. Satu per satu gemintang di langit, termasuk malam ini, meninggalkanku yang masih sibuk menata puing-puing hati. Kamar kost mungil milikku terasa panas dan gerah. Telah lama angin tak sudi menyusupkan dirinya yang lembut ke celah-celah jendela nako kamarku. Mungkin bosan melihatku yang terlalu sering memainkan air mata. Atau ia tak tahan merasakan sedih dan sakitku, hingga sekedar menengokku sebentar saja pun ia tak sanggup.

Entahlah. Sejak aku berkenalan dengan yang namanya cinta dan menerima sekian tikaman luka darinya, aku merasa setiap malam menjadi semakin sunyi. Mati. Seperti kuburan. Tak pernah lagi aku bisa menikmati dinginnya udara malam dan mencicipi bening embunnya yang menampar wajah dedaunan.

Malam terasa demikian hambar. Seperti sengaja tak ingin menyatu denganku. Atau ia tersinggung dan marah padaku? Sebab telah begitu lama aku terus menculik dan mengurungnya di dalam catatan harianku. Dan kupigura dengan tetesan air mata dan sekian kegalauan. Bisa jadi memang begitu. Tapi catatan hati yang kutulis belum juga mencapai titik akhirnya. Dan, malam ini aku menulis lagi.

Aku sudah tidak tahu harus bagaimana. Menyalahkan diri sendiri, atau menuding pada cintaku. Penanggalan melaju dengan kencang. Memaksaku membuat ketegasan sikap dengan cepat pula. Ah, waktu yang terlalu kencang berjalan atau aku yang hanya merangkak dan tak juga beranjak? Kebingunganku hari ini masih sama dengan kemarin. Juga kemarinnya lagi. sampai-sampai aku letih pada diri sendiri. Atau aku berhenti saja dan memutus semuanya?

Tapi apa artinya itu? Bunuh diri? Gila! Aku masih mau hidup. Ragaku tampak menentang keras sebersit pikiranku barusan. Aku tersentak dan segara berhenti menulis. Kalau batinmu letih, kenapa tidak kau siram saja rohanimu dengan ilmu agama? Bukannya dengan bunuh diri seperti itu. Pengecut! Sialan. Siapa juga yang mau bunuh diri. Memangnya aku bilang mau? Hem…melihat darah sedikit saja aku sudah lemas gemetaran. Bagaimana bisa bunuh diri? Lagipula pakai apa? Aku sih mungkin, ini mungkin lho, berani saja bunuh diri. Asal pakai pestol. Tinggal dor, langsung mati. Tapi aku kan nggak punya pestol. Masak mau pakai pisau? Ih, sorry lah. Berapa banyak darah yang bakal kulihat nantinya. Bisa-bisa aku mati karena ketakutan melihat kucuran darahku sendiri, dan bukan karena pisau itu. Atau dengan menenggak obat sekaligus banyak? Mana mungkin. Kau kan tahu aku ini dari kecil paling nggak bisa yang namanya nelan obat tablet, kapsul, atau sejenisnya. Lalu, apa aku harus bunuh diri dengan cara gantung diri? Aih. Nggaklah. Rasanya kok kurang elit ya? Sudahlah. Kau tenang saja. Aku nggak akan bunuh diri.

*****

Aku berdiam diri di kamarku malam ini. Kuingat kisah cintaku yang janggal. Aku lelah. Heran! Kenapa setiap aku jatuh cinta selalu saja pada lelaki yang tak tepat? Buatku pribadi mungkin nggak menjadi masalah. Tapi buat keluargaku? Pasti mereka tidak akan bisa menerima bentuk cintaku yang seperti ini. Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya aku mau tidak mau harus rela melepaskan lelaki itu. Huh. Berat. Sakit. Tapi, ketimbang aku yang dilepas dari rumah?

Berkali-kali aku jatuh cinta. Berkali-kali pula aku harus melepaskannya. Sebenarnya ini salah siapa sih? Aku? Atau cintaku? Tapi bukankah cinta itu tidak mengenal arah jatuhnya? Kepada siapa ia menuju, di sanalah ia menanamkan dirinya. Atau cinta itu harus kusetir-setir? Gila apa? Cinta itu kan dari hati, bukan dari otak. Maka ia harus dibiarkan terbang bebas, sampai ia menemukan tempat yang paling tepat untuk bersandar dan bernaung.

Jam di meja belajarku menunjukkan pukul dua belas malam. Aku hening bermenung. Lagi-lagi kurasakan malam terlihat begitu tergesa-gesa menggelindingkan tubuhnya di keluasan semesta. Seperti tak ingin merestui diri dan pikiranku. Atau jangan-jangan ia tahu apa yang ada di benakku saat ini? Aku mengangkat bahu, dan lalu merebahkan tubuhku di kasur. Pelan-pelan namun pasti, aku terbayang wajah kekasihku saat ini. Yang ada di luar kota.

Mendadak sebuah keraguan menyerangku lagi. Kali ini tidak main-main. Aku merasa ia sengaja membuatku tersudut dan tak bisa membela diri lagi. Tapi aku sedang rindu lelakiku itu. Dan kususun ingatanku tentangnya, berusaha tak memperdulikan rasa ragu di dadaku.

Aku sudah cukup lama mengenalnya. Kira-kira setahun lalu. Ia tertarik padaku, aku tertarik padanya, dan lahirlah bunga cinta di dalam hati kami berdua. Semua sangat membahagiakan. Namun, segalanya menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat, ketika aku kembali sadar bahwa ia adalah lelaki yang sudah beristri. Kadang ada saja rasa bersalah menyergapku. Membuatku tiba-tiba bersikap dingin padanya. Sementara bagian diriku yang lain seperti memaksaku untuk menabrak dan mengabaikan semua rasa bersalahku itu.

Kami memang tidak terlalu sering bertemu muka, tapi komunikasi kami sangat lancar dan teratur. Dan semua kerinduan di antara kami, terluapkan ketika ia menemuiku di kotaku. Kami mengobrol, bercumbu, bahkan bercinta. Mungkin ini sudah gila. Aku masih kuliah, dan itu berarti aku sedang membohongi keluargaku yang berada jauh dariku saat ini. Karena mereka tidak tahu sama sekali perihal hubunganku dengan lelaki ini. Lelaki yang sudah mempunyai istri. Ah, kalau mengingat hal ini, aku selalu ingin menangis. Tangisan karena cintaku yang kemungkinan besar tak akan bisa bersatu, juga tangisan untuk sikapku yang melakukan kesalahan besar. Ya. Mengganggu ketenangan rumah tangga orang lain. Ah, kau sudah menyadarinya rupanya. Salah satu sisi hatiku menegurku. Tentu saja, aku kan masih punya perasaan. Kalau begitu, lupakan lelaki itu. Aku diam. Sebagian hatiku mengiyakan usul itu. Dan sedikit banyak kujadian sebagai niat di hatiku. Tapi seketika rasa cintaku kembali meyakinkanku untuk tidak mengalah begitu saja. Lelaki itu mencintaiku, dan bukan istrinya. Kenapa aku tidak boleh mengharapkan dirinya di sisiku? Wah, kau ini plin-plan. Kadang tampak memiliki tekad bulat untuk meluruskan jalanmu yang keliru itu, tapi kadang bisa menjadi seperti orang yang tak berhati. Kalau saja orangtuamu tahu soal ini, mereka bisa sedih sekali. Benar. Tapi bagaimana dengan cintaku? Aku sudah terlalu sering mengalah demi orang lain. Mengorbankan cintaku. Apa aku harus mengalah lagi? Satu sisi hatiku yang menentang cintaku seolah tak perduli dengan keluhku tadi. Tuhan tahu semuanya, dan Ia pasti tidak menyukai dengan pilihan sikapmu yang begini. Lagi-lagi aku diam dalam kebingungan. Ragu dan terus ragu.

*****

Aku mengambil posisi tengkurap di kasurku sore ini. Jendela kamarku yang menghadap ke arah barat kubiarkan terbuka lebar. Kutunggui senja yang bergulir malu-malu. Kubuka catatan harianku dan mulai kutulis kisah-kisah hatiku.

Mana yang lebih berkuasa di bumi ini, manusia atau Tuhan?Entahlah. Barangkali tiap orang bisa punya jawaban yang berbeda dengan alasannya sendiri-sendiri. Tapi buatku, aku lebih disibukkan dengan pertanyaan: manakah yang lebih berkuasa di dalam jiwaku, Tuhan, atau aku sendiri?

Aku berhenti sejenak. Kembali melihat ke arah jendela kamarku. Matahari sudah tipis sekali. Aku tersenyum. “Indahnya”, kataku pelan. Kalau saja lelakiku ada di sini sekarang bersamaku menikmati perjalanan senja hari ini. Upps! Dia lagi.

Sudah tiga hari kekasihku berada di kota ini. Sudah sekian jarak kota kami susuri dengan kasih sayang yang tak putus. Aku haru dengan cintanya. Maka salahkah aku jika ingin mempertahankannya?

Aku berpikir. Dan sekali lagi satu sisi hatiku mengusik anak pikirku. Lihatlah dirimu. Betapa hinanya. Memikat suami seorang perempuan sunyi yang terus menanti kepulangan lelakinya. Untuk menawarkan lagi pelukan kerinduan yang tak berbalas. Aku tak menanggapinya. Air mataku tiba-tiba menitik. Yang aku sendiri tak tahu karena apa persisnya. Tapi terasa sangat perih. Beginikah sakitnya air mata istri lelakiku? Apakah malam miliknya sehambar yang kurasakan? Tidak. Perempuan itu telah menangis jauh sebelum kau mulai bisa menangis. Ia sudah merasa tak pernah memiliki malam lagi. Semua dirasanya hilang sejak lelakinya berpindah meniupkan cinta kepadamu. Begitukah? Apakah ia masih bisa menuliskan kesedihannya sepertiku selama ini? Egois! Perempuan itu terlalu rapuh untuk menuliskan kisahnya. Hatinya telah hancur. Semangatnya sirna. Lalu apa kau akan terus tertawa di atas tangisannya? Aku menundukkan kepalaku. Lihatlah ke luar. Seru hatiku. Aku memandang ke arah jendelaku. Lihat langit yang merah itu. Lihat dengan hatimu. Maka kau akan melihat wajah istri lelakimu. Wajah perempuan senja.

Aku tak kuat lagi. Aku berjalan ke arah jendela kamarku dan segera kututup tirainya. Mengapa kau tak mengerti aku? Mengapa tak kau lihat juga sakitnya hatiku berkali-kali melepaskan cintaku. Mengapa hanya kesedihan perempuan itu yang kau bela? Sisi hatiku yang lain memburu sisi hatiku tadi. Kau tak paham arti cinta. Jawab hatiku. Lalu semua sepi. Tak ada lagi perdebatan.

*****

Aku bertemu lagi dengan lelakiku pagi ini. Aku berniat untuk mengutarakan segala kegalauanku selama ini padanya. Namun setelah melihat wajahnya, mata teduhnya, dan sahaja cintanya, aku mengurungkan niatku itu. Ibarat dedaunan yang rontok di musim gugur, kegalauanku tertutupi oleh semua kasih sayangnya. Dan aku hanyut di pelukannya yang menghangatkan, menenangkan, sekaligus menguatkan. Bulat kembali keinginanku untuk melanjutkan cinta ini.

Malam harinya, aku mulai menulis catatan harianku. Kebiasaan rutin yang kulakukan sejak SMP.

Cinta. Barangkali aku harus menambahkan hal yang satu ini ke dalam pertanyaan lamaku. Manakah yang lebih berkuasa di dalam jiwaku, Tuhan, aku sendiri, atau malah cinta?

