Minggu, Mei 31, 2009
Anak-anak Bunga
-dimuat di Media Indonesia
SETAHUN lalu Alang meruntuhkan rumahnya. Tempat di mana dia biasa menyandarkan kepenatan dan menumpukan impian. Sepasang tangan lentik dan sebuah senyum khas yang begitu lama dihafalnya, telah berubah tak menarik baginya. Semisal angin yang menyapa wajahnya sesaat, lalu lewat tanpa bekas. Hingga akhirnya dia tak lagi menginginkan sapaan itu. “Sudah cukup waktu bersabar.” katanya. Itulah kali pertama dia meninggalkan ranjang dingin yang pernah basah oleh titik peluhnya. Dia pergi, dan runtuhlah rumah yang dibangunnya selama ini. Senyuman yang biasa menyambutnya setiap malam, hanya terpana melihat kepergiannya yang tak lagi tertahan.
Empat tahun lalu aku menguburkan hatiku. Tak ada lagi yang dapat mencapainya, terlebih merasukinya dengan seribu macam rasa. Aku menutup semua pintu di rumah yang tak pernah terbangun. Tak ada impian apa-apa lagi. Aku menjelma ranjang batu. Beku membunuh siapapun yang mencoba menyentuhnya. Aku mengenang Alang, kawanku. Tentang rumahnya yang diruntuhkannya. Beruntungkah aku yang tak sempat membangunnya?
KAMI bertemu di kamar sunyi. Hanya kami berdua. Tak ada rumah yang terbangun di sini, ataupun ranjang dingin yang sudah setahun dibenci laki-laki dewasa itu. Aku tersenyum padanya di tatapan yang pertama. Dia diam melihat bibirku yang terkesan tak benar-benar bahagia. Aku enggan menyapa, bahkan sekedar menyebut namanya yang sudah lama sekali tak kulakukan.
Kuperhatikan laki-laki di depanku ini, masih sama seperti dulu. Kesombongan yang kusukai pada dirinya, terpancar kuat menerpaku. “Sudah lama sekali.” kataku. Dia menantang mataku. “Masih sangat kuingat caramu memandang.” katanya seketika. Aku terkejut dan memilih diam. Kami tak pernah tahu untuk apa membuat janji pertemuan ini. Terlalu lama kami sibuk dengan diri sendiri. Lalu tiba-tiba kami berjanji bertemu di kamar ini.
Kami bicara tak tentu arah. Dua tubuh terbaring menantang langit-langit yang kusam. Suara laki-laki itu tertelan deru tarikan nafasku yang berulang-ulang. Berselingan dengan nafasnya yang terasa lebih berat. Aku mendekat padanya, melakukan yang tak terpikir olehku sebelumnya. Kupeluk laki-laki itu begitu erat. Ruang kamar mendadak sesak oleh kehampaan yang menyemburat keluar dari jiwa kami. Aku meletakkan kepalaku di dada laki-laki itu. Seluruh diriku tetap tak merasakan apa-apa oleh adegan kehangatan itu. Aku adalah ranjang batu, batinku.
“Kau masih menguburnya.” Alang berkata dengan sangat pelan.
Aku tahu dia bicara tentang hatiku. “Ya, masih sama.”
Kami menarik nafas panjang hampir bersamaan.
“Kau sendiri…tak lagi membangun rumahmu?” tanyaku.
“Sudah cukup waktu menunggu.”
“Kau meruntuhkannya. Kenapa kau retakkan tumpanganmu?”
Alang tak menjawab.
“Aku mencintai rumah yang kau bangun. Sayang aku tak sanggup membentuknya untuk diriku.” kataku lagi.
“Rumah itu membutuhkan tawa anak-anak. Anak-anak bunga.”
Kueratkan pelukanku pada tubuh laki-laki itu. “Aku tak berani memimpikan rumah itu lagi. Kau tahu, musim gugur datang berkali-kali. Pada bungaku tak lagi berkembang daun-daun baru. Mahkota telah layu di dasar tanah. Angin yang datang hanya lewat. Tak lebih.”
Laki-laki itu menyentuhkan bibirnya ke keningku. Aku tak merasakan apa-apa.
“Angin itu akan berhenti setelah berjalan jutaan mil. Tubuhnya membawakanmu putik sari untuk menyunting mulut bungamu. Daun-daun akan berganti yang baru. Mahkota bermekaran lagi.”
Aku tersenyum. “Putik sari itu bukan anak panah yang dilesatkan dari busurnya. Angin menerbangkannya tanpa arah pasti. Dia hinggap di mana saja. Bahkan di mulut daun yang sudah lama tak terbuka.”
“Rumah itu semestinyalah penuh warna bunga.” Sinar mata laki-laki itu tampak begitu nanar menerjang wajahku. Gelisah kami lahir berselingan.
“Anak-anak bunga.” sambungku.
“Kau menginginkannya bukan?”
“Apa?” seruku tiba-tiba.
“Rumah itu.”
Kalimat laki-laki ini membuat seluruh tubuhku bergetar. Dadaku berdebar kuat. Ini bukan hati yang tergali kembali, batinku meyakinkan diri.
“Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahimu anak-anak bunga.” sahutku.
Tubuhku ditariknya semakin dekat hingga wajah kami besentuhan.
“Apa kau mau menggalinya kembali?”
Mulutku terkunci mendengar pertanyaan yang menusuk jiwaku itu. Laki-laki ini tahu persis kenapa aku mengubur hatiku empat tahun lalu. Seperti juga aku tahu mengapa dan bagaimana dia meruntuhkan rumahnya sendiri. Kemana dia berteduh, dan bersendiri. Lalu untuk apa dia menanyakan hal itu padaku?
“Seperti apakah hatimu saat ini?” tanyanya lagi.
“Dia adalah pantai. Tak pernah sanggup memisahkan butiran pasir dari bangunan puri yang dibentuk tangan manusia, dengan bekas reruntuhan yang tersapu ombak.”
“Aku akan menemanimu memisahkan butiran pasir itu. Puri baru akan terbangun kembali.”
“Jangan katakan kau ingin menjagai hatiku jika kuburannya terbuka lagi.”
“Aku tetap akan peduli padamu.” Suara laki-laki itu terasa sangat kuat menghadang ketakutanku.
“Bahkan padi yang merunduk rendah hati pun tak terhindar dari serangan hama penyakit. Tapi bukankah kata-kata manis dari petani takkan mampu menguatkan padi itu untuk segar kembali dan beranjak sehat, jika tanpa perawatan? Yang terjadi di sini, padi tak lagi percaya pada pestisida.”
SATU jam berlalu dalam keheningan. Kami masih berpelukan. Tapi kesendirian tetap terasa tajam di kamar ini. Aku melihat jauh ke dalam. Benarkah aku masih punya keberanian untuk menggali kuburan hatiku yang telah mati begitu lama? Bukan aku yang membunuhnya, tapi mereka. Dan untuk apa aku membuka sesuatu yang sudah rapi tersembunyi dan tak terkenang lagi? Aku tak pernah merasa takut lagi dalam keadaan yang kujalani selama ini. Tapi kini, ketakutan itu menyibak pertahananku. Hanya karena sebuah kalimat menyapaku. Aku menginginkan rumah itu? Untuk apa? Aku takkan sanggup jika kelak harus meruntuhkannya.
Alang mengenang reruntuhan rumahnya. Rumah yang tak mengenal anak-anak bunga. Siapakah yang salah? Mulut bunga, putik sari yang terbawa angin, ataukah hujan yang tak turun menyuburkannya? Dia tak pernah lagi tertarik untuk mengenang rumah dan sebuah senyuman yang ada di dalamnya. Yang menyambutnya di tiap malam, sejak rumah itu mulai dibangunnya. Kini semua terasa hambar di mata laki-laki dewasa itu. Sampai datang pertemuan ini. Dia dan aku, di kamar sunyi.
“BAGAIMANA jika kau menggali kuburan itu untukku?”
Aku merenggangkan pelukan laki-laki itu. Kutatap matanya lekat-lekat mencari sesuatu yang telah lama kuyakini tak pernah ada dari makhluk yang bernama laki-laki.
“Akan kutemani kau membangun rumah itu.”
“Untuk kelak kau runtuhkan kembali?” Aku bertanya dengan getir. Ragu dengan semua ini.
“Yang kuinginkan adalah kita meruntuhkan ketakutan dan kehampaan ini.”
“Kita mungkin akan menemukan kesunyian yang sama. Saat itu semua akan terulang lagi. Kau meruntuhkan rumah ini, dan aku membuat kuburan baru yang takkan bisa dibuka lagi.”
Laki-laki itu melekatkan bibirnya di mataku. “Dapat kau lihat rasa kasihku di matamu?”
“Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahi anak-anak bunga.” Aku mengulang kalimat yang sudah kukatakan padanya.
“Demi anak-anak bunga, akan kusapa ranjang itu dan sekuntum bunga baru yang diam-diam mampu menggetarkan hatiku. Itu tak mudah bagiku. Juga bagimu.”
Kami saling berpandang. Mulai kurasakan sesuatu pada diriku. Apakah aku sedang melangkah, atau menyerah?
“Alang…” Aku memanggil nama laki-laki itu dengan pelan, sebelum akhirnya kuajak dirinya masuk ke jiwaku dan menggali kuburan hatiku.
Seketika ruang kamar ini tampak begitu ramai akan warna bunga. Bayangan anak-anak bunga sayup-sayup berputaran di udara.
Yogyakarta, 2005
SETAHUN lalu Alang meruntuhkan rumahnya. Tempat di mana dia biasa menyandarkan kepenatan dan menumpukan impian. Sepasang tangan lentik dan sebuah senyum khas yang begitu lama dihafalnya, telah berubah tak menarik baginya. Semisal angin yang menyapa wajahnya sesaat, lalu lewat tanpa bekas. Hingga akhirnya dia tak lagi menginginkan sapaan itu. “Sudah cukup waktu bersabar.” katanya. Itulah kali pertama dia meninggalkan ranjang dingin yang pernah basah oleh titik peluhnya. Dia pergi, dan runtuhlah rumah yang dibangunnya selama ini. Senyuman yang biasa menyambutnya setiap malam, hanya terpana melihat kepergiannya yang tak lagi tertahan.
Empat tahun lalu aku menguburkan hatiku. Tak ada lagi yang dapat mencapainya, terlebih merasukinya dengan seribu macam rasa. Aku menutup semua pintu di rumah yang tak pernah terbangun. Tak ada impian apa-apa lagi. Aku menjelma ranjang batu. Beku membunuh siapapun yang mencoba menyentuhnya. Aku mengenang Alang, kawanku. Tentang rumahnya yang diruntuhkannya. Beruntungkah aku yang tak sempat membangunnya?
KAMI bertemu di kamar sunyi. Hanya kami berdua. Tak ada rumah yang terbangun di sini, ataupun ranjang dingin yang sudah setahun dibenci laki-laki dewasa itu. Aku tersenyum padanya di tatapan yang pertama. Dia diam melihat bibirku yang terkesan tak benar-benar bahagia. Aku enggan menyapa, bahkan sekedar menyebut namanya yang sudah lama sekali tak kulakukan.
Kuperhatikan laki-laki di depanku ini, masih sama seperti dulu. Kesombongan yang kusukai pada dirinya, terpancar kuat menerpaku. “Sudah lama sekali.” kataku. Dia menantang mataku. “Masih sangat kuingat caramu memandang.” katanya seketika. Aku terkejut dan memilih diam. Kami tak pernah tahu untuk apa membuat janji pertemuan ini. Terlalu lama kami sibuk dengan diri sendiri. Lalu tiba-tiba kami berjanji bertemu di kamar ini.