Aku selalu saja menjadi kuat setiap kali aku berhadapan langsung dengan cinta. Dengan keyakinanku memeluknya. Termasuk hari ini. Cinta telah menggantikan seluruh galau dan sedihku menjadi tawa. Tak ada duka. Meskipun cinta ini tanpa kata-kata. Hanya sebuah pelukan. Tatap mata. Kecupan. Tapi sungguh, aku kuat karenanya.

Tapi, Tuhan, dimanakah Kau saat ini berada di diriku?

Dan, satu sisi hatiku, di mana pulakah dirimu, sayangku? Mengapa kau begitu sunyi? Oh, tidak. Aku bukan merasa kehilanganmu. Hanya sedikit merindukan. Padahal kau biasanya sangat sering meributkan sikap dan pilihan langkahku.

Kuhentikan menulis. Telepon genggamku berdering. Kuangkat. Terdengar suara lelakiku di seberang. Mengajakku bertemu malam ini. Aku mengerutkan kening. Ada apa? Tumben. Pikirku. Ini pertama kalinya ia mengajakku bertemu malam hari. Kulirik jam kecil di mejaku, jam setengah sembilan. Ah, sebentar lagi kostku tutup, batinku. Tapi, aku bersiap juga dan menunggu lelakiku menjemputku.

Kami mengukur jalan, dengan diikuti senyapnya udara kota. Lelakiku tampak semakin mempesona. Barangkali begitu juga ia merasa atasku. Kendaraan melaju sedang. Kami bercengkrama dalam diam. Malam telah larut, artinya aku tidak akan pulang ke kost malam ini. Tapi aku memang tidak ingin berpisah dengan lelakiku malam ini. Apalagi mengingat besok pagi ia sudah harus kembali ke kotanya.

Di depan sebuah rumah, kami menghentikan kendaraan dan masuk ke dalam rumah itu. Aku masih sedikit bingung, tak mengenal rumah siapa itu.

“Ini rumahku. Aku membelinya. Masuklah.”

Lelakiku tampaknya menangkap pertanyaanku dari raut wajahku.

Aku melangkah masuk.

Kami duduk di ruang tengah. Tak ada perbincangan, hanya saling bersitatap. Aku berdiri. Lelakiku pun berdiri. Kami berpelukan cukup lama. Seperti saling memberi kekuatan atas kegalauan yang mungkin diam-diam kami pelihara di dada kami masing-masing. Aku menitikkan air mataku. Lelakiku menciumku. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Malam menjadi begitu mengharukan. Kurasakan waktu yang berjalan dengan gigil seraya memperhatikan kami.

Di antara derai hujan, seketika kudengar sisi hatiku bersuara. Kembali. Kembali ke niatmu itu. Aku kaget. Apa? Sadarlah. Tetapi suara hatiku tertelan oleh sebuah pelukan dan kecupan yang menimpaku.

*****

Hari sudah pagi. Aku terbangun dari tidurku. Lelakiku tampak sudah berpakaian rapi. Kulihat diriku yang masih terbungkus selimut tebal. Kesadaranku muncul ketika kutemui diriku dalam keadaan bugil. Ah, aku melakukannya. Batinku lirih. Lelakiku mendekat dan mencium keningku. Aku tak tahu harus berkata apa. Pikiranku terasa sesak oleh berbagai hal. Ruwet. Bercampur dengan rasa ketakutanku mengingat semua yang telah terjadi.

Malam datang lagi. Lelakiku telah pergi. Kembali ke kotanya. Kembali ke istrinya. Aku mengingat lagi perbincangan kami yang terakhir sebelum lelakiku meninggalkanku.

“Maafkan aku.” katanya seraya membenamkanku di pelukannya.

“Aku tahu.”

“Kita tidak bisa bersatu.”

Aku menganggukkan kepalaku.

“Salahku.” bisikku padanya.

“Tidak.”

Lelakiku menatap tajam mataku. Masih ada cinta di dalamnya. Aku sibuk menahan tangisku. Dan perpisahan pun terjadi. Aku tak tahu pasti. Mungkin ini untuk seterusnya. Entahlah.

Aku sudah tak tahu harus bagaimana menyambut malam ini. Semua terasa sangat berbeda. Bulan purnama, dikelilingi barisan bintang yang menghujamkan sinarnya ke dalam kamarku. Aku mengambil catatan harianku dan menulis.

Tuhan, kau telah kalah kemarin malam. Aku kehilangan satu hal penting dari diriku. Sungguh, aku sendirikah yang berkuasa atas diriku? Dan bukan Kau?

Aku menangis. Membasahi catatanku.

Cinta, kau seperti rintik hujan kemarin. Datang dan pergi. Membahagiakan, dan melukai. Sampai kapankah?

Hatiku, kau menang dan juga kalah. Semua berakhir. Kekeliruan ini, dan juga diriku. Semuanya.

Aku menangis sesenggukan. Kepalaku sakit sekali. Tapi masih keteruskan menulis sedikit lagi.

Tuhan, kau kalah lagi.

Kuarahkan sebuah pestol ke dadaku. Kutarik pelatuknya, dan….

Semua mendadak gelap. Rumah kostku terasa menjadi begitu ramai. Ada bayangan teman-temanku. Tapi aku merasakannya sebagai sunyi. Sunyi yang makin lama makin menakutkan. Kuingat sesaat lelakiku. Ia pasti kembali. Pikirku. Saat ia sadar pestolnya tidak ada di kopernya. Barangkali sebentar lagi. Aku tersenyum. Teringat tubuh gagahnya yang terbalut seragam penuh bintang jasa.

Yogyakarta, Juni 2003


Matinya Seorang Penulis Muda


Bunyi dering telepon membuyarkan semua khayalanku malam ini. Aku agak kaget juga mendengarnya. Rupanya tadi aku benar-benar sedang terlena dengan segala imajinasiku. Mungkin karena aku sempat masuk terlalu jauh ke dalam khayalanku itu. Kulirik sekilas jam yang tergantung di dinding kamarku, sudah jam dua belas malam.

Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya kuangkat juga telepon itu. Pasti orang itu lagi. Pikirku. Siapa sih orang itu? Lha, mana kutahu. Orang gila mungkin. Masak orang gila bisa begitu lancar bicara tentang banyak hal? Bisa saja, kan. Tapi kalau kudengarkan suara dan gaya bicaranya, sepertinya dia tidak gila. Bahkan kadang dengan terpaksa harus kuakui kalau dia itu cerdas juga. Beberapa kali aku terpengaruh dengan topik pembicaraannya. Tapi siapa orang itu? Aku juga mau tahu soal itu. Yang pasti dia melakukan semua ini bukan karena jatuh cinta padaku. Karena kami sama-sama laki-laki. Ini bukan pertama kalinya dia meneleponmu kan? Ya, benar. Aku hampir lupa tentang yang satu ini. Dia memang sudah sering sekali meneleponku. Barangkali sudah lebih dari sepuluh kali. Apa kau tidak terganggu? Terganggu juga. Malah awalnya aku sempat ketakutan dengan teleponnya. Tapi sekarang aku sudah terbiasa. Kuanggap saja dia itu sakit. Hem..ya, orang sakit. Mungkin lebih tepat kukatakan begitu. Kira-kira apa tujuannya melakukan semua ini padamu? Entahlah. Yang pasti dia punya daya imajinasi yang lumayan juga. Sejalan denganku. Kalau kupikir, dia berbakat untuk jadi penulis sepertiku. Jadi dia penulis? Tidak tahu. Aku bilang dia berbakat untuk itu. Bukan berarti dia penulis. Atau dia itu salah satu penggemarmu? Mungkin saja. Lalu apa aku harus senang atau marah dengan kehadiran penggemar yang sakit jiwa begitu? Kau nikmati saja dulu.

Telepon masih berdering. Aku tersentak. Tidak perlu terlalu dipikirkanlah. Lagipula, toh aku memang suka dengan segala bentuk situasi yang misteri sekaligus mencekam. Ini tantangan tersendiri buatku. Dan kalau memang dia penggemarku, berarti dia berhasil mengenalku dengan cukup baik. Atau minimal kami punya kesukaan yang sama dalam hal penulisan.

“Hallo.”

“Hallo, penulis.”

“Ya.”

“Kau siap menulis cerita baru lagi?”

“Aku kan selalu menulis.”

“Bagus.”

Aku diam tidak menanggapi perkataan lelaki itu. Aku mencoba mengenali suaranya. Kurasa usia lelaki itu tidak terlalu jauh berbeda denganku. Mungkin hanya berada di atasku beberapa tahun. Sekarang usiaku 21 tahun. Kuperkirakan lelaki itu paling tua berusia sekitar 28 tahun. Suaranya terdengar sangat tegas. Aku penasaran juga untuk mengetahui seperti apa sebenarnya lelaki ini. Ah, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya? Pasti dia tidak akan mau.

“Dengarkan ceritaku sekarang.”

“Tunggu. Kenapa aku harus mendengarkanmu?”

Aku agak kesal juga dengan bahasanya. Memang aku siapanya? Pembantunya? Seenaknya saja menyuruh-nyuruh begitu.

“Dengarkan saja!”

Sialan, makiku dalam hati. Hampir saja aku terpancing untuk beradu mulut dengannya, tapi kutahan perasaanku. Ini hanya orang sakit, kenapa aku harus membuang-buang tenagaku untuk bertengkar dengannya? Dan lagi bagaimanapun aku ingin tahu juga apa lagi yang akan dibicarakannya malam ini. Sudah terlalu banyak yang ia ceritakan selama ini. Sepertinya stok cerita yang ia punya masih banyak lagi. Kadang aku tertarik juga. Tapi kadang tidak sama sekali. Terutama kalau kurasa ia sudah terlalu berlebihan dalam mengkhayalkan sesuatu. Entah untuk malam ini.

“Kau suka darah kan?”

“Apa maksudmu?”

“Tulisan-tulisanmu. Sangat mencekam.”

“Lalu?”

“Begini, dengarkan aku.”

Aku hanya menggumam membalas ucapannya. Lelaki ini tampaknya mengikuti perkembanganku sejak awal aku jadi penulis. Dia tahu betul tentang tema-tema tulisanku. Memang kebanyakan kuceritakan dengan gaya yang mencekam. Kebetulan aku suka dengan suasana seperti itu. Dan aku yakin kalau orang yang suka meneleponku ini juga menyukai hal yang sama denganku.

Sekitar lima belas menit lelaki itu berbicara di telepon. Sedang aku lebih banyak diam. Dengan antusias ia bercerita tentang kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pemuda di rumahnya sendiri. “Sebenarnya dia pemuda yang cerdas.” katanya. “Lalu?” tanyaku. “Tunggu. Dia melakukannya dengan ditonton oleh lima orang temannya. Pemuda itu yang mengundang kelimanya. Dia mau menunjukkan bagaimana proses kematian itu terjadi.” Aku mulai terbawa ke dalam imajinasi gila lelaki itu. “Salah satu temannya merekam kejadian itu. Mereka melihat dengan jelas ketika pemuda itu mulai menyayat-nyayat tangannya. Darah menetes di sepanjang karpet di lantai kamar. Pemuda itu masih bisa tertawa, bahkan ia sempat tersenyum saat kamera kecil menyorot ke arah wajahnya yang berkeringat.” Aku menggumam pelan. “Dan pemuda itu memotong satu persatu kakinya hingga putus...” Tiba-tiba lelaki itu tertawa. Karena kaget aku menjauhkan gagang telepon dari telingaku.

“Sialan. Kenapa tertawa?”

“Kau takut?”

“Apa?”

“Ceritaku.”

“Tidak mungkin aku takut.”