Kami bicara tak tentu arah. Dua tubuh terbaring menantang langit-langit yang kusam. Suara laki-laki itu tertelan deru tarikan nafasku yang berulang-ulang. Berselingan dengan nafasnya yang terasa lebih berat. Aku mendekat padanya, melakukan yang tak terpikir olehku sebelumnya. Kupeluk laki-laki itu begitu erat. Ruang kamar mendadak sesak oleh kehampaan yang menyemburat keluar dari jiwa kami. Aku meletakkan kepalaku di dada laki-laki itu. Seluruh diriku tetap tak merasakan apa-apa oleh adegan kehangatan itu. Aku adalah ranjang batu, batinku.
“Kau masih menguburnya.” Alang berkata dengan sangat pelan.
Aku tahu dia bicara tentang hatiku. “Ya, masih sama.”
Kami menarik nafas panjang hampir bersamaan.
“Kau sendiri…tak lagi membangun rumahmu?” tanyaku.
“Sudah cukup waktu menunggu.”
“Kau meruntuhkannya. Kenapa kau retakkan tumpanganmu?”
Alang tak menjawab.
“Aku mencintai rumah yang kau bangun. Sayang aku tak sanggup membentuknya untuk diriku.” kataku lagi.
“Rumah itu membutuhkan tawa anak-anak. Anak-anak bunga.”
Kueratkan pelukanku pada tubuh laki-laki itu. “Aku tak berani memimpikan rumah itu lagi. Kau tahu, musim gugur datang berkali-kali. Pada bungaku tak lagi berkembang daun-daun baru. Mahkota telah layu di dasar tanah. Angin yang datang hanya lewat. Tak lebih.”
Laki-laki itu menyentuhkan bibirnya ke keningku. Aku tak merasakan apa-apa.
“Angin itu akan berhenti setelah berjalan jutaan mil. Tubuhnya membawakanmu putik sari untuk menyunting mulut bungamu. Daun-daun akan berganti yang baru. Mahkota bermekaran lagi.”
Aku tersenyum. “Putik sari itu bukan anak panah yang dilesatkan dari busurnya. Angin menerbangkannya tanpa arah pasti. Dia hinggap di mana saja. Bahkan di mulut daun yang sudah lama tak terbuka.”
“Rumah itu semestinyalah penuh warna bunga.” Sinar mata laki-laki itu tampak begitu nanar menerjang wajahku. Gelisah kami lahir berselingan.
“Anak-anak bunga.” sambungku.
“Kau menginginkannya bukan?”
“Apa?” seruku tiba-tiba.
“Rumah itu.”
Kalimat laki-laki ini membuat seluruh tubuhku bergetar. Dadaku berdebar kuat. Ini bukan hati yang tergali kembali, batinku meyakinkan diri.
“Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahimu anak-anak bunga.” sahutku.
Tubuhku ditariknya semakin dekat hingga wajah kami besentuhan.
“Apa kau mau menggalinya kembali?”
Mulutku terkunci mendengar pertanyaan yang menusuk jiwaku itu. Laki-laki ini tahu persis kenapa aku mengubur hatiku empat tahun lalu. Seperti juga aku tahu mengapa dan bagaimana dia meruntuhkan rumahnya sendiri. Kemana dia berteduh, dan bersendiri. Lalu untuk apa dia menanyakan hal itu padaku?
“Seperti apakah hatimu saat ini?” tanyanya lagi.
“Dia adalah pantai. Tak pernah sanggup memisahkan butiran pasir dari bangunan puri yang dibentuk tangan manusia, dengan bekas reruntuhan yang tersapu ombak.”
“Aku akan menemanimu memisahkan butiran pasir itu. Puri baru akan terbangun kembali.”
“Jangan katakan kau ingin menjagai hatiku jika kuburannya terbuka lagi.”
“Aku tetap akan peduli padamu.” Suara laki-laki itu terasa sangat kuat menghadang ketakutanku.
“Bahkan padi yang merunduk rendah hati pun tak terhindar dari serangan hama penyakit. Tapi bukankah kata-kata manis dari petani takkan mampu menguatkan padi itu untuk segar kembali dan beranjak sehat, jika tanpa perawatan? Yang terjadi di sini, padi tak lagi percaya pada pestisida.”
SATU jam berlalu dalam keheningan. Kami masih berpelukan. Tapi kesendirian tetap terasa tajam di kamar ini. Aku melihat jauh ke dalam. Benarkah aku masih punya keberanian untuk menggali kuburan hatiku yang telah mati begitu lama? Bukan aku yang membunuhnya, tapi mereka. Dan untuk apa aku membuka sesuatu yang sudah rapi tersembunyi dan tak terkenang lagi? Aku tak pernah merasa takut lagi dalam keadaan yang kujalani selama ini. Tapi kini, ketakutan itu menyibak pertahananku. Hanya karena sebuah kalimat menyapaku. Aku menginginkan rumah itu? Untuk apa? Aku takkan sanggup jika kelak harus meruntuhkannya.
Alang mengenang reruntuhan rumahnya. Rumah yang tak mengenal anak-anak bunga. Siapakah yang salah? Mulut bunga, putik sari yang terbawa angin, ataukah hujan yang tak turun menyuburkannya? Dia tak pernah lagi tertarik untuk mengenang rumah dan sebuah senyuman yang ada di dalamnya. Yang menyambutnya di tiap malam, sejak rumah itu mulai dibangunnya. Kini semua terasa hambar di mata laki-laki dewasa itu. Sampai datang pertemuan ini. Dia dan aku, di kamar sunyi.
“BAGAIMANA jika kau menggali kuburan itu untukku?”
Aku merenggangkan pelukan laki-laki itu. Kutatap matanya lekat-lekat mencari sesuatu yang telah lama kuyakini tak pernah ada dari makhluk yang bernama laki-laki.
“Akan kutemani kau membangun rumah itu.”
“Untuk kelak kau runtuhkan kembali?” Aku bertanya dengan getir. Ragu dengan semua ini.
“Yang kuinginkan adalah kita meruntuhkan ketakutan dan kehampaan ini.”
“Kita mungkin akan menemukan kesunyian yang sama. Saat itu semua akan terulang lagi. Kau meruntuhkan rumah ini, dan aku membuat kuburan baru yang takkan bisa dibuka lagi.”
Laki-laki itu melekatkan bibirnya di mataku. “Dapat kau lihat rasa kasihku di matamu?”
“Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahi anak-anak bunga.” Aku mengulang kalimat yang sudah kukatakan padanya.
“Demi anak-anak bunga, akan kusapa ranjang itu dan sekuntum bunga baru yang diam-diam mampu menggetarkan hatiku. Itu tak mudah bagiku. Juga bagimu.”
Kami saling berpandang. Mulai kurasakan sesuatu pada diriku. Apakah aku sedang melangkah, atau menyerah?
“Alang…” Aku memanggil nama laki-laki itu dengan pelan, sebelum akhirnya kuajak dirinya masuk ke jiwaku dan menggali kuburan hatiku.
Seketika ruang kamar ini tampak begitu ramai akan warna bunga. Bayangan anak-anak bunga sayup-sayup berputaran di udara.
Yogyakarta, 2005
Di Bawah Bulan Separuh
-naskah juara II Krakatau Award
INI perjalanan pertamaku menjejakkan kaki ke kotamu, kampung kelahiranmu. Tak pernah terbayangkan sebelum ini, aku bisa sampai ke kotamu. Pulau Sumatera sungguh tak pernah masuk dalam peta anganku.
Tetapi, sebulan lalu, tiba-tiba--seperti mimpi--aku bisa menyeberangi laut dan Selat Sunda. Mimpikah aku? Kau meyakinkan aku, kalau aku dalam dunia nyata. Kau cubit lenganku, kau sentuh pipiku. Terasa kan? Aku mengangguk. Berarti aku memang tidak bermimpi.
Kapal cepat yang menyeberangkan aku dari Dermaga Merak ke Pelabuhan Bakauheni, telah menjadikan nyata bagiku bisa sampai ke kota kelahiranmu. Di sini, pertama sekali yang kucicipi adalah buah durian. Menurutmu, buah berkulit duri tajam ini adalah makanan yang nikmat: bisa dibuat apa saja. Bisa dimakan langsung, diawetkan hingga menjadi nama lain yaitu tempoyak, dodol durian. “Atau bisa kita campur sambal untuk lauk makan nasi. Makanmu bisa bergairah, tiga piring tanpa kau sadari bisa masuk ke mulutmu,” katamu.
Wow! Aku pun ingin membuktikannya. Lalu kau ajak aku ke Kafe Yayang di Jalan Cut Nyak Dhien Kota Bandar Lampung. Aku menyantap banyak tempoyak yang telah dicampur sambal terasi (kau menyebut sambal khas kampung kelahiranmu ini adalah seruit). Rasanya pedas sekali. Tetapi aku suka. Keringat membasahi wajahku, terutama di bagian kening dan kedua bibirku.
“Kau makan sampai luah iting1.” Katamu. Aku tersenyum. Tak mengerti maksud bahasamu.
Aku hendak menghentikan makanku, tapi kau terus menyodorkan makanan lainnya. Kau bilang yang terhidang di meja ini, semua makanan khas di sini. “Kau bisa mencicipi sekadar, kalau kau sudah kenyang. Kapan lagi kau bisa ke kota ini, kalau kau tak mencicipinya sekarang?”
Kau benar. Aku mencicipi semua hidangan yang tersedia. Meski cuma secuil, sekadarnya. Aku jadi ingin berlama-lama tinggal di kotamu. Aku ingin memetik durian langsung dari pohonnya. Kau tahu, tiba-tiba aku mencintai kotamu, seperti aku mencintaimu. Ah, benarkah aku mencintaimu? Kupikir begitu. Meski tak sebesar cintamu padaku.
Cuma, sudah tiga hari di sini aku belum mendengar orang berbicara dengan bahasa ibunya. Tapi dengan bahasa nasional. Aku jadi heran. Kau pun menjelaskan: “Inilah demokratisnya orang Lampung, meski akhirnya bahasanya sendiri seperti tersingkir.”
Dan, katamu lagi, “Kami tak pernah terusik. Malah banyak orang asli yang pandai berbahasa etnis lain. Inilah kekuatan kami, terbuka bagi pluralisme,” katamu. Aku mengangguk. Tersenyum. Tiba-tiba aku merasa ingin kau gandeng saat menuruni Kafe Diggers, malam ini.
1 Keluar keringat, bahasa Lampung. Biasanya orang kalau makan dengan sambal terasi, pasti akan keluar keringat karena kepedasan.
Aku akan menetap di sini selama 3 bulan. Sebagai mahasiswa semester akhir, aku mengambil tugas PKL (Praktek Kerja Lapangan). Aku sengaja memilih PKL di daerahmu, agar aku bisa selalu bersama-sama denganmu. Selain itu, katamu sebelum aku mengambil pilihan lokasi PKL, aku bisa mengenal lebih dekat keluargamu secara langsung. Itu kau katakan di suratmu sebelum aku berangkat ke kotamu.
Kalau saja kau melihatku waktu itu, aku hanya mengerutkan keningku seraya berkata dalam hati: Benarkah itu? Benarkah aku telah memilihmu sebagai calon pendamping hidupku? Setahuku aku hanya ingin bisa berduaan denganmu. Itu saja.
“Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku. Terutama orang tuaku dan adik-adikku. Mereka pasti senang menerimamu. Kau gadis Jawa, ayu dan cantik!” pujimu. Aku tersipu. Kurapatkan bibirmu dengan telapak tanganku. Supaya kau tak mengumbar pujian (mungkin rayuan?) untukku.
AKU mengira, kotamu masih belantara. Masih banyak binatang buas. Menyeramkan. Penjahat beringas. Kenyataannya, kotamu nyaris sama dengan kota-kota lain di negeri ini yang telah maju. Pembangunan sangat pesat. Di sini ada pula swalayan, supermarket, dan bangunan lainnya yang mencerminkan kota maju.