“Bagus. Sekarang kembangkan ceritaku itu.”

“Kenapa aku harus menurutimu?”

“Tuliskan saja!”

Klik. Telepon mendadak mati. Lelaki itu memutusnya tanpa memberi tanda dulu. Dasar sakit! Makiku.

Aku marah-marah pada diriku sendiri yang mau-maunya meladeni kegilaan lelaki itu. Jangan-jangan aku ketularan gila lagi.

Kuputuskan untuk tidak menulis dulu malam ini. Kuingat lagi perjalanan karirku sebagai penulis. Belum lama. Baru sekitar dua setengah tahun yang lalu. Sampai lelaki si penelepon itu masuk dalam kehidupanku, dan selalu mengusik jam-jam malamku. Memaksaku untuk menuliskan cerita yang di bicarakannya di telepon. Aku tidak pernah tahu apa maksudnya. Yang jelas, dia tahu semua karya-karyaku yang pernah terpublikasikan. Kalau begitu benar dia penggemarmu. Ya, penggemar yang sakit jiwa. Kelihatannya dia sangat mengagumimu sebagai seorang penulis. Buktinya dia sampai tahu jam-jam kau biasa menulis. Maksudnya? Dia selalu meneleponmu tepat tengah malam, kan? Iya. Lalu kenapa? Dia tahu persis kalau kau selalu bekerja pada waktu tengah malam. Makanya dia meneleponmu pada jam-jam segitu. Benar juga. Apa dia orang dekatku? Harusnya kau bisa mengenalinya. Sayangnya aku tidak tahu hal itu. Suaranya saja terasa sangat asing di telingaku. Tapi sudahlah, toh dia tidak berbuat yang macam-macam.

****

Aku berbaring di tempat tidur kamarku sambil memegang majalah yang memuat tulisanku. Kubaca lagi ceritaku itu untuk kedua kalinya. Aku teringat pada lelaki yang sering meneleponku. Cerita ini merupakan pengembangan imajinasiku atas apa yang dibicarakan oleh lelaki itu ketika terakhir meneleponku sekitar tiga minggu yang lalu. Lama juga lelaki itu tidak menghubungiku, pikirku. Tapi aku sendiri bingung kenapa aku bisa terpengaruh pada kegilaan lelaki itu. Aku menurutinya untuk menuliskan ide cerita darinya. Apa-apaan ini? Apa aku sudah ketularan sakit jiwa sepertinya? Padahal selama ini aku hanya menganggap telepon-telepon dari lelaki itu sebagai hiburan semata. Untuk mempertajam kemampuanku menuliskan cerita dengan suasana yang mencekam, seperti yang kuinginkan setiap sedang membuat sebuah tulisan baru. Tapi, dengan memakai ide dari lelaki itu? Aku benar-benar tidak habis fikir bagaimana aku bisa memenuhi keinginan orang sakit itu. Tapi kau kan tidak rugi memakai ide dari lelaki itu? Apa? O,ya. Benar. Memang aku tidak rugi. Hanya merasa sedikit aneh saja.

Malam ini aku tidak menyangka kalau lelaki itu akan meneleponku lagi. Sudah cukup lama kamar ini sepi dari dering telepon pada jam dua belas malam. Aku ragu apakah aku harus mengangkat telepon itu atau tidak. Tapi kenapa kamu ragu? Tidak tahu. Aku hanya tidak mau terjebak dalam permainan gila lelaki itu. Sepertinya ada yang menyuruhku untuk tidak melanjutkan hal yang tidak masuk akal ini. Begitu rupanya. Kalau begitu kau tidak perlu mendengarkan cerita-cerita gilanya lagi. Cukup kau angkat telepon itu dan melupakannya. Kulihat kadang diam-diam kau merindukan kehadiran telepon dari lelaki itu juga. Itu memang benar. Tapi...baiklah, aku akan mengangkatnya.

“Hallo.”

“Lama sekali.”

Lelaki itu tampak tak sabar karena aku membiarkannya menunggu.

“Aku sedang sibuk.”

“Apa kau sedang menulis?”

“Begitulah.”
”Apa kau menulis tentang pembunuhan?”

“Bukan.”

“Apa yang kau tulis?”

“Tentang cinta.”

“Aku tahu. Persetubuhan?”

“Kurang lebih.”

“Juga dengan kematian?”

“Mungkin.”

Aku kurang suka orang ini bertanya terlalu banyak tentang tulisanku yang sedang kugarap saat ini.

“Tetap dengan kekuatanmu itu, kan?”

“Maksudmu?”

“Suasana mencekam. Begitu?”

“Ya.”

“Hebat. Apalagi kau masih muda.”

“Hem.”

“Kau berhasil.”

“Aku?”

“Ya. Juga tulisanmu di majalah itu. Kau menuliskan ide ceritaku. Hebat. Kau membuatnya dengan sangat berhasil.”

“Terima kasih. Itu idemu.”

“Kau masih punya kekuatan besar untuk membuat yang lebih dari itu.”

“Ya.”

Aku menjawab dengan asal-asalan. Aku tidak tahu harus bicara apa dengan lelaki itu.

“Sungguh. Tulisan-tulisanmu benar-benar dahsyat. Hebat!”

Aku agak risih juga dengan pujiannya yang seperti itu. Orang ini sangat aneh, pikirku. Aku semakin tidak mengerti dengannya. Kadang aku yakin kalau dia ini hanya penggemarku yang pandai dalam berimajinasi. Tapi kadang ia tampak seperti seorang penulis seperti halnya aku. Atau malah sekarang dia berbicara seolah-olah sangat mengerti tentang mutu sebuah tulisan. Sebenarnya siapa orang ini?

“Apa kau penulis juga?”

“Wow. Kau bertanya tentangku.”

Nah, ini dia. Dia langsung mengerti kalau aku ingin mencari tahu tentang dirinya. Cerdas juga.

“Bukan. Aku bukan penulis.”

“Lalu siapa kau?”

“Penggemarmu.”

“Kenapa kau meneleponku terus-menerus?”

“Kenapa? Kau takut?”

“Tidak ada alasan untuk takut padamu.”

“Bagus. Sekarang dengarkan aku.”

Aku sudah hafal dengan bahasanya yang seperti ini. Pasti sebentar lagi dia akan menguraikan ide cerita gilanya lagi.

“Kalau aku tidak mau?”

“Dengarkan aku!”

Aku terkejut dibentaknya seperti itu. Apalagi malam sudah begitu sunyi. Tak ada suara keriuhan lagi di sekitar rumahku. Kelihatannya para tetangga telah terlelap dalam mimpinya masing-masing. Tinggal teriakan-teriakan burung malam memecah keheningan suasana yang terdengar dari kejauhan. Aku bertambah kaget ketika hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Angin kencang menelusup masuk di antara celah-celah ventilasi jendela kamarku. Aku memegang gagang telepon seraya merapatkan dudukku di atas tempat tidur. Kutunggu lelaki itu bicara lagi.

“Apa disana turun hujan?”

“Ya.”

“Bagus. Suasananya sangat mendukung.” Nada bicaranya kembali datar. “Lampu di kamarmu masih menyala?”

“Ya.”

“Matikan.”

“Kenapa?”

“Matikan saja.”

Aku pun mematikan lampu kamarku. Lagi-lagi aku menuruti kemauan lelaki itu. Entah kenapa.

“Sekarang dengarkan aku.”

“Apa?”
“Bagaimana jika ada seorang pembunuh yang mendobrak masuk ke dalam kamarmu saat ini? Lihat ke jendela kamarmu. Lihat benar-benar. Seorang laki-laki berwajah garang sedang menunggumu di luar sana. Ia menunggumu sampai kau tertidur. Di tangannya terselip sebilah pisau yang sangat tajam. Kau lihat dia?”

Aku heran dengan cerita lelaki itu kali ini. Apa dia bermaksud menakut-nakutiku?

“Tidak ada siapa-siapa di sana. Kau tak bisa menakut-nakutiku dengan cara murahan seperti ini.”

“Lihat lebih jelas. Lelaki itu kadang menutupi wajahnya dengan kain hitam. Kau tidak akan dapat mengenalinya. Dia berdiri di sisi luar dinding kamarmu. Sudah lama sekali dia memperhatikanmu dari sana.”

“Kau sudah gila.”

Aku mulai muak dengan cerita lelaki itu.

“Tidak. Kau tidak boleh takut. Lelaki itu akan menunggumu tidur. Dia tidak akan masuk ke kamarmu selagi kau masih terjaga. Tenang saja. Dia sangat setia berada di sana. Tapi berhati-hatilah. Mungkin bisa saja dia masuk sebelum kau tidur. Tergantung suasana hatinya. Tapi yang ku tahu dia lebih suka padamu kala kau tertidur.”

“Kenapa?”

“Saat kau tertidur, dia akan masuk dan merobek-robek tubuhmu dengan pisaunya. Kau tahu?”

“Apa?”

“Laki-laki itu sangat haus darah. Dia sepertimu. Sangat menyukai pembunuhan. Lihat dengan jelas. Laki-laki itu sudah terlalu lama berada di dekatmu. Kupikir dia takkan tahan untuk menunggu lebih lama lagi. Jangan gegabah. Kau tidak mengenalnya. Dia takkan segan-segan menghancurkan tubuhmu dengan pisau di tangannya. Dia pembunuh. Sudah banyak yang dibunuhnya selama ini. Tapi dia sangat penasaran denganmu.”

“Aku?”

“Ya. Dia ingin tahu bagaimana rasanya membunuh orang yang juga menyukai pembunuhan.”

“Sudah. Aku tidak ada waktu meladeni kegilaanmu ini.”

“Kau takut?”
“Tidak.”

“Bagus. Kau akan membuat permainan ini semakin mengasyikkan.”

“Permainan apa?”

“Bukankah kau suka dengan suasana yang mencekam seperti ini?”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Baiklah. Sekarang nyalakan lampu kamarmu.”

“Untuk apa?”

“Menulis! Tuliskan ceritaku tadi. Ketikkan!”

“Mengapa tidak kau tuliskan sendiri?”

“Kubilang tuliskan! Laki-laki di balik dinding kamarmu dapat menunggu. Masih ada waktu. Sekarang menulis saja!”

Telepon dimatikan. Lagi-lagi tanpa bicara dulu. Aku semakin kehilangan gambaran tentang siapa lelaki yang suka meneleponku itu.

****

Hari demi hari berlalu. Aku masih tetap menulis. Bukan menulis cerita dari ide lelaki yang suka meneleponku itu, tapi menulis ceritaku sendiri. Aku sedikit melupakan tentang lelaki penelepon itu. Lagipula tidak ada waktu untuk memikirkan kegilaan lelaki itu. Buang-buang waktu saja. Benarkah begitu? Bukankah lelaki itu punya daya imajinasi yang luar biasa? Biasanya kau suka bergaul dengan orang-orang seperti itu. Dan lagi, apa kau lupa kalau kau sendiri mendapat predikat penulis gila? Kenapa kali ini kau tidak menyukainya? Atau kau takut? Apa dia berhasil membuatmu ketakutan dengan cerita-ceritanya yang mencekam? Mustahil. Aku tidak pernah takut dengan apapun. Aku hanya tidak suka dengan caranya. Seperti menerorku. Tapi benarkah cuma karena itu? Ya. Tapi semua itu tidak akan mengganggu penulisanku. Kau yakin? Tentu saja. Aku tahu bagaimana mengatasi segala keadaan.

Malam ini, jam dua belas lewat dua menit. Kriiiing... Telepon di kamarku berbunyi nyaring. Nyaris aku terloncat karena kagetnya. Maklum, aku sedang berdiam diri memikirkan sebuah ide baru untuk ceritaku. Kuangkat tanpa pikir panjang lagi.