Orang tuaku, terutama ibuku, sempat ragu dengan keputusanku memilih lokasi PKL di kotamu. Ia khawatir aku akan terlantar di kampung halaman orang. Tak bisa lelap karena risau diganggu binatang buas. Itu juga yang membuatmu agak kecewa. Aku memang pernah berkata: “Kalau kau hanya menunjukkan pembangunan yang pesat di daerahmu, sudah tak asing dan khas lagi.” Aku setengah protes, tapi setengahnya lagi aku hendak bertahan.
Bagaimanapun, kota kelahiranmu memang mengasyikkan. Aku merasakan warganya selalu akur-akur saja, damai-damai saja. Buktinya di sini tak pernah terjadi kerusuhan yang mencapai genting hingga membahayakan keutuhan.
Benarkah itu? Aku masih belum yakin. Berbagai etnis ada di daerah ini, bagaimana mungkin bisa hidup tanpa pernah terjadi pergesekan? Tetapi, sudahlah, aku tak sedang mempersoalkan sosiologi di kampung kelahiranmu.
Sebelum memulai tugas PKL di Desa Bakung2, kau sempat mengajakku mengunjungi Taman Nasional Bukit Barisan di Bengkunat3 yang menawan. Dan jika dikelola, tentunya bisa mendatangkan devisa bagi pemerintah. Aku sempat ketakutan kala warga Bakung melakukan protes soal tanah ulayat dengan perusahaan pabrik gula. Protes itu berkembang menjadi pertikaian. Ada yang tewas dalam insiden itu. Wajar bila warga Bakung protes, karena ganti rugi tanah ulayat mereka yang digunakan ladang tebu oleh pabrik gula milik keluarga Cendana, sungguh tak wajar. Hanya saja dulu mereka tak berani.
2 nama desa di Tulangbawang
3 nama desa di Lampung Barat
Kasus tanah ulayat Bakung itu menarik. Kau memberi banyak informasi dan data tentang itu. “Kau bisa membuat penelitian tentang kasus tanah di situ. Menarik, sangat menarik.” Aku tertarik. Kemudian setiap malam aku banyak mengobrol, diskusi, dan masuk ke dalam denyut napas orang-orang Bakung. Kau selalu setia menemaniku.
Aku suka tinggal di rumah orang tuamu, daripada di rumah yang disediakan Pak Camat Ari Zamzari selama masa PKL. Rumah tinggalmu terkesan khas: rumah panggung. Suatu hal baru yang tak kujumpai di tanah Jawa. Seluruh penyangga rumahmu terbuat dari kayu. Kayu dari batang yang kuat dan tahan lama. Katamu sudah hampir 70 tahun. Rumah khas seperti itu kini banyak disukai orang-orang berduit dari kota.
Aku jadi ingin menetap di sini kelak. Setelah kau menyunting aku, tentunya. Tetapi, mungkinkah itu? Menurut adatmu, anak tertua sebagai penyimbang, harus menikah dengan gadis asli daerahmu. Kau menyebutnya muli.4 Dengan begitu kau bisa mendapatkan warisan. Anak-anakmu akan mendapatkan gelar dan diperkenankan cakak pepadun.5
4 istilah ini saya kutip dari sajak dengan judul sama karya Isbedy Stiawan ZS, lihat Aku Tandai Tahi Lalatmu hal. 88, Gama Media Jogjakarta, Januari 2003
5 gelar adat, sayangnya gelar ini bisa diberikan kepada siapa saja asal punya uang. Karena itu, gelar ini sekarang kerap diberikan kepada para pejabat di sini.
Aku yang bukan gadis asli daerah ini, bagaimana mungkin bisa mendampingimu? Aku sempat ragu juga. Meski orang tuamu, keluargamu, tampak baik-baik saja denganku. Keluargamu sangat menerima kehadiranku. Itulah yang membuatku betah selama PKL. Namun, diam-diam aku juga bertanya pada diriku sendiri. Sungguhkah aku ingin menikah denganmu? Jangan-jangan tidak. Jangan-jangan aku salah menafsirkan perasaanku padamu. Dan pikiranmu tentangku selama ini keliru. Entahlah. Aku takut dengan rahasia yang kusimpan sendiri. Aku merasa memiliki cinta untukmu. Tapi seberapakah? Dan berhakkah aku?
MALAM di Rawa Jitu, aku sempat gemetar. Tulang-tulang persendianku seperti hendak copot. Benar-benar aku dicekam ketakutan. Waktu itu kau tak menemaniku. Kau mendapat tugas mendampingi klienmu di Menggala, ibu kota Tulangbawang.
Bagaimana aku tidak ketakutan. Bahkan aku nyaris mati berdiri. Sekawanan gajah menyerbu perkampungan. Warga menghidupi puluhan obor, tapi kawanan gajah itu tak juga kembali ke belantara. Bahkan parit dengan kedalaman 1,5 meter yang dibuat warga sebagai benteng, bisa dengan mudah dilewati para gajah itu. Kawanan hewan tambun berbelalai panjang itu menggasak rumah-rumah warga. Memorak-porandakan isi rumah, merusak perkebunan warga. Mencabuti ladang singkong dan tebu.
Kami dicekam ketakutan. Kentongan dari kayu tak henti dipukuli. Biar riuh. Agar gajah-gajah itu masuk kembali ke habitatnya. Sayangnya itu sia-sia. Seorang ibu dan dua anak-anak diremukkan dengan belalainya sebelum dilempar ke semak. Mati. Ya, malam itu tiga warga di situ tewas. Pertempuran tak sebanding. Pikirku. Aku benar-benar takut. Gigil. Tiba-tiba aku teringat pada ibuku di Jawa. Apakah ia merasakan apa yang kualami sekarang? Sebuah rasa ketakutan yang sempurna. Aku menyelamatkan diri ke kampung sebelah. Dievakuasi ke daerah lain. Tak hendak lagi menetap di rumah yang disediakan camat. Aku memilih tinggal di rumahmu, bersamamu. Sampai masa PKL-ku selesai.
“Bukankah ini yang kau inginkan?” kau berbisik. Bulan separuh di langit. Kita duduk di bawah pohon jambu dekat rumahmu. Agak temaram. Aku menikmati tanganmu membelai rambutku. Kau masih seperti waktu di kampus dulu. Amat sayang dan memperhatikan aku.
“Sudah berapa lama kita tak seperti ini, ya?”
Kau memandangku sejenak. Kau tak menjawab. Rasanya memang pertanyaanku itu tak memerlukan jawaban. Memang kau lebih dulu selesai. Kau cerdas. Apalagi kau selalu mengambil kuliah pintas: semester pendek. “Aku ingin segera menyelesaikan kuliah. Kasihan orang tuaku di kampung, aku ingin mengabdi pada mereka,” katamu. Kau pun berjanji akan tetap bersamaku, akan selalu mencintaiku. “Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku…”
Aku percaya. Itu bukan rayuanmu. Kau pun segera bekerja, sebagai pegawai negeri di instansi Departemen Kehakiman. Kau ditempatkan di kantor kejaksaan di kotamu. Surat-suratmu tetap mengalir kuterima. Tapi aku juga tetap membawa rahasia diriku. Tentang cintaku padamu. Yang aku sendiri tak begitu mengerti. Dan kau tak pernah tahu.
“Aku mengagumi ketegasanmu, kekonsistenanmu,” aku memuji. Kau hanya tersenyum. Aku getir. Entah kenapa. Merasa bersalahkah? Atau aku mulai bermain lidah? Membohongimu dengan kata-kataku.
Kalau saja tidak karena urusan kuliah dan aku harus segera ujian akhir, mungkin aku akan berlama-lama lagi menetap di kampung kelahiranmu. Aku sudah telanjur jatuh hati dengan kampungmu, dengan keterbukaan warganya, dan keramahan keluargamu. “Terutama denganmu, sayang…” kataku. Tapi bagaimanapun, aku harus pulang. Kembali ke Jawa. Kembali berpisah denganmu. Dengan sebuah rahasia dalam diriku. Tentang cintaku. Diriku.
AKU telah mendapat gelar kesarjanaanku. Kau tak datang saat wisudaku karena pekerjaanmu mengharuskan kau tetap ada di kotamu. Aku maklum. Atau…. Entahlah. Aku maklum atau justru tak terlalu peduli. Saat itu, di gedung auditorium kampusku, seorang lelaki lain berdiri di sampingku. Ya. Dialah yang mendampingiku selama acara wisudaku berlangsung. Dan, kau tak tahu itu.
Kini aku masih menganggur. Aku tak secerdas kau. Aku harus mencari pekerjaan dengan sekian peluhku. Tak seperti dirimu yang justru dicari-cari pekerjaan. Banyak perusahaan menunggu dan menawarimu pekerjaan bahkan sebelum kau lulus dari universitas.
Bulan demi bulan berjalan dengan cepat. Surat-suratmu masih menyapaku, meskipun semakin jarang saja. Aku tahu kenapa begitu. Bukan karena kau tak mencintaiku lagi, tapi barangkali kau lelah dan bingung. Kau pernah bilang ingin melamarku, tapi ternyata kau harus berhadapan dengan sebuah dinding yang membuatmu begitu dilematis. Keluarga besarmu memang pernah menerimaku dengan baik saat aku di kotamu.
Ya. Mereka menerimaku sebagai tamu mereka. Temanmu. Tapi sesungguhnya, mereka tetap menginginkan kau kelak menikah dengan gadis satu suku denganmu. Berarti bukan aku. Tapi anehnya, aku tak bersedih karena hal itu. Atau berusaha untuk tidak sedih? Atau tidak berani untuk bersedih? Ah. Jika kuingat siapa aku, aku merasa tak berhak untuk bersedih.
Aku mengingat dirimu. Juga surat-suratmu yang kian tak menemuiku di sini. Sedang apakah kau di sana, sayang? Adakah kau mengira aku tengah menangisi nasib cinta kita yang kemungkinan besar tak bisa bersatu? Ah. Tiba-tiba aku ingin sekali memberitahumu yang sebenarnya terjadi padaku di sini.
Aku mencintaimu. Tapi aku tak pernah bisa meyakini diriku sendiri. Aku, sesungguhnya, tak sebaik yang kau kira. Aku bermain di belakangmu. Dengan semua rahasia tentang cintaku. Diriku. Dan kau tak pernah sekali pun tahu. Mungkin, kau tak pernah benar-benar mengenalku. Ataupun kehidupanku. Keluargaku. Terlebih setelah kau menjadi demikian bisu. Jarang menghubungiku.
Keadaan yang mungkin telah membuatmu luka itu, juga surat-suratmu yang hanya sesekali kau kirimkan padaku, malah menjadi alasan untukku menyelamatkan diri darimu. Dengan semua permainanku selama ini di belakangmu. Aduh, sayang, maafkan aku.
Atau aku malah mensyukuri keadaan yang menimpa cinta kita? Mungkinkah aku memang benar-benar mencintaimu? Hanya aku tak berani (malu?) untuk menempuh hidup bersamamu? Aku memang telah tahu keluargamu. Mereka sangat baik, bahkan padaku. Tapi kau sama sekali tidak tahu siapa keluargaku. Iya, kan?
Dan entah kau sadari atau tidak, aku sengaja tak pernah mengajakmu untuk menemui keluargaku. Mengenal ibuku yang menderita sakit sejak aku kembali dari kotamu. Kau pun tak tahu kalau aku tak mempunyai ayah lagi. Sungguh, kau tak mengenalku. Selama ini aku yang kau lihat bukanlah aku yang sebenarnya.
Maka ada rasa senang ketika kutahu keluargamu menolak rencanamu untuk menikahiku. Aku pun tak memrotesmu ketika kau mulai jarang menyuratiku di sini. Mungkin ini yang terbaik untukmu. Karena kau tak tahu aku. Barangkali, kalau kau tahu siapa aku, kau juga akan langsung meninggalkanku begitu saja. Barangkali tak akan pernah ada rencana pernikahan kita di kepalamu.
Aku duduk di sisi kanan ranjang yang menopang tubuh kurus ibuku, di rumah kami yang sempit. Sudah cukup lama ia sakit. Dan sudah begitu banyak obat yang masuk ke perutnya. Tapi ia tak juga beranjak sembuh. Malah sebaliknya. Dadaku sesak. Memikirkan keadaan keluargaku. Ibuku, dan dua adikku yang masih kecil-kecil. Uang yang kumiliki, telah terkuras untuk membeli obat-obatan ibuku. Aku beruntung masih bisa menyelesaikan kuliahku.
Aku ingat pada kekasihku di seberang. Semua kenangan indahku bersamanya di kota kelahirannya, masih kuingat dengan sangat rapi. Kini aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Barangkali dia sudah menikah, pikirku. Entahlah. Aku pun ingin menghilang darinya. Saat ini, aku harus memfokuskan diriku untuk keluargaku. Agar adik-adikku tidak terlantar. Seperti selama ini, akulah tiang keluarga ini. Dan aku berhasil. Bahkan dapat membiayai kuliahku. Meski, cara yang kupilih ini tidak sesuai dengan hatiku sendiri. Tapi, aku terpaksa melakukannya.
Mataku berkaca-kaca. Kesejukan udara pagi berubah menyakitkan bagiku. Suara embun yang menitik di daun kurasakan seperti jarum-jarum yang menusuki dadaku. Aku berusaha menahan rasa sedihku. Di hadapanku, ibuku menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dua adikku hanya menangis dan menangis. Aku pusing.
Malam menjemputku. Ini malam ke sepuluh setelah kematian ibuku. Kegelapannya seolah berusaha menutupi semua kesedihan yang terlukis di wajahku. Aku masih menganggur. Tapi aku tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Aku dan kedua adikku harus melanjutkan hidup kami. Demi mereka, batinku. Maka….
AKU telah berdandan rapi. Seperti yang biasa kulakukan selama aku masih kuliah dulu. Kutinggalkan rumah. Ada rasa jengah pada diri sendiri. Tapi kumusnahkan.
Aku kembali pada pekerjaan lamaku. Menjadikan malam-malamku sebagai ajang pertempuran. Pergumulan. Aku membayangkan sekian lembaran uang kertas di tanganku besok pagi.
Seorang lelaki kini tengah menindih tubuhku yang telanjang. Di sebuah hotel, kamar 105…
MUNGKIN kau tak akan pernah tahu, atau sama sekali tak mau peduli, tentangku. Aku pun begitu. Tak pernah mengharap, bahkan untuk selembar kabar darimu. Meski kenangan-kenangan semasa aku di kampung kelahiranmu, tak pernah akan pupus.
“Setiap tamu datang dan meminum air sungai ini, ia pasti akan kembali. Air sungai ini seperti menghipnotisnya. Sungai Tulangbawang ini kami yakini bertuah,” ujarmu. Di bawah bulan separuh. Langit cemerlang. Sungai tua bernama Tulangbawang6 tengah tenang berombak, di kejauhan tampak samar-samar.
6 konon dalam sejarah, di sini pernah ada Kerajaan Tulangbawang. Namun kebenarannya, tak satu pun sejarahwan di Lampung dapat membuktikannya.
Waktu itu aku tak begitu yakin. Itu hanya dongeng. Legenda. Bisa kita lupakan. Ternyata benar. Aku tak akan pernah kembali ke kampung kelahiranmu. Meski kenangan-kenangan itu masih terang di benakku. Juga tentang dirimu. Cinta kita.
Kubiarkan segala kenangan dan cinta kita tetap ada, betapa pun aku telah berpindah-pindah dari lelaki satu ke lelaki yang lain. Masuk hotel dan keluar hotel. Ditiduri. Kota ini akan menyembunyikan diriku. Tak seorang pun tahu. Seperti malam ini, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 03.15, dengan langkah gontai karena kebanyakan air beralkohol kutinggalkan kamar hotel itu.
Pulang. Ya. Sebelum pagi menjemput. Sebelum bulan separuh di atas kepalaku lesap di peraduannya. Aku masih saja terkenang kampung kelahiranmu yang menyimpan selaksa harapan. Ya, harapan…
Yogyakarta, Agustus 2003
INI perjalanan pertamaku menjejakkan kaki ke kotamu, kampung kelahiranmu. Tak pernah terbayangkan sebelum ini, aku bisa sampai ke kotamu. Pulau Sumatera sungguh tak pernah masuk dalam peta anganku.
Tetapi, sebulan lalu, tiba-tiba--seperti mimpi--aku bisa menyeberangi laut dan Selat Sunda. Mimpikah aku? Kau meyakinkan aku, kalau aku dalam dunia nyata. Kau cubit lenganku, kau sentuh pipiku. Terasa kan? Aku mengangguk. Berarti aku memang tidak bermimpi.
Kapal cepat yang menyeberangkan aku dari Dermaga Merak ke Pelabuhan Bakauheni, telah menjadikan nyata bagiku bisa sampai ke kota kelahiranmu. Di sini, pertama sekali yang kucicipi adalah buah durian. Menurutmu, buah berkulit duri tajam ini adalah makanan yang nikmat: bisa dibuat apa saja. Bisa dimakan langsung, diawetkan hingga menjadi nama lain yaitu tempoyak, dodol durian. “Atau bisa kita campur sambal untuk lauk makan nasi. Makanmu bisa bergairah, tiga piring tanpa kau sadari bisa masuk ke mulutmu,” katamu.
Wow! Aku pun ingin membuktikannya. Lalu kau ajak aku ke Kafe Yayang di Jalan Cut Nyak Dhien Kota Bandar Lampung. Aku menyantap banyak tempoyak yang telah dicampur sambal terasi (kau menyebut sambal khas kampung kelahiranmu ini adalah seruit). Rasanya pedas sekali. Tetapi aku suka. Keringat membasahi wajahku, terutama di bagian kening dan kedua bibirku.
“Kau makan sampai luah iting1.” Katamu. Aku tersenyum. Tak mengerti maksud bahasamu.
Aku hendak menghentikan makanku, tapi kau terus menyodorkan makanan lainnya. Kau bilang yang terhidang di meja ini, semua makanan khas di sini. “Kau bisa mencicipi sekadar, kalau kau sudah kenyang. Kapan lagi kau bisa ke kota ini, kalau kau tak mencicipinya sekarang?”
Kau benar. Aku mencicipi semua hidangan yang tersedia. Meski cuma secuil, sekadarnya. Aku jadi ingin berlama-lama tinggal di kotamu. Aku ingin memetik durian langsung dari pohonnya. Kau tahu, tiba-tiba aku mencintai kotamu, seperti aku mencintaimu. Ah, benarkah aku mencintaimu? Kupikir begitu. Meski tak sebesar cintamu padaku.
Cuma, sudah tiga hari di sini aku belum mendengar orang berbicara dengan bahasa ibunya. Tapi dengan bahasa nasional. Aku jadi heran. Kau pun menjelaskan: “Inilah demokratisnya orang Lampung, meski akhirnya bahasanya sendiri seperti tersingkir.”
Dan, katamu lagi, “Kami tak pernah terusik. Malah banyak orang asli yang pandai berbahasa etnis lain. Inilah kekuatan kami, terbuka bagi pluralisme,” katamu. Aku mengangguk. Tersenyum. Tiba-tiba aku merasa ingin kau gandeng saat menuruni Kafe Diggers, malam ini.
1 Keluar keringat, bahasa Lampung. Biasanya orang kalau makan dengan sambal terasi, pasti akan keluar keringat karena kepedasan.
Aku akan menetap di sini selama 3 bulan. Sebagai mahasiswa semester akhir, aku mengambil tugas PKL (Praktek Kerja Lapangan). Aku sengaja memilih PKL di daerahmu, agar aku bisa selalu bersama-sama denganmu. Selain itu, katamu sebelum aku mengambil pilihan lokasi PKL, aku bisa mengenal lebih dekat keluargamu secara langsung. Itu kau katakan di suratmu sebelum aku berangkat ke kotamu.
Kalau saja kau melihatku waktu itu, aku hanya mengerutkan keningku seraya berkata dalam hati: Benarkah itu? Benarkah aku telah memilihmu sebagai calon pendamping hidupku? Setahuku aku hanya ingin bisa berduaan denganmu. Itu saja.
“Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku. Terutama orang tuaku dan adik-adikku. Mereka pasti senang menerimamu. Kau gadis Jawa, ayu dan cantik!” pujimu. Aku tersipu. Kurapatkan bibirmu dengan telapak tanganku. Supaya kau tak mengumbar pujian (mungkin rayuan?) untukku.
AKU mengira, kotamu masih belantara. Masih banyak binatang buas. Menyeramkan. Penjahat beringas. Kenyataannya, kotamu nyaris sama dengan kota-kota lain di negeri ini yang telah maju. Pembangunan sangat pesat. Di sini ada pula swalayan, supermarket, dan bangunan lainnya yang mencerminkan kota maju.
Orang tuaku, terutama ibuku, sempat ragu dengan keputusanku memilih lokasi PKL di kotamu. Ia khawatir aku akan terlantar di kampung halaman orang. Tak bisa lelap karena risau diganggu binatang buas. Itu juga yang membuatmu agak kecewa. Aku memang pernah berkata: “Kalau kau hanya menunjukkan pembangunan yang pesat di daerahmu, sudah tak asing dan khas lagi.” Aku setengah protes, tapi setengahnya lagi aku hendak bertahan.
Bagaimanapun, kota kelahiranmu memang mengasyikkan. Aku merasakan warganya selalu akur-akur saja, damai-damai saja. Buktinya di sini tak pernah terjadi kerusuhan yang mencapai genting hingga membahayakan keutuhan.
Benarkah itu? Aku masih belum yakin. Berbagai etnis ada di daerah ini, bagaimana mungkin bisa hidup tanpa pernah terjadi pergesekan? Tetapi, sudahlah, aku tak sedang mempersoalkan sosiologi di kampung kelahiranmu.
Sebelum memulai tugas PKL di Desa Bakung2, kau sempat mengajakku mengunjungi Taman Nasional Bukit Barisan di Bengkunat3 yang menawan. Dan jika dikelola, tentunya bisa mendatangkan devisa bagi pemerintah. Aku sempat ketakutan kala warga Bakung melakukan protes soal tanah ulayat dengan perusahaan pabrik gula. Protes itu berkembang menjadi pertikaian. Ada yang tewas dalam insiden itu. Wajar bila warga Bakung protes, karena ganti rugi tanah ulayat mereka yang digunakan ladang tebu oleh pabrik gula milik keluarga Cendana, sungguh tak wajar. Hanya saja dulu mereka tak berani.
2 nama desa di Tulangbawang
3 nama desa di Lampung Barat
Kasus tanah ulayat Bakung itu menarik. Kau memberi banyak informasi dan data tentang itu. “Kau bisa membuat penelitian tentang kasus tanah di situ. Menarik, sangat menarik.” Aku tertarik. Kemudian setiap malam aku banyak mengobrol, diskusi, dan masuk ke dalam denyut napas orang-orang Bakung. Kau selalu setia menemaniku.
Aku suka tinggal di rumah orang tuamu, daripada di rumah yang disediakan Pak Camat Ari Zamzari selama masa PKL. Rumah tinggalmu terkesan khas: rumah panggung. Suatu hal baru yang tak kujumpai di tanah Jawa. Seluruh penyangga rumahmu terbuat dari kayu. Kayu dari batang yang kuat dan tahan lama. Katamu sudah hampir 70 tahun. Rumah khas seperti itu kini banyak disukai orang-orang berduit dari kota.