“Ya, hallo.”

“Kau tidak menuliskan ceritaku waktu itu.”

“Memang.”

“Tuliskan sekarang!”

Suara lelaki itu sangat tidak bersahabat. Aku sedikit keder juga. Suaranya terdengar lebih tegas dan keras dari biasanya.

“Kenapa aku harus menurutimu?”

“Kau tak perlu tahu. Aku tunggu hasilnya.”

“Aku tidak suka disuruh-suruh seperti ini.”

“Tuliskan saja.”

“Siapa kau sebenarnya?”

“Itu tidak penting. Tugasmu hanya menulis.”

Aku mengernyitkan dahiku. Apa sih maunya orang ini. Aku jadi kesal dengan cara bicaranya. Apa yang dia inginkan dariku? Barangkali dia hanya penggemarmu yang mengagumimu secara berlebihan. Artinya dia sakit kan? Mungkin bisa dikatakan begitu. Sudah pasti begitu. Dan aku sudah muak dengan tingkahnya yang semakin mengada-ngada. Kau terganggu oleh ulahnya? Ya. Sekarang aku sangat terganggu dengan tingkahnya ini. Kau bisa memarahinya, atau semacamnya. Kau bisa juga mengatakan padanya untuk tidak meneleponmu lagi selamanya. Terserah bagaimana caramu. Tidak terlalu susah untuk membentaknya sekali dua kali. Pasti dia akan berhenti mengusik malam-malammu. Benar juga, akan kucoba.

“Apa yang kau mau dariku?”

“Aku mau kau menulis.”

“Kau bisa menulis ceritamu sendiri.”

“Kau penulis hebat. Aku mau kau yang menuliskannya.”

Aku diam saja. Tidak memperdulikan perkataan lelaki itu.

“Kau tidak mau menuliskannya?”

“Tidak.”

“Apa kau tidak takut?”
“Takut apa?”

“Lelaki yang berjaga di luar kamarmu.”

“Tidak. Itu khayalanmu.”

“Aku? Berkhayal?”

“Ya.”

“Kau tidak mengenalku.”

“Aku tidak peduli.”

“Lelaki itu bisa menyerangmu sewaktu-waktu.”

“Aku tak tahu kau bicara apa.”

“Tuliskan ceritaku.”

“Tidak.”

“Kau akan menyesal menolaknya.”

“Lebih baik kau berhenti menggangguku.”

“Jadi kau terganggu?”

“Ya.”

“Sepertinya kau takut.”

“Jangan bercanda.”

“Kau takut dengan ceritaku. Kau takut dengan lelaki yang ada di luar kamarmu. Yang siap membunuhmu kapan saja saat kau tertidur. Kau takut ia membuat tubuhmu berantakan. Takut melihat isi perutmu berhamburan di depan matamu sendiri. Kau takut pisau tajam itu mengiris-iris seluruh tubuhmu. Benar begitu kan?”

“Kau sudah gila.”

“Apa kau takut mati?”

“Tidak.”

Aku kesal tak dapat membuat lelaki itu berhenti bicara. Sementara malam semakin larut. Walaupun aku tidak merasakan kantuk, karena kekesalanku pada lelaki itu yang tak dapat kutahan lagi. Kulempar pandanganku ke arah jendela kamarku. Aku melihat ke luar. Suasana sangat sepi. Bahkan suara hewan-hewan malam pun tak terdengar sama sekali. Suasana yang sebenarnya sangat kondusif untuk aku menulis. Tapi karena telepon dari lelaki gila itu, aku tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hariku itu.

“Apa kau tidak ingin merasakan mati itu?”

“Apa maksudmu?”
“Kau harus tahu untuk dapat menuliskannya dengan baik.”

“Kau menyuruhku mati?”

“Tidak. Tapi aku bisa membantumu untuk itu.”

“Gila.”

“Apa kau tidak ingin merasakannya?”

“Sudahlah.”

Tiba-tiba tawa lelaki itu meledak. Aku semakin kesal dibuatnya.

“Malam ini sepi sekali bukan?”

“Hem.”

“Lihat ke luar jendela.”

Aku menoleh ke jendela lagi dengan malas. Masih sepi seperti tadi. Tidak ada apa-apa di luar sana. Tapi...tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras sekali dari atas atap kamarku. Sepertinya ada sesuatu yang jatuh dari atas tepat di depan jendela kamarku. Betapa kagetnya aku saat itu. Jantungku berdebar kencang. Apa yang jatuh tadi? Aku mencoba menenangkan diriku seraya berpikir. Mungkin saja hanya kucing tetangga. Ya, mungkin. Tapi setahuku tidak ada tetanggaku yang memelihara kucing. Jadi itu tadi suara apa? Tidak tahu ah. Sudah, tidak usah dipikirkan. Kau kan bukan penakut. Benar, aku bukan penakut.

“Tidak ada apa-apa di sana.”

Aku mencoba membuat agar suaraku terdengar wajar dan tak berubah. Lelaki itu tertawa lagi. Kali ini lebih keras.

“Kau tampak ketakutan sekali.”

“Tidak.”

“Ternyata kau tidak biasa berada dalam posisi sebagai tokoh cerita dalam tulisan-tulisanmu.”

“Bukan urusanmu.”

Aku memilih menutup teleponku lebih dulu kali ini. Kucabut kabelnya. Aku ingin istirahat. Lelaki itu sudah kelewatan. Kututup mataku, dan berusaha menikmati tidurku.

****

Sudah lama aku tidak menerima telepon dari lelaki yang sebelum ini sering menggangguku. Tapi malam ini tampaknya aku harus merelakan diri untuk menemui kegilaannya lagi.

Telepon berdering. Aku mengangkatnya. “Hallo.” Tak ada jawaban. Lalu telepon dimatikan begitu saja. Kulirik jam dinding, jam sebelas malam. Siapa sih yang iseng malam-malam begini? Mana hujan dari tadi sore turun dengan derasnya. Aku sampai hampir tak mendengar dering teleponku sendiri.

Krriiiing... Telepon berdering lagi. Tapi setelah kuangkat, sekali lagi telepon itu langsung dimatikan. Aku merasa sedikit tidak tenang. Entah kenapa. Perasaanku mengatakan ada yang tidak beres akan terjadi di sini. Tapi apa? Ah, ini cuma perasaanku saja. Aku berusaha mengabaikannya. Kuambil sebuah buku, dan kubaca sambil berbaring di tempat tidur. Lagi-lagi teleponku berdering. Kubiarkan berbunyi beberapa lama. Setelah yakin itu bukan telepon iseng, aku mengangkatnya.

“Hallo.”

“Malam, penulis muda.”

Aku sangat kenal dengan suara ini. Lelaki itu.

“Ada apa?”

“Kau belum menuliskan ceritaku yang dulu.”

“Sudah kukatakan aku tidak mau menulisnya.”

“Hem.”

Ini pertama kalinya lelaki itu berdehem.

“Kau penulis yang berbakat. Aku suka caramu menulis.”

Kubiarkan ia bicara.

“Sayang kau tidak mau menuliskan ceritaku yang waktu itu. Sayang sekali.”

Aku tetap diam. Dan lelaki itu pun ikut diam beberapa saat.

“Apa kau pernah membayangkan masuk dalam cerita yang kau tulis?”

“Apa?”

“Ya. Apa kau pernah berpikir untuk menjadi pembunuh?”

“Tidak.”

“Bagaimana kalau kau terpaksa melakukannya?”

“Aku tidak mau membicarakan hal ini.”

“Tapi kau menuliskan hal itu. Dengan penggambaran suasana mencekam yang sangat bagus sekali. Seolah-olah kau berada di sana. Di dalam ceritamu. Seolah-olah kau adalah seorang pembunuh. Atau orang yang akan dibunuh.”

“Lalu?”

“Kau tak kan takut darah bukan? Seperti aku juga. Aku tidak takut darah. Aku suka darah. Juga pembunuhan, seperti yang kau tuliskan dalam ceritamu. Aku suka tempat-tempat yang juga kau suka. Kita sama-sama menyukai tempat-tempat yang sepi. Yang dapat membuat tubuh kita bergetar. Bergidik.”

“Kau terobsesi cerita-ceritaku.”

“Benar!”

“Gila.”

“Aku memang terobsesi semua ceritamu. Suasana mencekam yang kau tuliskan. Kau sudah mulai mengenalku rupanya.”

“Aku tak mengerti. Apa maumu?”

“Aku mau kau menemaniku.”

“Ha?”

“Temani aku menciptakan suasana itu.”

“Kau ini sakit jiwa.”

“Lihat kesana. Ke luar jendela kamarmu. Sebentar lagi lelaki itu akan mendobrak masuk ke kamarmu. Ia sudah tak bisa menunggu lagi. Pisau di tangannya sudah siap menikam seluruh tubuhmu.”

“Aku tidak sempat bermain-main denganmu.”

“Kau takut.”

“Aku tidak takut.”

“Termasuk kepadaku?”

“Ya.”

“Kau yakin?”
“Tentu saja.”

“Aku bisa membunuhmu sekarang kalau aku mau. Tak perlu menunggumu tertidur.”

“Begitu?”

“Ya. Kau akan tahu bagaimana asyiknya berperan dalam ceritamu sendiri.”

“Kau tergila-gila pada tulisanku.”
“Benar.”
“Juga pada pembunuhan?”
“Itu yang paling kusukai.”

“Hem.”

“Aku sudah pernah membunuh orang. Tapi aku ingin melakukannya denganmu.”

“Kenapa?”

“Kau penulis cerita itu. Pasti akan lebih seru, kan?”

“Kau benar-benar sakit.”

“Apa kau tidak?”

“Lantas apa maumu sekarang?”

“Tidak ada. Lihat saja ke arah jendela kamarmu.”

Telepon terputus tiba-tiba. Aku melihat ke arah jendela kamarku. Dua jendela berukuran besar dengan kaca tebal tertutup tirai berwarna kuning gading. Semua sepi. Tak ada apa-apa. Aku yang sudah gila, terpengaruh pada orang sakit seperti lelaki yang meneleponku tadi.

Tapi betapa kagetnya aku, ketika kudengar suara sebuah alat cukup besar berusaha memecahkan jendela kamarku dengan paksa. Aku berdiri dari tidurku. Kuatur jantungku yang mulai berdetak sangat kencang. Aku sampai susah menyusun nafasku. Aku tak menyangka semua akan jadi kenyataan. Tak lama kemudian, seorang lelaki tinggi besar telah berada di depan jendela kamarku menghadap ke arahku. Tangannya memegang sebilah pisau berukuran sedang. Pandangannya tajam. Tapi pisau di tangannya pasti lebih tajam lagi. Sinar bulan yang menerobos masuk ke kamarku menimbulkan kilauan cahaya pada mata pisau milik lelaki itu.

Lelaki itu berjalan mendekatiku. Kulihat seutas senyum kecil terbersit di bibirnya. Apa orang ini yang sering meneleponku, termasuk malam ini? Aku mulai melihat raut wajahnya dengan jelas ketika ia sudah semakin dekat denganku. Ada kegilaan yang terpancar dari mimiknya. Kalau memang lelaki ini adalah penelepon itu, berarti aku benar. Lelaki ini pasti sakit jiwa. Jadi sekarang aku akan dibunuh oleh orang gila? Sialan. Padahal karirku baru saja kumulai. Kenapa aku harus mati dengan cara seperti ini? Sungguh tak pernah kusangka aku akan menjadi korban dari tulisanku sendiri.