Aku jadi ingin menetap di sini kelak. Setelah kau menyunting aku, tentunya. Tetapi, mungkinkah itu? Menurut adatmu, anak tertua sebagai penyimbang, harus menikah dengan gadis asli daerahmu. Kau menyebutnya muli.4 Dengan begitu kau bisa mendapatkan warisan. Anak-anakmu akan mendapatkan gelar dan diperkenankan cakak pepadun.5
4 istilah ini saya kutip dari sajak dengan judul sama karya Isbedy Stiawan ZS, lihat Aku Tandai Tahi Lalatmu hal. 88, Gama Media Jogjakarta, Januari 2003
5 gelar adat, sayangnya gelar ini bisa diberikan kepada siapa saja asal punya uang. Karena itu, gelar ini sekarang kerap diberikan kepada para pejabat di sini.
Aku yang bukan gadis asli daerah ini, bagaimana mungkin bisa mendampingimu? Aku sempat ragu juga. Meski orang tuamu, keluargamu, tampak baik-baik saja denganku. Keluargamu sangat menerima kehadiranku. Itulah yang membuatku betah selama PKL. Namun, diam-diam aku juga bertanya pada diriku sendiri. Sungguhkah aku ingin menikah denganmu? Jangan-jangan tidak. Jangan-jangan aku salah menafsirkan perasaanku padamu. Dan pikiranmu tentangku selama ini keliru. Entahlah. Aku takut dengan rahasia yang kusimpan sendiri. Aku merasa memiliki cinta untukmu. Tapi seberapakah? Dan berhakkah aku?
MALAM di Rawa Jitu, aku sempat gemetar. Tulang-tulang persendianku seperti hendak copot. Benar-benar aku dicekam ketakutan. Waktu itu kau tak menemaniku. Kau mendapat tugas mendampingi klienmu di Menggala, ibu kota Tulangbawang.
Bagaimana aku tidak ketakutan. Bahkan aku nyaris mati berdiri. Sekawanan gajah menyerbu perkampungan. Warga menghidupi puluhan obor, tapi kawanan gajah itu tak juga kembali ke belantara. Bahkan parit dengan kedalaman 1,5 meter yang dibuat warga sebagai benteng, bisa dengan mudah dilewati para gajah itu. Kawanan hewan tambun berbelalai panjang itu menggasak rumah-rumah warga. Memorak-porandakan isi rumah, merusak perkebunan warga. Mencabuti ladang singkong dan tebu.
Kami dicekam ketakutan. Kentongan dari kayu tak henti dipukuli. Biar riuh. Agar gajah-gajah itu masuk kembali ke habitatnya. Sayangnya itu sia-sia. Seorang ibu dan dua anak-anak diremukkan dengan belalainya sebelum dilempar ke semak. Mati. Ya, malam itu tiga warga di situ tewas. Pertempuran tak sebanding. Pikirku. Aku benar-benar takut. Gigil. Tiba-tiba aku teringat pada ibuku di Jawa. Apakah ia merasakan apa yang kualami sekarang? Sebuah rasa ketakutan yang sempurna. Aku menyelamatkan diri ke kampung sebelah. Dievakuasi ke daerah lain. Tak hendak lagi menetap di rumah yang disediakan camat. Aku memilih tinggal di rumahmu, bersamamu. Sampai masa PKL-ku selesai.
“Bukankah ini yang kau inginkan?” kau berbisik. Bulan separuh di langit. Kita duduk di bawah pohon jambu dekat rumahmu. Agak temaram. Aku menikmati tanganmu membelai rambutku. Kau masih seperti waktu di kampus dulu. Amat sayang dan memperhatikan aku.
“Sudah berapa lama kita tak seperti ini, ya?”
Kau memandangku sejenak. Kau tak menjawab. Rasanya memang pertanyaanku itu tak memerlukan jawaban. Memang kau lebih dulu selesai. Kau cerdas. Apalagi kau selalu mengambil kuliah pintas: semester pendek. “Aku ingin segera menyelesaikan kuliah. Kasihan orang tuaku di kampung, aku ingin mengabdi pada mereka,” katamu. Kau pun berjanji akan tetap bersamaku, akan selalu mencintaiku. “Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku…”
Aku percaya. Itu bukan rayuanmu. Kau pun segera bekerja, sebagai pegawai negeri di instansi Departemen Kehakiman. Kau ditempatkan di kantor kejaksaan di kotamu. Surat-suratmu tetap mengalir kuterima. Tapi aku juga tetap membawa rahasia diriku. Tentang cintaku padamu. Yang aku sendiri tak begitu mengerti. Dan kau tak pernah tahu.
“Aku mengagumi ketegasanmu, kekonsistenanmu,” aku memuji. Kau hanya tersenyum. Aku getir. Entah kenapa. Merasa bersalahkah? Atau aku mulai bermain lidah? Membohongimu dengan kata-kataku.
Kalau saja tidak karena urusan kuliah dan aku harus segera ujian akhir, mungkin aku akan berlama-lama lagi menetap di kampung kelahiranmu. Aku sudah telanjur jatuh hati dengan kampungmu, dengan keterbukaan warganya, dan keramahan keluargamu. “Terutama denganmu, sayang…” kataku. Tapi bagaimanapun, aku harus pulang. Kembali ke Jawa. Kembali berpisah denganmu. Dengan sebuah rahasia dalam diriku. Tentang cintaku. Diriku.
AKU telah mendapat gelar kesarjanaanku. Kau tak datang saat wisudaku karena pekerjaanmu mengharuskan kau tetap ada di kotamu. Aku maklum. Atau…. Entahlah. Aku maklum atau justru tak terlalu peduli. Saat itu, di gedung auditorium kampusku, seorang lelaki lain berdiri di sampingku. Ya. Dialah yang mendampingiku selama acara wisudaku berlangsung. Dan, kau tak tahu itu.
Kini aku masih menganggur. Aku tak secerdas kau. Aku harus mencari pekerjaan dengan sekian peluhku. Tak seperti dirimu yang justru dicari-cari pekerjaan. Banyak perusahaan menunggu dan menawarimu pekerjaan bahkan sebelum kau lulus dari universitas.
Bulan demi bulan berjalan dengan cepat. Surat-suratmu masih menyapaku, meskipun semakin jarang saja. Aku tahu kenapa begitu. Bukan karena kau tak mencintaiku lagi, tapi barangkali kau lelah dan bingung. Kau pernah bilang ingin melamarku, tapi ternyata kau harus berhadapan dengan sebuah dinding yang membuatmu begitu dilematis. Keluarga besarmu memang pernah menerimaku dengan baik saat aku di kotamu.
Ya. Mereka menerimaku sebagai tamu mereka. Temanmu. Tapi sesungguhnya, mereka tetap menginginkan kau kelak menikah dengan gadis satu suku denganmu. Berarti bukan aku. Tapi anehnya, aku tak bersedih karena hal itu. Atau berusaha untuk tidak sedih? Atau tidak berani untuk bersedih? Ah. Jika kuingat siapa aku, aku merasa tak berhak untuk bersedih.
Aku mengingat dirimu. Juga surat-suratmu yang kian tak menemuiku di sini. Sedang apakah kau di sana, sayang? Adakah kau mengira aku tengah menangisi nasib cinta kita yang kemungkinan besar tak bisa bersatu? Ah. Tiba-tiba aku ingin sekali memberitahumu yang sebenarnya terjadi padaku di sini.
Aku mencintaimu. Tapi aku tak pernah bisa meyakini diriku sendiri. Aku, sesungguhnya, tak sebaik yang kau kira. Aku bermain di belakangmu. Dengan semua rahasia tentang cintaku. Diriku. Dan kau tak pernah sekali pun tahu. Mungkin, kau tak pernah benar-benar mengenalku. Ataupun kehidupanku. Keluargaku. Terlebih setelah kau menjadi demikian bisu. Jarang menghubungiku.
Keadaan yang mungkin telah membuatmu luka itu, juga surat-suratmu yang hanya sesekali kau kirimkan padaku, malah menjadi alasan untukku menyelamatkan diri darimu. Dengan semua permainanku selama ini di belakangmu. Aduh, sayang, maafkan aku.
Atau aku malah mensyukuri keadaan yang menimpa cinta kita? Mungkinkah aku memang benar-benar mencintaimu? Hanya aku tak berani (malu?) untuk menempuh hidup bersamamu? Aku memang telah tahu keluargamu. Mereka sangat baik, bahkan padaku. Tapi kau sama sekali tidak tahu siapa keluargaku. Iya, kan?
Dan entah kau sadari atau tidak, aku sengaja tak pernah mengajakmu untuk menemui keluargaku. Mengenal ibuku yang menderita sakit sejak aku kembali dari kotamu. Kau pun tak tahu kalau aku tak mempunyai ayah lagi. Sungguh, kau tak mengenalku. Selama ini aku yang kau lihat bukanlah aku yang sebenarnya.
Maka ada rasa senang ketika kutahu keluargamu menolak rencanamu untuk menikahiku. Aku pun tak memrotesmu ketika kau mulai jarang menyuratiku di sini. Mungkin ini yang terbaik untukmu. Karena kau tak tahu aku. Barangkali, kalau kau tahu siapa aku, kau juga akan langsung meninggalkanku begitu saja. Barangkali tak akan pernah ada rencana pernikahan kita di kepalamu.
Aku duduk di sisi kanan ranjang yang menopang tubuh kurus ibuku, di rumah kami yang sempit. Sudah cukup lama ia sakit. Dan sudah begitu banyak obat yang masuk ke perutnya. Tapi ia tak juga beranjak sembuh. Malah sebaliknya. Dadaku sesak. Memikirkan keadaan keluargaku. Ibuku, dan dua adikku yang masih kecil-kecil. Uang yang kumiliki, telah terkuras untuk membeli obat-obatan ibuku. Aku beruntung masih bisa menyelesaikan kuliahku.
Aku ingat pada kekasihku di seberang. Semua kenangan indahku bersamanya di kota kelahirannya, masih kuingat dengan sangat rapi. Kini aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Barangkali dia sudah menikah, pikirku. Entahlah. Aku pun ingin menghilang darinya. Saat ini, aku harus memfokuskan diriku untuk keluargaku. Agar adik-adikku tidak terlantar. Seperti selama ini, akulah tiang keluarga ini. Dan aku berhasil. Bahkan dapat membiayai kuliahku. Meski, cara yang kupilih ini tidak sesuai dengan hatiku sendiri. Tapi, aku terpaksa melakukannya.
Mataku berkaca-kaca. Kesejukan udara pagi berubah menyakitkan bagiku. Suara embun yang menitik di daun kurasakan seperti jarum-jarum yang menusuki dadaku. Aku berusaha menahan rasa sedihku. Di hadapanku, ibuku menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dua adikku hanya menangis dan menangis. Aku pusing.
Malam menjemputku. Ini malam ke sepuluh setelah kematian ibuku. Kegelapannya seolah berusaha menutupi semua kesedihan yang terlukis di wajahku. Aku masih menganggur. Tapi aku tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Aku dan kedua adikku harus melanjutkan hidup kami. Demi mereka, batinku. Maka….
AKU telah berdandan rapi. Seperti yang biasa kulakukan selama aku masih kuliah dulu. Kutinggalkan rumah. Ada rasa jengah pada diri sendiri. Tapi kumusnahkan.
Aku kembali pada pekerjaan lamaku. Menjadikan malam-malamku sebagai ajang pertempuran. Pergumulan. Aku membayangkan sekian lembaran uang kertas di tanganku besok pagi.
Seorang lelaki kini tengah menindih tubuhku yang telanjang. Di sebuah hotel, kamar 105…
MUNGKIN kau tak akan pernah tahu, atau sama sekali tak mau peduli, tentangku. Aku pun begitu. Tak pernah mengharap, bahkan untuk selembar kabar darimu. Meski kenangan-kenangan semasa aku di kampung kelahiranmu, tak pernah akan pupus.
“Setiap tamu datang dan meminum air sungai ini, ia pasti akan kembali. Air sungai ini seperti menghipnotisnya. Sungai Tulangbawang ini kami yakini bertuah,” ujarmu. Di bawah bulan separuh. Langit cemerlang. Sungai tua bernama Tulangbawang6 tengah tenang berombak, di kejauhan tampak samar-samar.
6 konon dalam sejarah, di sini pernah ada Kerajaan Tulangbawang. Namun kebenarannya, tak satu pun sejarahwan di Lampung dapat membuktikannya.
Waktu itu aku tak begitu yakin. Itu hanya dongeng. Legenda. Bisa kita lupakan. Ternyata benar. Aku tak akan pernah kembali ke kampung kelahiranmu. Meski kenangan-kenangan itu masih terang di benakku. Juga tentang dirimu. Cinta kita.
Kubiarkan segala kenangan dan cinta kita tetap ada, betapa pun aku telah berpindah-pindah dari lelaki satu ke lelaki yang lain. Masuk hotel dan keluar hotel. Ditiduri. Kota ini akan menyembunyikan diriku. Tak seorang pun tahu. Seperti malam ini, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 03.15, dengan langkah gontai karena kebanyakan air beralkohol kutinggalkan kamar hotel itu.
Pulang. Ya. Sebelum pagi menjemput. Sebelum bulan separuh di atas kepalaku lesap di peraduannya. Aku masih saja terkenang kampung kelahiranmu yang menyimpan selaksa harapan. Ya, harapan…
Yogyakarta, Agustus 2003
Kekasih Seorang Lelaki
-dimuat di harian Jawa Pos
Ini kesekian kalinya aku ingin pergi. Dari rumah yang lima tahun lalu kubangun sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi tempat berteduh bagiku dan Maya, istriku. Tapi kemudian aku tidak lagi merasa nyaman, ketika peristiwa itu terjadi di suatu malam, setelah aku kelelahan menulis. Aku berjumpa dengan kekasihku, dan kami saling jatuh cinta. Ia bilang telah menungguku begitu lama. Hingga tergurat luka rindu yang merentang panjang di antara aku dan dia. Waktu itu aku menatapnya tajam dan ia tertunduk malu. Kukatakan padanya aku akan datang menujunya. Ia bertanya, "Kapan?", seolah tak percaya pada perkataan dan janjiku. Kujawab, "Segera."
Tetapi setelah itu aku selalu gagal. Sepuluh kali aku mencoba pergi, tak pernah ada yang berhasil. Aku masih di sini, di rumahku bersama Maya, istriku. Saat itu Maya tidak tahu tentang rencanaku untuk pergi. Ia hanya sesekali bertanya dan merasa curiga padaku. Katanya sikapku semakin aneh di matanya. Biasanya aku meredam kecurigaan istriku itu dengan memeluk tubuhnya erat-erat. Mencium keningnya dan berkata, "Tidak ada yang aneh. Semua biasa saja." Setelah itu Maya diam. Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali karena ketidakjujuranku.
Beberapa kali kekasihku datang menemuiku. Terutama ketika Maya tidak sedang berada di sampingku. Kulihat wajah kekasihku kian mengkerut dan tampak kelelahan.
"Kau kenapa?" tanyaku ragu-ragu karena cemas. Aku laki-laki pencemas. Terutama terhadap seorang yang kucintai.
"Terlalu lama aku menunggumu. Terlalu lama aku memetiki penanggalan hanya untuk menghitung waktu kedatanganmu yang palsu. Kau lihat, jari-jariku telah kaku dan membiru. Tubuhku beku tak terjamah pelukanmu. Kepulan asap putih yang menerbangkan rindumu padaku semakin mengabur. Melemah. Dan aku mulai tak sadarkan diri di kesendirianku yang panjang. Tapi kau tak datang juga padaku. Bahkan semakin jarang mengintip dan mengetuk pintu rumahku. Kau mengurung diri dalam kematian singkatmu yang menyedihkan. Bersama jiwa-jiwa yang tak benar-benar hidup. Kau menduakanku dengan kesementaraan. Sedang penantian dan cintaku adalah abadi bagimu. Aku menunggumu dalam kehidupan, tapi kau mengubur diri di makam yang kau lihat subur itu. Kita terlampau lama terpisah."
Aku melihat jelas mata kekasihku meredup. Kuulurkan tangan dan kukatakan padanya aku merasakan hal sama. Rindu yang menuntut penuntasan yang segera.
"Aku akan pulang. Untuk bersamamu." kataku.
Tetapi tubuh kekasihku berguncang. Seperti tertiup angin malam, ia berangsur menghilang dari hadapanku. Aku makin mencemaskannya yang pergi tanpa sempat berkata apa-apa lagi padaku.
Tanpa pikir panjang, esoknya aku memutuskan pergi. Sengaja aku tak membawa apapun dari rumahku, karena aku tahu Maya akan membutuhkannya jika aku tak ada di sisinya lagi. Namun baru sampai teras rumahku, Maya melihatku. Nafasnya naik turun menangkapku yang berniat pergi. Ia marah padaku.
"Kau mau pergi? Meninggalkanku?" tanyanya dengan ketus.
Aku menjawab dalam hati. Ya, istriku. Aku akan pergi. Dan kau tahu itu, pergi berarti meninggalkan. Tapi aku bukan mau meninggalkanmu. Aku akan meninggalkan kesementaraan ini. Kekasihku menungguku dalam kehidupan abadi. Maka aku akan pergi, jauh dari kematian ini.
Maya, istriku, memasang wajah kecewa. Dilipatnya gurat-gurat kebahagiaan yang selama ini menghiasi tulang pipinya yang merona. Sinar matanya meremang. Seperti mata kekasihku yang lelah menungguku. Aku mendadak cemas. Bukan pada Maya, tapi kekasihku. Rasanya aku akan gagal lagi, untuk pergi dari sini. Maya, istriku, menahanku. "Jangan pergi." katanya. Langkahku terhenti. Bayangan kekasihku hilang di benakku.
Maya memenjarakanku dalam peluknya yang berbau kematian. Nafasku sesak mengingat kekasihku yang jauh. Jangan kemari, kekasihku. Batinku. Kalau tidak, kau akan terbakar cemburu dan menangisiku yang bercengkerama bersama jiwa yang tak abadi ini. Kubiarkan Maya terus memelukku erat. Peluklah aku sekuat yang kau mampu, perempuanku. Tapi kau tak akan pernah memeluk jiwaku. Karena jiwaku telah pergi terbawa rindu kekasihku. Dan kau tak pernah tahu itu.
"Katakan. Kenapa kau ingin meninggalkanku?" tanya Maya di antara pelukan panjangnya.
Aku harus pulang, Maya. Menemui kekasihku yang abadi. Kau hanya jiwa yang terkurung dalam makam kesementaraan. Kematian singkat yang menyedihkanku. Dan kekasihku sudah terlampau lama menungguku. Seperti aku juga merindukannya sejak dulu. Kini kami telah bertemu dan saling jatuh cinta. Menyatukan cinta yang terpisah lama dalam rentangan dua kejadian. Kau dan aku, di sini hanya sebuah kematian. Seperti pelukan ini, yang kau tawarkan padaku. Membuatku mual oleh aroma kehinaan. Aku harus pulang, Maya. Dan aku tak perlu meminta maaf karena semua ini. Jangan menahanku dalam kedukaan ini, istriku. Mengapa tak kau temui saja kekasihmu seperti aku menjumpai kekasihku? Tidakkah kalian juga saling merindu? Dan kita tinggalkan pemakaman ini. Terbang menuju rumah cinta kekasih-kekasih kita.
"Mengapa kau diam? Sudahkah tidak ada yang berharga lagi di sini, bagimu?" Maya makin erat memelukku.
Ayolah, Maya. Aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya menjadi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu yang kau injak. Bahkan aku tak dapat tumbuh membesar. Aku mati dalam kekerdilanku. Kelemahanku. Kesementaraanku yang sangat singkat. Melindungimu pun aku tak dapat. Lepaskan genggamanmu yang melukaiku, istriku. Atau lemparkan saja aku ke arus sungai yang beriak dan menampar wajahku dengan kasar. Agar aku tersadar, dan tak lagi menyurutkan diri ke dalam lubang kematian yang memanggilku berulang-ulang. Melarangku untuk pergi, dan memelukku dengan aroma kematian yang mencekat. Maya, aku akan pergi. Pulang menuju kekasihku. Dan aku tak perlu minta maaf padamu.
"Kau tidak mencintaiku lagi?"
Maya, istriku, membentengiku dengan pagar-pagar ketakutan dan kesedihan miliknya. Ia menyalahkan dirinya atas kepergianku. Sungguh, perempuan yang mengajakku pada kematian, aku tak berani mencintai yang lain selain kekasihku. Tidakkah kau tahu aku begitu bahagia bisa bertemu dengannya lagi dan merajut percintaan abadi? Lalu kenapa kau ingin menarik kedua tanganku untuk kembali jatuh terguling-guling di dasar kesedihan? Mengapa kau minta dadaku hanya untuk menangisi kesementaraan? Maya, kau buat dadaku hancur tertusuki duri-duri bening yang mengesalkanku. Aku mulai tak tahan.
"Jangan katakan kau punya seorang yang lain." Maya mengisak.
Aku bertemu dengannya di suatu malam yang terang. Ya, aku mempunyai seorang yang lain. Kekasihku dari kehidupan yang abadi.
"Aku takkan melepaskanmu."
Maya, istriku, ini ancaman darimu? Apakah kesementaraan dapat mengancam sebuah penujuan keabadian? Aku akan pulang bersatu dengan kekasihku. Maya, sudahlah. Biarkan aku pergi.
Dan Maya tetap memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Semalaman aku dikuburnya dalam-dalam.
Kekasihku datang menemuiku dalam satu kesunyian. Maya tengah terlelap dalam mimpi malamnya. Lagi-lagi kekasihku mengajakku untuk bersatu dengannya. "Apa yang kau tunggu? Sampai kematian itu memanggil dan merebutmu lagi untuk tenggelam dalam kesedihan ini?" Kekasihku mengulurkan tangannya kepadaku.
"Maya adalah kematian yang ingin selalu mengurungku di sini. Ia adalah kematian yang memiliki warna kesedihannya sendiri. Yang dapat membuatku selalu jatuh dan kembali padanya."
"Pulanglah. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kematian itu sudah terlalu lama melakukannya padamu dan jiwa-jiwa lainnya. Mengapa kau masih ingin memelihara tangisan yang merugikan?"
Kutatap kekasihku yang begitu lama kurindu. "Aku pulang bersamamu." kataku. Dan aku bangkit meninggalkan rumahku, menuju rumah cinta bersama kekasihku.
Dan ini adalah yang kesekian kalinya Maya mencoba menahan kepergianku. Tubuhnya hanya terbalut pakaian tidur tipis ketika mengejarku. Tidak, jangan lagi. Pikirku.
"Baiklah. Kau boleh pergi. Bukankah kau selalu ingin pergi? Seperti dulu, saat kau berkeras ingin menjadi seorang penulis. Kau juga mengatakan itu sebagai kepergian atas sebuah panggilan. Kau bilang aku tak sampai untuk mendengar panggilan itu. Seperti itukah kali ini yang kau lakukan? Dan kau menyuruhku untuk melepasmu lagi, seperti dulu kubiarkan kau pergi di jalan kepenulisanmu yang nyata-nyata nyaris membunuhku? Betapa egoisnya kau."
Suara Maya menjadi petir di malam itu. Benarkah? Batinku. Mungkinkah kematian ini menemui mati yang kedua kali karena sebuah kepergian? Peninggalan? Maya, istriku, kali ini kau memanggilku dengan cara yang berbeda. Kesedihan yang lain. Tapi mengapa aku harus menoleh dan mendengarkan? Mengapa aku harus melupakan kekasihku dan menemuimu kembali? Mengapa aku harus menemanimu dalam kematian ini untuk terus bersedih dan tenggelam dalam kesementaraan? Bagaimana dengan kekasihku yang menungguku begitu lama? Aku demikian cemas. Terhadap kekasihku yang mulai melenyapkan dirinya di benakku.