Tangan lelaki itu mulai bergerak. Tampaknya ia tak mau membuang-buang waktu lagi. Bahkan untuk membiarkanku sekedar berpikir bagaimana caranya untuk melawan, atau mencari cara menyelamatkan diri. Sepertinya ia sudah sangat ingin merobek-robek tubuhku malam ini. Ia melangkah maju dan menerjangku. “Saatnya bermain.” katanya. Gila! Dia pikir ini permainan. Aku bergumul dengannya di kamarku. Ia mengayunkan pisaunya ke arah dadaku. Aku menahan sakit, sebelum ia menikamkan pisaunya lagi ke arah tangan dan kakiku. Aku mati, pikirku. Aku mati di tangan penggemarku yang sakit jiwa. Tubuhku benar-benar sudah tak dapat bergerak lagi. Sempat kulihat terakhir kali lantai kamarku yang putih berubah menjadi merah darah. Aku pusing. Entah jam berapa sekarang. Tapi aku mengantuk sekali. Kututup kedua mataku rapat-rapat. Kubiarkan lelaki itu sendiri. Pasti dia mau merayakan kemenangannya di permainan ciptaannya ini. Atau mungkin dia akan menuliskannya menjadi sebuah cerita? Entahlah. Aku butuh istirahat. Pergumulan barusan benar-benar melelahkan.

Yogyakarta, Juni 2003


PERMAINAN TEMPAT TIDUR


Saat ini mungkin hampir tengah malam. Aku berjalan masuk ke sebuah rumah dalam keadaan setengah mabuk. Seorang lelaki melingkarkan tangan kanannya ke pundakku dengan mesra. Setelah ia menutup dan mengunci pintu depan, kami berdua menuju kamar tidur lelaki itu. Aku sempat melihat beberapa ruangan berukuran kecil kulewati sebelum kami benar-benar masuk ke kamar.

Di kamar, kami tak henti-hentinya bercengkerama. Ia menarik tubuhku tepat ke hadapannya dan memelukku dengan sangat erat. Dapat kurasakan dengan jelas hembusan nafasnya menyentuh wajahku. Ditempelkannya bibirnya ke bibirku dan serentak lidah kami pun telah bergulat dalam satu ciuman panjang. Aku tak keberatan. Ini hanya ciuman, pikirku. Tidak akan membuat aku hamil. Lagipula aku sudah cukup lama mengenal laki laki ini. Dia temanku. Maka aku bisa dengan mudah menerima dan membalas keintiman yang ia ciptakan malam ini. Aku pun menyukainya. Kuakui itu.

Setelah beberapa lama, lelaki itu membaringkan tubuhku di tempat tidur sempit yang ada di kamarnya. Aku sudah tahu persis apa yang ada di pikirannya. Meskipun aku agak sedikit pusing karena pengaruh alkohol yang kuminum tadi, tapi tingkat kesadaranku masih cukup baik. Dan aku sudah hafal dengan permainan tempat tidur seperti ini. Apalagi ini bukan kejadian yang pertama kalinya. Aku santai saja dan membiarkan lelaki itu melanjutkan keinginannya. Tapi tiba-tiba kudengar suara yang terus-terusan mencoba memberiku peringatan untuk bersiap-siap mengerem semuanya sebelum terlanjur. Aku sering merasa muak dengan kehadiran suara ini. Sebuah suara yang mungkin lebih kudengar jelas dengan memakai pendengaran batinku. Karena telingaku sendiri tidak mendengar apa-apa. Termasuk saat ini. Dua telingaku hanya dapat mendengar dengus nafas lelaki itu dan nafasku sendiri yang saling memburu di antara ciuman-ciuman bernafsu. Namun setiap aku sedang bercinta dengan seseorang, suara itu terdengar makin tegas dan jelas. Bahkan kadang terasa sebagai sebuah gertakan atau amarah yang menghardikku. Dan aku memang cenderung menuruti apa yang dikatakan suara itu. Entah kenapa, aku sendiri tak tahu pasti.

Aku masih sibuk meneruskan kemesraan dengan lelaki itu. Lama ia menciumi bibirku dengan nafsu, seolah-olah tak memberikan aku kesempatan untuk bernafas dengan bebas. Tapi aku tak menolak. Aku mengikuti kemana arah permainan lelaki itu. Dan kini ia telah berhasil membuka bajuku, lalu kutangku. Dengan cepat ia menghujani seluruh tubuhku dengan ciuman, dan gigitan-gigitan kecil penuh kelembutan. Aku menikmati masa-masa seperti ini. Ya. Aku memang tipe perempuan yang tidak bermasalah dengan semua ini. Aku biarkan diriku tenggelam di arus birahi yang menghanyutkan aku dan laki-laki itu. Tangan lelaki itu terus bergerilya menjamahi lekuk-lekuk tubuhku. Dia tahu kelemahanku. Bahwa aku tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan di tubuhku yang telanjang dada. Aku sedikit memberontak. Tubuhku berguncang menahan rasa geli yang berdesir halus. Dan lelaki itu malah semakin terbakar nafsu untuk menyetubuhiku.

Ia menciumku. Lalu buah dadaku. Sementara tangan kanannya berusaha membuka celanaku. Aku mulai terusik dengan suara yang biasa kudengar. Hentikan saat ini juga! Cukup sampai di sini! Dan suara itu memberiku gambaran-gambaran samar tentang kehamilan. Pikiranku mendadak penuh dengan peringatan pada diri sendiri untuk tetap menghindari kemungkinan terjadinya hubungan sex yang akhirnya dapat membuatku hamil. Bayangan lelaki itu berangsur-angsur lenyap dari benakku. Kini otakku sibuk mencari cara untuk menghentikan semuanya saat ini juga sebelum terlambat.

Lelaki itu telah berhasil membuka restleting celana panjangku. Tangannya telah menelusup masuk ke dalam celah celanaku dan meraih kelaminku. Ia masukkan jarinya ke dalam ruang sunyiku dan membuat gerakan-gerakan yang memancing birahiku muncul lagi. Aku kacau. Antara menikmati dan ingin menghentikan. Hentikan sekarang! Jangan diteruskan! Ah, suara itu lagi. Batinku. Apa kau tidak lihat aku sedang menikmati semua ini? Aku menggertak suara yang tidak jelas dari mana datangnya itu. Apa kau sudah siap menanggung resiko? Resiko apa? Hamil! Kau akan hamil jika kau meneruskan semua ini. Aku sudah tidak peduli dengan diriku sendiri. Kau tahu itu kan? Semua kulakukan atas keinginanku. Tapi kau masih punya hati. Ya, tapi aku sudah tidak punya cinta. Cintaku habis terbawa mantan kekasihku dulu. Jadi ini pelampiasan? Mungkin begitu. Aku kini benar-benar muak dengan kehadiran suara itu yang berusaha mengaturku. Okey, kau bebas melakukan yang kau suka. Lalu bagaimana dengan keluargamu? Aku tercengang mendengar omongan suara itu. Keluarga. Ya, benar. Keluarga. Aku hampir melupakan tentang yang satu itu. Baiklah. Aku hentikan semua ini. Bagus. Suara itu kini terdengar puas dengan keputusanku. Tapi bukan karena aku mau melakukannya, melainkan karena aku memikirkan nama baik keluargaku. Itu saja. Terserahlah apa alasanmu. Kata suara itu seraya pergi meninggalkan aku. Dan aku segera menarik diri dari permainan tempat tidur yang kulakukan bersama laki-laki yang saat ini masih asyik menggerayangi tubuhku. Ia tampak kecewa dengan sikapku, tapi ia dapat menerimanya. Semua pun berakhir.

Hari ini aku menghabiskan waktuku di rumah. Aku duduk dan merenungi perjalanan hidupku. Aku hidup sendiri, jauh dari keluarga. Dan aku secara diam-diam mungkin telah menjadi seorang anak yang bisa dibilang mengecewakan bagi kedua orang tuaku. Aku mengenal rokok, walaupun telah berhasil kuhentikan belum lama ini, alkohol, dan aku juga sering melakukan hubungan semi-sex. Hanya untuk menghindarkan diri dari kehamilan. Itu saja. Itupun kulakukan atas pertimbangan nama baik keluargaku. Sebab aku sendiri sudah tidak terlalu peduli dengan nama baikku sendiri.

Sebenarnya dulu aku tidak begini. Aku menjadi seperti ini karena ada semacam rasa sepi yang akut bersarang di palung hatiku. Mungkin sudah ada sejak aku kecil. Sepi ini sempat terobati ketika aku menjalin cinta dengan seorang laki-laki yang juga sangat mencintaiku. Tapi kemudian dia meninggalkanku untuk menikah dengan gadis pilihan ibunya. Menyedihkan. Pikirku. Seorang anak laki-laki dijodohkan. Tapi itu dulu. Hasilnya, aku hanya bisa pasrah dan menjelmalah aku yang seperti ini. Dan yang terpenting, aku bahagia dengan pilihan jalanku. Mencari ruang bebas yang dapat membuatku tertawa.

Malam ini aku kembali bercinta dengan salah seorang lelaki yang kukenal. Ini mungkin telah menjadi kesibukanku tersendiri. Tapi perlu diketahui, aku tidak bercinta dengan sembarang orang. Aku hanya melakukannya dengan lelaki yang telah kukenal. Mungkin bisa dibilang telah kukenal dengan baik. Dan biasanya aku selalu melihat arah feelingku terhadap lelaki tersebut. Aku selalu mencari tahu lewat sorot mata para lelaki itu. Jika aku melihat sesuatu yang membuat aku bisa mempercayai dan menyukainya, maka aku tidak akan bermasalah untuk bercinta dengannya. Begitu juga saat ini. Aku bercinta dengan salah satu teman lelakiku. Dan feelingku tidak meleset. Ketika kami hampir mencapai adegan permainan burung, aku mendadak menghentikan semua, dan lelaki itu tidak keberatan dengan sikapku. Aku lega. Setidaknya aku tidak sempat terlalu lama berbantah-bantahan dengan suara yang sudah pasti hadir saat aku bercinta.

Suatu malam, aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku jadi begini? Kenapa aku menjadi orang yang dengan sangat mudah melakukan hubungan tempat tidur? Tapi aku tidak menemukan jawaban. Apa karena sebagian besar lelaki yang telah mengenalku secara pribadi, selalu saja jatuh cinta padaku? Sehingga aku merasa menguasai perasaan mereka dan bisa kubawa ke permainan rasa sepi dan luka lamaku? Atau aku sedang melakukan sebuah pembalasan dendamku pada makhluk yang namanya laki-laki? Sampai-sampai aku bisa menyakiti setiap mereka yang telah benar-benar mencintaiku dengan hanya menggiring mereka ke arena tempat tidur, berhenti sebelum adegan permainan burung, dan setelah itu aku meninggalkan mereka karena aku tidak punya cinta untuk mereka. Entahlah. Terbayang di benakku wajah-wajah lelaki yang pernah menjamahi tubuhku dengan nafsu. Ada sekitar dua puluh orang. Mungkin aku bisa menghentikan kebiasaanku ini jika aku mencintai seseorang dengan tulus seperti aku mencintai mantan kekasihku yang dulu. Tapi apa aku masih punya rasa cinta? Masihkah aku bisa mencintai seseorang dengan hati dan bukan dengan nafsu birahi?