Maya mendekat. Menghampiriku yang mencari bayang kekasihku yang hilang. Setengah sadar, aku sudah berada dalam pelukan yang sangat kukenal. Pelukan beraroma kematian. Maya mendekapku erat. Jiwaku terus memikirkan kekasihku yang entah kemana. Tunggu aku, kekasihku. Aku akan datang. Segera.
Aku berduka. Karena penyatuan yang sekali lagi harus tertunda. Tapi pikiranku memberiku jalan lain. Mungkin kelak aku mesti mengajak Maya, istriku. Untuk meninggalkan kematian ini. Berkenalan dengan kekasihku yang abadi. Tetapi Maya memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Malam itu, dan malam-malam yang lain.
Sidoarjo, 8 November 2004
Ini kesekian kalinya aku ingin pergi. Dari rumah yang lima tahun lalu kubangun sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi tempat berteduh bagiku dan Maya, istriku. Tapi kemudian aku tidak lagi merasa nyaman, ketika peristiwa itu terjadi di suatu malam, setelah aku kelelahan menulis. Aku berjumpa dengan kekasihku, dan kami saling jatuh cinta. Ia bilang telah menungguku begitu lama. Hingga tergurat luka rindu yang merentang panjang di antara aku dan dia. Waktu itu aku menatapnya tajam dan ia tertunduk malu. Kukatakan padanya aku akan datang menujunya. Ia bertanya, "Kapan?", seolah tak percaya pada perkataan dan janjiku. Kujawab, "Segera."
Tetapi setelah itu aku selalu gagal. Sepuluh kali aku mencoba pergi, tak pernah ada yang berhasil. Aku masih di sini, di rumahku bersama Maya, istriku. Saat itu Maya tidak tahu tentang rencanaku untuk pergi. Ia hanya sesekali bertanya dan merasa curiga padaku. Katanya sikapku semakin aneh di matanya. Biasanya aku meredam kecurigaan istriku itu dengan memeluk tubuhnya erat-erat. Mencium keningnya dan berkata, "Tidak ada yang aneh. Semua biasa saja." Setelah itu Maya diam. Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali karena ketidakjujuranku.
Beberapa kali kekasihku datang menemuiku. Terutama ketika Maya tidak sedang berada di sampingku. Kulihat wajah kekasihku kian mengkerut dan tampak kelelahan.
"Kau kenapa?" tanyaku ragu-ragu karena cemas. Aku laki-laki pencemas. Terutama terhadap seorang yang kucintai.
"Terlalu lama aku menunggumu. Terlalu lama aku memetiki penanggalan hanya untuk menghitung waktu kedatanganmu yang palsu. Kau lihat, jari-jariku telah kaku dan membiru. Tubuhku beku tak terjamah pelukanmu. Kepulan asap putih yang menerbangkan rindumu padaku semakin mengabur. Melemah. Dan aku mulai tak sadarkan diri di kesendirianku yang panjang. Tapi kau tak datang juga padaku. Bahkan semakin jarang mengintip dan mengetuk pintu rumahku. Kau mengurung diri dalam kematian singkatmu yang menyedihkan. Bersama jiwa-jiwa yang tak benar-benar hidup. Kau menduakanku dengan kesementaraan. Sedang penantian dan cintaku adalah abadi bagimu. Aku menunggumu dalam kehidupan, tapi kau mengubur diri di makam yang kau lihat subur itu. Kita terlampau lama terpisah."
Aku melihat jelas mata kekasihku meredup. Kuulurkan tangan dan kukatakan padanya aku merasakan hal sama. Rindu yang menuntut penuntasan yang segera.
"Aku akan pulang. Untuk bersamamu." kataku.
Tetapi tubuh kekasihku berguncang. Seperti tertiup angin malam, ia berangsur menghilang dari hadapanku. Aku makin mencemaskannya yang pergi tanpa sempat berkata apa-apa lagi padaku.
Tanpa pikir panjang, esoknya aku memutuskan pergi. Sengaja aku tak membawa apapun dari rumahku, karena aku tahu Maya akan membutuhkannya jika aku tak ada di sisinya lagi. Namun baru sampai teras rumahku, Maya melihatku. Nafasnya naik turun menangkapku yang berniat pergi. Ia marah padaku.
"Kau mau pergi? Meninggalkanku?" tanyanya dengan ketus.
Aku menjawab dalam hati. Ya, istriku. Aku akan pergi. Dan kau tahu itu, pergi berarti meninggalkan. Tapi aku bukan mau meninggalkanmu. Aku akan meninggalkan kesementaraan ini. Kekasihku menungguku dalam kehidupan abadi. Maka aku akan pergi, jauh dari kematian ini.
Maya, istriku, memasang wajah kecewa. Dilipatnya gurat-gurat kebahagiaan yang selama ini menghiasi tulang pipinya yang merona. Sinar matanya meremang. Seperti mata kekasihku yang lelah menungguku. Aku mendadak cemas. Bukan pada Maya, tapi kekasihku. Rasanya aku akan gagal lagi, untuk pergi dari sini. Maya, istriku, menahanku. "Jangan pergi." katanya. Langkahku terhenti. Bayangan kekasihku hilang di benakku.
Maya memenjarakanku dalam peluknya yang berbau kematian. Nafasku sesak mengingat kekasihku yang jauh. Jangan kemari, kekasihku. Batinku. Kalau tidak, kau akan terbakar cemburu dan menangisiku yang bercengkerama bersama jiwa yang tak abadi ini. Kubiarkan Maya terus memelukku erat. Peluklah aku sekuat yang kau mampu, perempuanku. Tapi kau tak akan pernah memeluk jiwaku. Karena jiwaku telah pergi terbawa rindu kekasihku. Dan kau tak pernah tahu itu.
"Katakan. Kenapa kau ingin meninggalkanku?" tanya Maya di antara pelukan panjangnya.
Aku harus pulang, Maya. Menemui kekasihku yang abadi. Kau hanya jiwa yang terkurung dalam makam kesementaraan. Kematian singkat yang menyedihkanku. Dan kekasihku sudah terlampau lama menungguku. Seperti aku juga merindukannya sejak dulu. Kini kami telah bertemu dan saling jatuh cinta. Menyatukan cinta yang terpisah lama dalam rentangan dua kejadian. Kau dan aku, di sini hanya sebuah kematian. Seperti pelukan ini, yang kau tawarkan padaku. Membuatku mual oleh aroma kehinaan. Aku harus pulang, Maya. Dan aku tak perlu meminta maaf karena semua ini. Jangan menahanku dalam kedukaan ini, istriku. Mengapa tak kau temui saja kekasihmu seperti aku menjumpai kekasihku? Tidakkah kalian juga saling merindu? Dan kita tinggalkan pemakaman ini. Terbang menuju rumah cinta kekasih-kekasih kita.
"Mengapa kau diam? Sudahkah tidak ada yang berharga lagi di sini, bagimu?" Maya makin erat memelukku.
Ayolah, Maya. Aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya menjadi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu yang kau injak. Bahkan aku tak dapat tumbuh membesar. Aku mati dalam kekerdilanku. Kelemahanku. Kesementaraanku yang sangat singkat. Melindungimu pun aku tak dapat. Lepaskan genggamanmu yang melukaiku, istriku. Atau lemparkan saja aku ke arus sungai yang beriak dan menampar wajahku dengan kasar. Agar aku tersadar, dan tak lagi menyurutkan diri ke dalam lubang kematian yang memanggilku berulang-ulang. Melarangku untuk pergi, dan memelukku dengan aroma kematian yang mencekat. Maya, aku akan pergi. Pulang menuju kekasihku. Dan aku tak perlu minta maaf padamu.
"Kau tidak mencintaiku lagi?"
Maya, istriku, membentengiku dengan pagar-pagar ketakutan dan kesedihan miliknya. Ia menyalahkan dirinya atas kepergianku. Sungguh, perempuan yang mengajakku pada kematian, aku tak berani mencintai yang lain selain kekasihku. Tidakkah kau tahu aku begitu bahagia bisa bertemu dengannya lagi dan merajut percintaan abadi? Lalu kenapa kau ingin menarik kedua tanganku untuk kembali jatuh terguling-guling di dasar kesedihan? Mengapa kau minta dadaku hanya untuk menangisi kesementaraan? Maya, kau buat dadaku hancur tertusuki duri-duri bening yang mengesalkanku. Aku mulai tak tahan.
"Jangan katakan kau punya seorang yang lain." Maya mengisak.
Aku bertemu dengannya di suatu malam yang terang. Ya, aku mempunyai seorang yang lain. Kekasihku dari kehidupan yang abadi.
"Aku takkan melepaskanmu."
Maya, istriku, ini ancaman darimu? Apakah kesementaraan dapat mengancam sebuah penujuan keabadian? Aku akan pulang bersatu dengan kekasihku. Maya, sudahlah. Biarkan aku pergi.
Dan Maya tetap memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Semalaman aku dikuburnya dalam-dalam.
Kekasihku datang menemuiku dalam satu kesunyian. Maya tengah terlelap dalam mimpi malamnya. Lagi-lagi kekasihku mengajakku untuk bersatu dengannya. "Apa yang kau tunggu? Sampai kematian itu memanggil dan merebutmu lagi untuk tenggelam dalam kesedihan ini?" Kekasihku mengulurkan tangannya kepadaku.
"Maya adalah kematian yang ingin selalu mengurungku di sini. Ia adalah kematian yang memiliki warna kesedihannya sendiri. Yang dapat membuatku selalu jatuh dan kembali padanya."
"Pulanglah. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kematian itu sudah terlalu lama melakukannya padamu dan jiwa-jiwa lainnya. Mengapa kau masih ingin memelihara tangisan yang merugikan?"
Kutatap kekasihku yang begitu lama kurindu. "Aku pulang bersamamu." kataku. Dan aku bangkit meninggalkan rumahku, menuju rumah cinta bersama kekasihku.
Dan ini adalah yang kesekian kalinya Maya mencoba menahan kepergianku. Tubuhnya hanya terbalut pakaian tidur tipis ketika mengejarku. Tidak, jangan lagi. Pikirku.
"Baiklah. Kau boleh pergi. Bukankah kau selalu ingin pergi? Seperti dulu, saat kau berkeras ingin menjadi seorang penulis. Kau juga mengatakan itu sebagai kepergian atas sebuah panggilan. Kau bilang aku tak sampai untuk mendengar panggilan itu. Seperti itukah kali ini yang kau lakukan? Dan kau menyuruhku untuk melepasmu lagi, seperti dulu kubiarkan kau pergi di jalan kepenulisanmu yang nyata-nyata nyaris membunuhku? Betapa egoisnya kau."
Suara Maya menjadi petir di malam itu. Benarkah? Batinku. Mungkinkah kematian ini menemui mati yang kedua kali karena sebuah kepergian? Peninggalan? Maya, istriku, kali ini kau memanggilku dengan cara yang berbeda. Kesedihan yang lain. Tapi mengapa aku harus menoleh dan mendengarkan? Mengapa aku harus melupakan kekasihku dan menemuimu kembali? Mengapa aku harus menemanimu dalam kematian ini untuk terus bersedih dan tenggelam dalam kesementaraan? Bagaimana dengan kekasihku yang menungguku begitu lama? Aku demikian cemas. Terhadap kekasihku yang mulai melenyapkan dirinya di benakku.
Maya mendekat. Menghampiriku yang mencari bayang kekasihku yang hilang. Setengah sadar, aku sudah berada dalam pelukan yang sangat kukenal. Pelukan beraroma kematian. Maya mendekapku erat. Jiwaku terus memikirkan kekasihku yang entah kemana. Tunggu aku, kekasihku. Aku akan datang. Segera.