Yang terjadi lagi-lagi aku membunuh seorang laki-laki dengan perlahan. Bukan dengan tusukan belati di perut atau menyobek urat nadi tangannya, tapi aku menjerat lelaki yang mencintaiku dengan tulus itu ke dalam petualangan cintaku. Sekian lama aku mengurung laki-laki itu dalam cinta palsuku. Kami hanya terus-terusan melakukan pergulatan tempat tidur, dengan tetap tidak melakukan adegan permainan burung, dan menebar kata-kata cinta di keluasan langit-langit kamar. Ya. Laki-laki itu adalah seorang penyair. Bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya ia menyusun sekian kalimat cinta yang begitu puitis untuk diberikannya padaku. Tentu aku tidak menolak, apalagi aku juga sempat menekuni dunia sastra. Melihat perkembangan dan kedalaman hatinya mencintaiku, aku jadi merasa tidak tega juga. Kalau dia tahu sebenarnya aku tidak mencintainya, pasti ia akan sakit hati. Dan aku tidak pernah bisa melihat orang dekatku bersedih. Hal inilah yang membuat aku memilih langkah untuk terus pura-pura mencintainya, sambil mencari cara agar suatu saat dapat melepaskan diri darinya.

Malam ini aku bertemu dengan lelaki penyair itu. Kami tidak banyak bicara. Bahkan malam ini tidak terdengar adanya puisi terbacakan walau hanya sebaris. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam ini dengan bercinta semalaman di tempat tidur. Aku merasa agak heran dengan sikapnya kali ini. Tapi aku tak mau ambil pusing. Lebih baik aku memulai permainan ini.

Malam berjalan dengan wajah sunyinya. Suasana terasa begitu hening. Juga di dalam kamar ini. Awalnya laki-laki itu cukup lama memandangi mataku. Sebelum akhirnya ia mulai menyentuh wajahku dan mencium keningku, kedua pipiku, dan bibirku. Permainan pun dimulai. Ciuman di bibir memang selalu berhasil mengundang keintiman. Aku agak terkejut karena malam ini ia tampak lebih liar dari malam-malam sebelumnya. Laki-laki ini tampak tak puas dengan permainanku yang selalu berhenti sebelum berhasil mencapai adegan burung. Ia membisikkan kalimat singkat di telinga kiriku, bahwa ia malam ini ingin meminta yang lebih dariku. Ada rasa gamang melayani nafsu lelaki ini. Aku sempat ragu apakah aku bisa menghentikan permainan ini seperti biasanya. Seluruh tubuhku dengan sangat berani melancarkan segala gerakan merangsang kepada laki-laki itu. Tapi dibalik itu, otakku terus berpikir keras mencari celah dan cara untuk tetap menjaga diri dari kemungkinan hamil. Dan sekarang celana panjangku telah benar-benar terlepas. Sementara laki-laki itu sudah lebih dulu melepaskan celana panjangnya. Aku sedikit gemetar. Dan aku juga sempat tertawa sinis. Menertawakan diriku sendiri. Aku bermain api, tapi kini aku malah merasa ketakutan dengan api yang kunyalakan sendiri. Memalukan. Batinku.

Laki-laki itu terus menjelajahi tubuhku. Tangannya dengan mudah meraih kelaminku dan mempermainkannya. Kulihat ia mengeluarkan kelaminnya dan memintaku untuk menyentuhnya dengan lembut. Setengah tidak sadar aku masih mengikuti keinginannya. Saat aku dikagetkan oleh kehadiran suara yang kali ini kudengar teramat nyaring dan lantang. Bodoh! Sekarang kau yang kebingungan. Hentikan semua sebelum kau benar-benar kehilangan segalanya. Aku terkejut sekali. Kepalaku tiba-tiba terasa pening. Antara mendengarkan hardikan marah dari suara itu, dan mengendalikan permainan laki-laki yang sedari tadi masih menindihi tubuhku. Apa yang kau tunggu? Sampai dia menelanjangimu dan menghamilimu? Kali ini kau kalah dalam permainanmu sendiri. Lihat! Kau benar-benar tidak bisa apa-apa selain menuruti keliarannya. Aku jadi shock juga dibentak-bentak begitu. Apalagi oleh sebuah suara yang tidak jelas darimana datangnya. Aku semakin tidak bisa memutuskan apa yang harus kulakukan. Yang kubisa saat ini hanya mengulur-ngulur waktu sebelum ia benar-benar membuatku hamil. Hey! Malah bengong. Cepat kau hentikan semua ini. Daripada kau menyesali dirimu sendiri nantinya. Aku mencari-cari arah suara itu. Tapi percuma. Suara itu sekali lagi membentakku. Kali ini lebih keras. Tidak usah mencari-cari aku! Bukan saatnya untuk itu. Hentikan saja permainanmu dulu. Aku benar-benar seperti bawahan yang melakukan kesalahan dan dimarahi oleh atasannya. Hanya bisa diam dan diam. Suara itu tampak telah muak melihatku yang hanya membisu tanpa berusaha menghentikan semuanya. Ingat keluargamu! Sial. Dia membawa-bawa keluargaku lagi. Kalau sudah begini aku tidak bisa untuk tidak menuruti omongannya. Aku menyerah. Dengan segala alasan dan kekuatanku melarang laki-laki itu untuk meneruskan keintiman ini, akupun terlolos dari kemungkinan untuk hamil. Adegan burung memang tinggal sedikit lagi terjadi, tapi semua tepat waktu. Aku berhasil menghentikannya. Permainan tempat tidur berakhir di sini. Laki-laki itu marah, kecewa, sebelum ia pergi meninggalkanku.

“Besok aku akan menikah.”

Kata laki-laki itu sesaat sebelum pergi.

Aku terdiam karena kaget. Aku tak pernah tahu kalau ia sudah mempunyai calon istri. Aneh.

Lelaki itu menatapku dengan sorot mata yang tak rela melepaskanku.

“Aku memang akan menikah. Sudah seharusnya begitu. Tapi cintaku tak pernah berubah. Aku hanya mencintaimu.”

Aku tidak mengerti apa maksud pembicaraan laki-laki itu.

“Siapa gadis itu?”

Aku tak bisa menutup rasa penasaranku untuk mengetahui tentang hal yang satu ini. Meskipun bukan karena aku cemburu. Toh aku tidak pernah benar-benar mencintai lelaki itu. Aku hanya ingin tahu. Itu saja. Tidak lebih.

“Aku baru mengenalnya.” Tidak ada keterangan lain yang kuperoleh. Tampaknya lelaki itu sengaja tidak mengatakan secara lengkap padaku tentang pernikahannya yang kurasakan sangat mendadak. Akhirnya aku berfikir bahwa ia memang sudah ingin menikah. Sementara aku sejak dulu selalu saja menolak jika diajak menikah dengannya. Ya, mungkin karena itu.

Aku masih melanjutkan pertualangan cintaku yang tak terarah ini. Lelaki penyair yang telah menikah itu masih termasuk dalam permainanku. Aku memang tidak sepenuhnya bisa melepas dirinya. Setidaknya aku tersanjung dengan ketulusan dan keseriusan cintanya padaku selama ini. Maka ada saja rasa tidak ingin kehilangan semua itu secara total. Dan kami pun meneruskan cinta kami secara diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya. Tapi aku merasa bersalah juga pada istri laki-laki itu. Entah kenapa. Dan aku memilih untuk tidak terlalu sering berhubungan dengan laki-laki itu.

Seperti matahari pagi. Begitu aku membahasakan cinta yang datang dan pergi padaku. Cinta dari para lelaki yang kukenal. Kadang aku merasa lelah, merasa membutuhkan sebuah sandaran yang tetap dan pasti. Tapi saat aku mencoba untuk menjalin cinta dengan satu orang, aku tetap melakukan keintiman dengan lelaki lain. Sampai aku merasa muak dengan diri sendiri. Mungkin aku memang tidak punya cinta lagi. Untuk siapapun.

Tapi tampaknya aku mulai mematahkan omonganku sendiri. Aku mulai merasakan adanya getaran-getaran khusus pada jiwaku ketika aku mengenal seorang lelaki. Apa ini cinta? Lama aku memikirkan hal ini. Dan aku menemukan jawaban. Aku memang mencintainya. Ya. Lelaki ini. Seorang laki-laki yang mungkin tidak semestinya aku cintai. Aku tahu bahwa ia sudah mempunyai istri. Dan ia memang berusaha untuk setia pada istrinya. Aku bisa mengerti. Tapi cinta yang tumbuh dengan cepat dalam diriku seolah tak ingin dimengerti. Ia sudah lama mati. Dan kini rasa itu lahir kembali. Rasa yang sama seperti ketika aku jatuh cinta pada mantan kekasihku yang sudah sangat lama pergi.

Aku berfikir dan berfikir. Sementara kedekatanku dengannya semakin intim. Kami saling jatuh cinta. Ini parah. Batinku. Kami sama-sama tidak bisa membendung rasa cinta yang datang tiba-tiba dari perkenalan kami. Sementara kami sadar sekali kalau kami tak mungkin bisa bersatu. Apalagi untuk ikatan pernikahan.

Maka permainan tempat tidur menjadi pilihannya. Aku dan lelaki itu berkali-kali bertemu hanya untuk melampiaskan rasa cinta dan rindu. Kami bergulat semalaman menyalurkan nafsu birahi yang sudah menguasai kami berdua. Aku bisa lebih bebas dalam permainan kali ini. Karena justru lelaki itulah yang tidak menginginkan terjadinya adegan burung. Dan suara yang biasanya hadir kurasakan hanya memperhatikan kami berdua yang sibuk menyatukan cinta di atas tempat tidur.

Permainan tempat tidur ini telah terjadi beberapa kali. Kami selalu berhasil menghentikan permainan sesaat sebelum mencapai adegan burung. Sakit memang. Apalagi kami saling mencintai. Tapi lelaki itu juga mencintai istrinya. Aku cemburu dan sakit mendengarnya. Tapi aku tidak bisa apa-apa selain diam dan menerima segala penjelasannya itu.

Malam ini, saat kami bertemu lagi di sebuah kamar hotel yang dipesannya, kami menghadapi saat-saat yang sangat sulit bagi kami. Cinta yang menjerat kami berdua sudah tak bisa tertahankan. Aku sendiri kali ini sudah tidak peduli dengan apapun. Aku mencintai laki-laki ini. Sungguh-sungguh aku mencintainya dengan sepenuh hati. Ada rasa ingin memiliki dirinya. Tapi aku tak punya keberanian untuk mengatakan padanya. Maka kami pun seperti biasa larut dalam arus nafsu birahi. Tentu saja dengan selimut cinta yang sesungguhnya. Cinta kami berdua. Seketika aku ingin menangis. Sorot mata laki-laki itu, senyumnya, wajahnya, membuat aku menjadi begitu rapuh dan tak berdaya. Semua begitu aku rindu dan kucintai. Tapi karena keadaan yang memisahkan kami, segala yang kudapatkan malam ini dari lelaki itu terasa sangat menyakitkan. Seperti ada sebilah pisau tajam yang sedang mengiris relung hatiku. Aku takut. Takut sekali. Aku ingin lelaki itu terus ada di sampingku. Dan lelaki itu tampaknya mengetahui apa yang kurasakan. Segala kegundahanku. Ia memeluk tubuhku yang telanjang dada. Menciumku dengan penuh kasih sayang. Aku terlena dengan kemesraan yang ia ciptakan. Akal sehatku serasa lenyap. Kuputuskan untuk menuntaskan cintaku malam ini. Dengan caraku.

Suara yang biasa datang setiap aku bercinta pun muncul lagi. Apa yang akan kau lakukan? Jangan gila! Kau merusak segalanya! Dan aku berbalik marah pada suara itu. Aku sudah pernah gagal. Aku terlalu sering kehilangan. Bahkan kehilangan cinta. Sekarang aku menemukannya lagi. Maka jangan coba-coba melarangku untuk meraihnya. Kau benar-benar gila! Ingat dirimu. Kau tidak boleh hamil. Ingat keluargamu! Nama baik mereka! Juga dirimu! Tapi tekadku sudah bulat. Aku takkan menghentikan permainan ini. Pandanganku menajam, seolah-olah sedang menatap asal suara itu. Aku tidak peduli dengan diriku! Atau keluargaku! Aku ingin bebas mengejar kebahagiaanku! Terserah. Tapi apa kau juga tidak akan memandang Tuhan? Bagaimana denganNya? Aku kaget sekali. Rasanya tidak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Ini pertama kalinya suara itu membawa-bawa nama Tuhan. Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan suara itu. Aku sudah begitu lama meninggalkanNya. Kataku pelan.

Suara itu masih terus-menerus meneriakiku dengan segala larangan dan makian. Tapi sia-sia. Aku sudah berjalan jauh sekali. Kini aku dan lelaki itu saling menindih dalam keadaan tubuh telanjang bulat. Kami melakukan adegan burung tanpa ada keraguan. Permainan tempat tidur kali ini menjadi yang paling sempurna bagiku. Cintaku makin membara pada lelaki itu. Dihatiku telah terkembang layar cinta yang begitu kokoh. Tak peduli sekencang apa angin yang akan menerpaku. Inilah cintaku. Pilihan langkahku. Mungkin setelah ini lelaki itu akan menikahiku. Mungkin juga tidak. Tapi aku tak terlalu peduli dengan semua itu. Yang kufikirkan hanya bagaimana aku menghabiskan malam ini dengannya. Suasana kamar sangat sunyi. Sudah tak terdengar lagi suara yang membentakku, hanya desir halus angin di celah-celah ventilasi.

“Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa menikah denganmu.”

Tiba-tiba lelaki itu berbisik padaku ketika hari sudah mulai pagi. Bicaranya tidak jelas. Tampaknya ia masih lelah setelah menyelesaikan permainan semalam.

Aku tahu ini akan terjadi. Ada rasa sakit yang sangat perih di jiwaku. Tapi ini permainanku. Dan aku sudah mempersiapkan segalanya dengan rapi. Kuambil sebilah pisau yang kusembunyikan di samping tempat tidur sejak semalam tanpa sepengetahuannya. Dengan cepat kutikamkan pisau itu ke perut lelaki itu. Ia sangat kaget sekaligus menahan sakit. Sprei yang berwarna putih kini menjelma merah darah. Aku mencium lelaki itu dengan lembut. Bibirnya gemetar. Wajahnya penuh dengan keringat dingin. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kami saling berpandangan. Kubisikkan sebuah kalimat padanya. “Aku mencintaimu”. Lelaki itu diam. Matanya menutup perlahan-lahan. Aku merasakan hembusan nafasnya yang terakhir menerpa wajahku. Aku masih sempat menitikkan air mata. Lalu seutas senyum kecil. Beberapa detik kemudian, kutancapkan pisau yang masih ditanganku itu kearah jantungku sendiri. Kujatuhkan tubuhku ke atas tubuh lelaki itu. Seluruh badan tempat tidur menjadi merah. Pagi telah datang. Tapi aku tak bisa melihat apapun. Semua demikian gelap.

Yogyakarta, 3 Mei 2003


TIDUR

untuk hudan hidayat

Lelaki itu duduk lemas di kursi teras depan rumahnya suatu sore. Pikirannya menyimpan sebuah pertanyaan yang sudah sekian lama mengganggunya. Bagaimana rasa tidur itu sebenarnya? Ah! Pertanyaan bodoh! Seperti biasa otaknya ikut campur dalam memberikan semacam jawaban. Bodoh memang. Kali ini hatinya pun mulai turun tangan menyumbangkan pendapat. Karena kau telah cukup lama sekali melewati kegiatan yang dinamakan tidur itu. Lalu apakah dengan masa yang panjang itu kau masih belum bisa benar-benar mengerti bagaimana rasanya tidur? Lelaki itu manggut-manggut. Benar juga. Umurku sekarang sudah hampir empat puluh tahun. Berarti jam tidurku sudah cukup banyak juga jika dihitung secara statistik. Hemm…Lelaki itu bergumam. Ini adalah suatu kebiasaan yang melekat pada dirinya jika sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Tapi dirinya tetap tak puas dengan opini-opini tajam dari organ-organ tubuhnya itu. Ia masih sangat penasaran untuk dapat memahami bagaimana rasa tidur itu dalam arti yang sebenar-benarnya. Sebuah kegiatan yang sudah lama sekali ia rindukan. Terutama lima tahun terakhir ini. Sejak ia memutuskan untuk kembali menulis. Pekerjaan yang telah ia lupakan selama hampir lima belas tahun.

Ya, lelaki itu adalah seorang pengarang. Karyanya berupa tulisan-tulisan sastra cukup sering terpampang di berbagai media massa. Mungkin ia bisa disebut sebagai sastrawan yang lumayan berhasil. Paling tidak ia juga memiliki sekian orang yang mengagumi kemampuannya dalam bersastra. Harus diakui. Meskipun ada juga yang secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka atau bahkan anti pati terhadap lelaki itu. Tapi untuk yang terakhir ini lelaki itu hanya menyikapinya dengan biasa-biasa saja. Itu hak mereka. Katanya dengan nada tenang dan datar jika ada yang bertanya mengenai hal ini. Apalagi lelaki itu pada dasarnya memang seorang yang lebih suka mengurus dirinya sendiri daripada harus menanggapi sikap-sikap orang yang tidak suka padanya. Aku peduli pada orang lain. Katanya. Tapi aku termasuk orang yang sibuk dengan diri sendiri. Seperti juga saat sekarang ini, aku terlalu sibuk memikirkan tentang tidur.

Lelaki itu tampaknya sangat terganggu dengan pertanyaan yang ada di benaknya. Tidur. Bagaimana rasanya? Ia sendiri sudah sering berusaha untuk melakukan tidur itu dengan sebaik-baiknya. Seperti kalau ia sedang melakukan perkerjaan lainnya. Atau juga seperti kala ia sedang menulis cerita sastra. Ia selalu dapat dengan mudah melakukannya dengan khusyuk sekali. Tapi untuk tidur, ia selalu menemukan kesulitan yang sama setiap harinya. Perkerjaan yang satu ini tidak pernah bisa terlaksana dengan lancar, mulus seperti jalan tol tanpa hambatan dan gangguan, atau lengang layaknya padang pasir yang asing dengan tanaman dan kehidupan manusia yang cenderung gaduh. Maka kegagalan yang berulang-ulang ini telah membuatnya menjadi demikian penasaran dan hampir mencapai titik frustasi. Tapi lagi-lagi ia hanya bisa terduduk lemas seperti biasa di kursi teras depan rumahnya dengan mata yang tersundut di balik kaca mata tua.

Malam ini lelaki itu memutuskan untuk mencoba tidur. Istri tercintanya telah lebih dulu menunggu di atas peraduan bersprei warna biru.

“Kali ini aku harus berhasil.”

“Ya, aku akan membantumu sayang.” Istrinya mendekap tubuh atletis lelaki itu dengan mesra. “Sudah semestinya kau dapat tertidur dengan nyenyak. Benar-benar tidur. Karena seharian kau bekerja di kantor, maka istirahatkanlah tubuhmu barang sejenak.”

Lelaki itu mengiyakan omongan istrinya. Benar. Sejak pagi hingga sore aku berada di kantor untuk bekerja sebagai pegawai negeri, maka tidak ada alasan untuk tidak tidur sekarang. Aku butuh tidur. Tidur. Tidur. Lelaki itu berusaha mensugesti dirinya agar bisa terlelap.

Namun tak lama kemudian istri lelaki itu memasang isyarat yang sangat pribadi padanya. Lelaki itu langsung mengerti. Dalam hati ia berbisik, ini hal pertama yang menunda usahaku untuk dapat tidur dengan cepat dan hikmad. Beberapa menit lelaki itu hanya diam dan tak bergerak sedikit pun. Istrinya menangkap gejala ganjil yang ada pada suaminya. “Setelah melakukannya, kau akan dapat tertidur dengan lelap sekali.” Istrinya berusaha meyakinkan suaminya yang dari tadi tidak bereaksi apa-apa. “Percayalah, sayang.” Maka pertempuran ranjang pun terjadi dengan hebatnya. Sementara malam kian larut, lampu kamar yang telah padam menambah sunyi kekelaman yang terasa mengurung muka bumi dengan tangan kekarnya. Sinar bulan tampak menembus celah-celah ventilasi jendela kamar dengan malu-malu. Di belakangnya terlihat barisan anak-anak gemintang saling bergandengan mengarahkan pandangan ke dalam kamar pasangan suami istri yang sedang bergulat dalam cinta itu. Tapi yang diintip seolah tak peduli. Tentu saja.

Sepasang nafas itu kini telah terlihat kelelahan. Desahnya terdengar tak beraturan. Ada sebersit rasa puas terpancar di air muka keduanya. Suasana begitu sepi. Inilah saat yang paling tepat untuk menjemput sahabat yang bernama tidur. Dalam beberapa detik kemudian istri lelaki itu telah benar-benar menikmati tidurnya. Lelaki itu pun mulai memejamkan matanya dengan perlahan-lahan sekali. Agar lebih kurasakan proses mula dari sebuah tidur, batinnya.

Namun hal tak terduga pun terjadi. Tapi ini bukan untuk yang pertama kalinya. Melainkan inilah yang begitu sering menimpa dirinya. Sebuah dorongan untuk menulis terasa merasuki jiwanya. Mengetuk-ngetuk jemari, hingga ia menjadi sangat kesulitan untuk dapat segera tidur. Atau memang semua pengarang mengalami hal ini? Bisa jadi begitu. Lagi-lagi ini suara dari otaknya yang ternyata tidak ingin tidur. Lalu bagaimana mereka dapat menemukan jam tidur yang tepat? Tidak ada. Pengarang memang sudah semestinya tidak pernah tidur. Ah! Aku mengerti maksudmu itu. Tapi aku yakin mereka tetap butuh tidur. Ya, ya, kau benar. Barangkali pengarang memang tidak pernah memiliki tidur yang sesungguhnya. Tidur menjadi ritual yang sudah tidak bisa terjalani dengan sempurna. Apa ini semacam kutukan? Imajinasi lelaki itu mulai bekerja. Terserah bagaimana kau mengartikannya. Nikmati sajalah. Akhirnya suara dari otaknya itu pun memilih pergi dan menyepi. Membiarkan lelaki itu sendiri hanyut di arus kegelisahannya merenungi perihal tidur.

Lelaki itu masih berusaha untuk dapat tidur. Tapi tampaknya dorongan untuk menulis kembali memenangkan peperangan batin malam ini. Rentetan alur cerita berterbangan di seputar kepalanya. Ketiklah kami, pengarang. Ketiklah kami yang datang menghampirimu. Jelmakan kami sebagai tulisan. Ayo pengarang. Bangunlah dari tempat tidurmu.

Suara-suara aneh namun tak asing lagi itu terdengar makin tajam di telinga lelaki itu. Lagi-lagi mereka. Pfuuuihhhh…. Akhirnya ia pun menyerah. Ia pergi ke ruang kerjanya dan mulai mengetik. Sebelum meninggalkan kamarnya, disempatkannya untuk melihat ke arah istrinya yang masih senyap memeluk guling yang tergolek di sampingnya. Mungkin ia sedang memimpikan diriku, pikirnya.

Di ruang kerja, lelaki itu duduk menghadapi mesin tiknya. Sisa-sisa jejak sperma dan selangkangan yang masih terasa panas menjadi salah satu faktor kuat yang mendorongnya untuk menulis. Juga keringat yang sudah hampir mengering di sekujur tubuhnya. Ya. Keadaan seperti ini baginya dapat membuat sebuah cerita mengalir seperti air di kran dapur rumahnya. Entah mengapa. Tapi begitulah ia dalam melahirkan karya. Buktinya, dalam waktu singkat malam ini ia telah berhasil menyelesaikan sebuah tulisan cerita pendek dengan sempurna. Wajahnya memancarkan senyum tipis. Puas juga. Tapi malam ini sekali lagi telah menjadi malam kegagalan baginya untuk dapat menemukan jawaban perihal tidur itu.

Hari ini bukan hari kemarin. Tapi pertanyaan yang muncul di benak lelaki itu masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Masih yang itu-itu saja. Dan kembali otak lelaki itu menegur dirinya dengan kata-kata tajam seperti biasa. Masih memikirkan tentang tidur? Sudahlah, lupakan saja. Lupakan bagaimana? Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya merindukan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupmu. Ah, ya, kau tentu takkan pernah mengerti. Kau kan tidak punya hati seperti aku. Dan kau selama ini hanya menumpang di kepalaku saja. Pasti tak tahu tentang hidup yang tak lengkap. Sekarang, disaat aku ingin berfikir, kau malah mengajakku untuk mundur. Okey, okey, kalau begitu maumu. Ayo kita berfikir tentang tidur itu. Lelaki itu tersenyum mengetahui otaknya kini menyetujui kemauan dirinya.

Saat ini jam menunjukkan pukul dua belas malam. Lelaki itu masih duduk di sofa sambil menonton televisi di ruang tengah rumahnya. Istrinya telah meringkuk di cengkerama cinta peraduan. Kian malam, detik-detik jarum jam terdengar makin nyaring di telinga lelaki itu. Tapi ia sama sekali belum bisa memejamkan kedua matanya. Bahkan untuk mengundang rasa kantuk untuk segera menculik sadarnya dan tidur.

Lalu diputuskannya untuk menjadikan bir sebagai pelampiasan. Harapannya, setelah meneguk sebotol minuman beralkohol itu ia dapat langsung tertidur nyenyak. Bagaimanapun ia telah tak sanggup menahan debar rindunya pada sebuah tidur yang dicari-carinya itu. Nyatanya pikirannya meleset. Dalam kondisi setengah mabuk, ia tetap tidak bisa memejamkan mata sepenuhnya. Pikirannya tiba-tiba dihampiri oleh sebuah bayangan yang sama sekali belum pernah ia kenal. Hantukah? Atau Tuhan? Malaikat barangkali. Karena pakaiannya tampak berwarna putih bersih. Tapi bayangan itu tak punya sayap. Ah sudahlah. Tak penting itu siapa. Aku hanya ingin tidur. Lelaki itu mengambil posisi yang dianggapnya nyaman di sofa itu. Televisi ia matikan dengan sebuah remote kontrol yang ada ditangannya.

Lelaki itu mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata saat ia dengar bayangan yang ada di depannya mengajaknya bicara.

“Kau mengantuk?”

“Ya. Tapi aku tak pernah bisa tidur seperti yang kuinginkan.”

“Kenapa begitu?”

“Mataku sulit sekali untuk terpejam. Belum lagi gangguan-gangguan yang datang memaksaku untuk tidak tidur.”

“Apakah aku termasuk gangguan itu?”

“Barangkali. Kecuali kau bisa membuatku tidur setelah ini.”

“Bagaimana kalau kau bermimpi dalam tidurmu?”

“Bagiku itu juga gangguan. Aku ingin tidur yang tenang. Benar-benar tidur.”

“Apa kau lelah?”

“Lelah?”

“Ya….lelah. Tampaknya kau ingin mencari kesunyian dalam tidurmu. Kesenyapan. Tanpa sesuatu pun yang bisa mengganggumu.”

“Kurang lebih begitu.”

Bayangan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tapi siapa kau? Mau menolongku atau sekedar menginterogasiku saja? Tuhankah? Atau aparat keamanan?”

Bayangan itu tak menjawab.

“Kau pasti suruhan seseorang. Apa kau termasuk pihak-pihak yang tidak suka dengan perncarianku tentang jawaban sebuah tidur? Yang mengagungkan keriuhan dan bermaksud menyingkirkan orang-orang seperti aku, pemuja sepi? Bukan. Bukan. Aku hanya orang yang ingin bisa merasakan ketenangan tidur. Karena aku telah begitu lama kehilangan dirinya. Kuharap kau tidak terganggu dengan keberadaanku yang begini.”

“Ya, tentu. Aku justru mau membantu.”

“Ah, istriku pun kemarin berkata seperti itu. Tapi nyatanya ia tidak berhasil.”

“Percaya saja padaku. Dijamin kau tidak akan kecewa.”

“Maksudmu?”

“Tunggu saja tanggal mainnya.”

Lelaki itu bengong mendengar jawaban bayangan itu. Tapi baru ia ingin bertanya lagi, bayangan itu telah hilang dari pandangannya. Di luar rumah sayup-sayup berkumandang suara adzan subuh dari masjid desa. Disambung kokok ayam yang lantang sampai yang terbatuk-batuk tak karuan. Malam telah berlalu. Fajar menyingsing di sebelah timur. Cahayanya menyeruak perlahan di tiap celah lubang rumah lelaki itu. Pagi lahir kembali. Aku gagal lagi. Kata lelaki itu pada dirinya sendiri. Ya, kau gagal lagi. Otaknya ikut angkat bicara.

Sore ini lelaki itu pulang dari kantornya. Ia mengendarai mobil miliknya yang ia gunakan sehari-hari. Lantunan lagu-lagu barat dari radio mengalun cukup keras bersama mulutnya yang ikut-ikutan bernyanyi. Tiba-tiba dari arah berlawanan, di jalan yang setengah berbelok itu, sebuah mobil lain berjalan dengan kencang sekali. Bam!!!! Suara yang timbul akibat tabrakan hebat itu membuat orang-orang di sekitarnya menutup telinga. Sebagian memilih menutup mata karena tak berani melihat kejadian tragis itu. Para hati yang menyaksikan peristiwa itu hanya terpaku dan berdiri dengan rasa takut yang sangat.

Tak lama, jalan raya pun telah penuh dengan polisi. Dan beberapa saat kemudian datang dua mobil ambulans menjemput para korban. Lelaki itu, dan dua orang korban lagi yang ada di dalam mobil yang menabrak mobil lelaki itu tadi.

Di dalam mobil ambulans yang membawanya ke rumah sakit, lelaki itu merasakan matanya mulai mengantuk. Kepalanya pening. Pandangannya berkunang-kunang. Suara deru kendaraan yang membawa tubuhnya yang penuh luka, terdengar samar di telinganya. Beginikah rasanya tidur? Hey, pengarang. Apa kau mengantuk? Kau lagi. Mau ikut mencari jawaban denganku? Otak lelaki itu senyum-senyum melihat tuannya yang terbaring di tempat tidur beroda itu. Aku ingin sekali membantumu. Tapi keadaanku saat ini sangat tidak memungkinkan untuk berfikir. Lihat luka-lukaku ini. Ya, kau benar. Tak mungkin aku memaksamu untuk berfikir dengan kondisimu yang buruk itu. Terima kasih. Baiklah, biar aku mencari jawabannya sendiri. Ya. Dan otak lelaki itupun pamit undur diri.

Lelaki itu terdiam menanti jawaban yang bisa membuatnya mengetahui bagaimana rasanya tidur. Dalam penantian itu ia mulai menemukan ketenangan yang selama ini dicarinya. Kepalanya baru kali ini tidak melontarkan tuntutan-tuntutan untuk menulis sebuah cerita sastra. Gambaran istrinya yang mengajaknya bercinta pun tak tampak sekarang ini. Hey, kemana kalian semua? Apa kalian sudah lelah menggangguku? Atau sekedar memberiku kesempatan untuk menemukan tidur yang kucari atas dasar rasa kasihan kalian padaku? Tapi semuanya tetap hening. Dan lelaki itu telah sangat mengantuk. Tak seperti biasanya. Bahkan kini ia sampai tak sanggup lagi untuk sekedar menguap sekali dua kali. Seluruh tubuhnya letih sekali. Sepertinya ia harus menurut kali ini. Menurut dan mengalah pada rasa kantuk yang menyerangnya. Sudah terlalu lama aku tidak memperdulikan hadirmu. Ya benar. Dan sekarang aku akan menidurkanmu dengan sebenar-benarnya. Tenang saja. Semua pertanyaanmu akan terjawab hari ini. Benarkah? Benar. Dan lelaki itu memejamkan matanya dengan mudah sekali. Tak ada beban. Dan ia tidak membutuhkan bantuan minuman alkohol untuk berusaha tidur kali ini.

Setengah jam kemudian ambulans tiba di pintu gerbang rumah sakit. Tempat tidur beroda yang membawa tubuh lelaki itu diturunkan dengan perlahan. Tak ada yang terburu-buru. Sangat berbeda dengan yang biasanya dilihat lelaki itu ketika ada korban kecelakaan datang di rumah sakit. Para dokter dan perawat selalu terkesan buru-buru dan cekatan. Tapi kali ini, justru saat ia sendiri yang mengalami kecelakaan, pemandangan itu tak dijumpainya sama sekali.

Lelaki itu lalu dibawa ke dalam rumah sakit. Ke sebuah ruangan sepi yang penerangannya ia anggap tidak terlalu bagus. Lampu seperti ini tidak akan cukup mendukung untukku mengetik cerita. Kau di sini untuk tidur. Bukan untuk menulis. Hati lelaki itu tiba-tiba nyeletuk di daun telinganya. Ya, kau benar. Aku memang ingin tidur. Tak perlu marah-marah begitu.

Seorang dokter kemudian menutupi seluruh tubuh lelaki itu dengan kain putih. Setelah ruh lelaki itu bangkit dan menjauh dari tubuh yang penuh luka-luka itu. Di depannya ia melihat sebuah bayangan putih yang pernah menemuinya sebelum ini. Sebuah bayangan yang menurutnya sangat menarik untuk dijadikan sebuah ide cerita. Tapi saat ini ia tidak melihat ada kertas, mesin tik, atau pena. Bahkan ruangan ini pun ia tak tahu dimana. Yang pasti bukan ruang kerjanya. Dan dimana istriku yang tercinta itu? Ia pun memutuskan bertanya pada bayangan yang dari tadi berdiri di depannya.

“Apa yang terjadi?”

“Tidak ada. Kau hanya telah menemukan jawaban untuk pertanyaanmu selama ini.”

“Pertanyaan? Ah, ya. Tentang tidur itu.”

“Ya.”

“Siapa yang ada dibalik kain putih itu?”

“Tubuhmu.”

“Aku? Apa yang dilakukannya di bawah kain itu?”

“Tidur. Seperti yang kau mau selama ini. Tubuhmu telah melewati proses tidur itu dengan hikmad sekali.”

“Apa artinya aku telah berhasil dan tidak gagal lagi?”

“Ya. Kau berhasil merasakan tidur yang sebenarnya.”

“Akhirnya.”

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Bayangan itu pun lalu terbang dengan menggandeng tangan lelaki itu. Untuk terakhir kalinya lelaki itu melihat ke arah tubuhnya yang masih tetap diam tergolek di tempat tidur. Rasanya tak sabar menemui istri tercintanya sekedar untuk mengabarkan bahwa ia telah berhasil merasakan tidur. Tetapi bayangan putih itu terus menarik tangannya ke arah atas menembus awan-awan gelap. Rumah lelaki itu semakin lama semakin jauh tertinggal di bawahnya.

Yogyakarta, 6 April 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com

 

ShoutMix chat widget