Aku berduka. Karena penyatuan yang sekali lagi harus tertunda. Tapi pikiranku memberiku jalan lain. Mungkin kelak aku mesti mengajak Maya, istriku. Untuk meninggalkan kematian ini. Berkenalan dengan kekasihku yang abadi. Tetapi Maya memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Malam itu, dan malam-malam yang lain.
Sidoarjo, 8 November 2004
Kita Telah Menemu Rumah, Immanuel!
-dimuat di Harian Jawa Pos
Yogyakarta,
“BUKANKAH ini jalan yang dicari? Lihat di depan sana! Kita telah menemu rumah, Immanuel!” “Masih jauh.” katamu sambil melepaskan genggaman tanganku pelan-pelan. “Seberapa jauh? Berapa lama lagi bisa sampai di sana?” Kau diam. “Tak bisa kupastikan.” Aku menarik nafas panjang. “Seberat itukah mencapainya?” Hanya suara angin menjawab tanyaku.
*
Aku yakin melihat rumah itu begitu dekat. Namanya dan namaku tertulis emas di sana. Tapi bagaimana bisa dia tak merasakan yang sama? Atau dia berpura-pura? Tak mungkin. Aku sangat mengenalnya. Sungguhkah? Hatiku mulai tercabik. Keraguankah ini, atau sekedar ketakutan?
Dia menyusuri jalan bersamaku selama tiga tahun. Atau lebih. Mengirimkan pelukan ke udara. Menebar bunga di sepanjang jalan. Sesekali tertusuk duri karena tak hati-hati. Wajahnya sumringah setiap bersua waktu memadu rindu. Aku menderita, selalu kukatakan padanya kala bertemu. Aku tahu, begitu juga aku, katanya. Lalu bagaimana? Waktu terkadang menjadi belati yang paling tajam. Jangan minta aku untuk menunggu lagi. Sudah terlalu lama. Betapa sia-sia aku menabur kata dalam hati sendiri. Tak kan dimengerti.
Aku meremas hatiku dengan geram. Rasa lelah terkuras dari dalamnya. Meneteskan titik-titik harapan yang hambar. Wajah lelakiku memantul dari bening tiap butir tetesan. Aku meniupnya hingga lenyap dari pandangan. Begini sedikit lebih baik, pikirku. Setidaknya bisa melumpuhkan rasa lelah yang berkepanjangan.
*
MALAM hari. Kami bertemu di satu badan jalan bersimpang empat. Wajahnya tampak sangat terkejut melihatku. “Kau di sini juga?” Aku diam, tak suka mendengarnya. Tentu aku juga di sini. “Kontak bathin itu bekerja lagi.” Dia tampak terkesima pada apa yang sedang kami alami. “Seperti biasa.” jawabku singkat. “Memang sudah seharusnya begitu. Tapi tetap saja terasa mengagumkan. Kau ada di sini.” sambungnya.
“Kau akan kemana?” tanyaku.
Dia menampakkan wajah khasnya yang selalu tampak dingin. “Ke sana. Kau?”
“Sama.”
“Oh...,”
“Bukankah kita sejalan? Kau bisa melihatnya? Rumah kita.”
Dia diam.
“Jalan ke sana hampir tak ada halangan. Mungkin hanya satu...”
“Mungkin dua...atau tiga...” sahutnya.
“Kalau kita terlambat ke sana, mungkin rumah itu jadi milik orang lain.”
Dia kembali diam.
Apa yang dipikirkannya? Aku sudah gerah dengan sikapnya yang tampak seperti enggan melangkah maju.
“Kita ke sana sekarang?” desakku.
“Sabarlah.”
“Kau diam saja. Tak pernah berjalan.”
“Aku melangkah pelan-pelan. Jalanan ini seperti lautan. Selalu ada ombak. Kita sedang berperahu bukan? Jangan sampai perahu kita terbalik di tengah jalan.”
Aku takut justru kau sendiri yang akan membalikkan perahu ini. Dayungku mulai retak di tangan. Apa aku harus loncat dan berenang mencari pelabuhanku sendiri, tanpamu? Kuharap ini bukan nyata. Sebab aku akan kelelahan dan tak sanggup mengatasinya. Aku ingin segera tiba di sana. Di rumah kita. Aku berharap semua ini mimpi. Sebentar lagi aku akan bangun dan tak menemukanmu. Kita tidak sedang di persimpangan. Tak ada perahu pun lautan. Kau tak diam, tapi berlari ke arahku untuk terbang ke seberang. Semuanya begitu kencang.
Ini semua cuma mimpi. Aku yakin tak lama lagi aku akan terbangun. Harus.
Kalimantan,
ADA yang tak diketahuinya sejauh perjalanan ini.
Saat pertama kali aku bersamanya, dia masih begitu hijau. Perempuan kecil yang malu-malu kala bertemu. Aku sangat hafal dengan sikapnya tiap melihatku. Selalu menghindar. Bahkan sampai sehari sebelum dia pergi merantau. Dia sedang tumbuh dengan segala kerahasiaan hatinya yang baru merekah. Dan aku adalah lelaki yang telah ingin berlabuh. Sangat berbeda jauh.
Malam itu kami berdiri bersisian. Senyumnya menjelma cahaya bulan menimpa tatapku. Kurasa dia terlalu bahagia menyambut perjalanan jauhnya besok pagi. Seperti anak kecil yang bersemangat menanti datangnya hari libur. Aku tersenyum. Lalu seperti biasa, dia kembali menghindar. Aku tak pernah mengerti dia. Hingga sempat terbaca olehku, dia membenciku meski telah lama saling mengenal. Aku tak pernah berani sengaja menyapanya. Dan dia merantau meninggalkan kampung halaman. Membawa semua kenangan dan kerahasiaan mudanya.
Tanah rantau telah menculik dirinya. Dia menghilang. Dariku, kampungnya, dan mimpi tuanya yang ternyata tak pernah kenal usang. Seperti bunga mawar yang senantiasa dirawatnya.
Saat dia pergi, dia tinggalkan cintanya. Telah dilesatkannya diam-diam anak panah pada sasaran. Tak ada yang mengerti. Dia perempuan dengan segala rahasia hati yang tersusun begitu rapi. Hampir lima belas tahun.
Sampai suatu hari dia datang lagi dengan warna lain. Aku mengingatnya sebagai perempuan hijau yang dulu bersamaku. Perempuan kecil yang pertama kali kukenal telah menabur sikap malu-malunya. Lalu penghindaran-penghindaran itu. Tapi dia telah berbeda. Dia kembali untuk memetik cinta yang begitu lama ditinggalkannya. Anak panah yang terlesatkan, kini ingin dimilikinya.
Dia bukan lagi perempuan muda yang malu-malu dan suka menghindar. Tanah rantau telah mendewasakannya dengan begitu baik. Tanpa menghapus barisan kenangan di ingatannya. Dia menemuiku di saat yang baginya sangat tepat. Saat itu, dia telah matang. Tinggi kami tak lagi jauh berbeda seperti saat dia hendak pergi merantau. Kebersamaan kami kala itu terlihat wajar. Dia benar-benar telah dewasa. Dan dia menyapaku dengan cinta seorang perempuan. Aku terkesima. Tak pernah terpikir olehku dia akan mengatakan hal itu.
Dan tiga tahun terakhir menjadi jawaban kabur dariku baginya. Aku menyayanginya. Tapi itu mustahil. Ada yang tak diketahuinya sejauh perjalanan ini.
Yogyakarta,
Kedatanganku di kotamu untuk menegaskan satu hal.
“SEKARANG kita akan ke sana?” tanyanya.
“Kau benar-benar ingin segera ke sana?” Aku balik bertanya.
“Tentu. Kau tahu aku menyayangimu sejak lama. Bertahun-tahun yang lalu. Aku menunggu.”
Bertahun-tahun yang lalu. Ya, sudah bertahun-tahun yang lalu. Dulu kau perempuan kecil yang bahkan tak pantas untuk dicintai karena usiamu yang hijau. Tapi sejak itu kau sudah mencintaiku. Aku merasa telah keliru. Kau menjadi dewasa begitu cepat. Bertahun-tahun lamanya kau memelihara cintamu dalam diam. Kau mengerti ketidakpantasan dahulu, dan menunggu waktu yang baru.
“Kau tak pernah menginginkannya.” Suaranya terdengar ketus.
Entahlah. Mungkin aku menginginkannya. Tapi ada yang tak kau ketahui selama ini. Kau datang seperti petir yang menyambar. Kau bakar aku dengan cintamu yang membara sekian lama. Kau lupa masa rantauanmu yang menumpukkan usiamu hingga kini. Semua terlihat wajar, namun tetap saja berbeda.
“Lalu bagaimana?” tanyanya lagi.
“Kau masih muda. Kurasa...”
“Kita takkan menuju ke sana. Harusnya aku tahu. Kau takut sesuatu?”
Kini aku merasa kau berubah menjadi perempuan yang sangat membenciku.
“Ada yang tak kau ketahui selama ini.”
“Apa itu?”
“Sudah bertahun-tahun. Seperti katamu. Semua sudah berubah. Terlalu banyak yang terjadi.”
“Aku tidak.”
“Aku tahu. Kau sudah kembali, tapi waktu tak pernah bisa kembali.”
Kau meninggalkan hujan dalam langkahmu yang melaju pergi. Aku tak pernah punya cara untuk mengatakan semuanya. Bahwa seorang lain telah memilikiku jauh sebelum kau kembali. Dan tak mungkin... Kupikir seharusnya kau dapat membacanya.
Kalimantan,
Guncangan itu merenggutmu tiba-tiba. Gempa bumi.
Tanah rantau yang dulu sangat kau akrabi, kini tak lagi berbaik hati. Aku tak tahu getaran mana yang lebih hebat. Cintamu padaku yang menguasai perjalanan waktu, bencana itu, ataukah getaran di hatiku saat ini. Kau datang kembali ke kampung halamanmu dengan cara yang sangat berbeda. Semua terasa begitu cepat sejak kau pergi meninggalkan mimpimu atasku bersama hujan itu, sekitar setahun lalu.
Kerumunan orang menghadapi tubuhmu yang kaku. Serentak kurasakan getaran kuat memecah hening pikiranku. Aku tak sanggup mengingat kenangan terakhir bersamamu. Juga cahaya bulan di senyummu yang penuh rahasia. Jiwaku riuh sekali.
Begitu banyak suara di sini. Yang menangisi dan membicarakanmu. Tubuhmu di temukan di reruntuhan sebuah gereja. “Gereja?” Tanyaku pada salah satu kerabatmu. “Ya, di gereja Immanuel.”
Immanuel? Sungguhkah kau di sana waktu itu? Tapi untuk apa kau berada di sana? Dukaku hanyut dalam rahasia tentangmu. Kepergianmu kali ini meninggalkan badai di diriku. Menghancurkan dinding waktu yang memisahkan usia kita.
Dinginnya tanah makam kini menjadi rumahmu. Mengubur cintamu dalam-dalam.
*
Aku menziarahinya di langit malam ini. Cahaya bulan.
Ada yang tak diketahuinya sejak setahun ini. Aku mencintainya. Dan kemarin, telah kuputuskan untuk segera menjemputnya menuju rumah kami.
Kita telah menemu rumah, Immanuel! Terngiang lagi kata-katanya dulu, di telingaku. Benar, kita telah menemu rumah. Dari jauh seolah terdengar olehku, “Tapi waktu tak pernah bisa kembali.”
Yogyakarta,2006
Yogyakarta,
“BUKANKAH ini jalan yang dicari? Lihat di depan sana! Kita telah menemu rumah, Immanuel!” “Masih jauh.” katamu sambil melepaskan genggaman tanganku pelan-pelan. “Seberapa jauh? Berapa lama lagi bisa sampai di sana?” Kau diam. “Tak bisa kupastikan.” Aku menarik nafas panjang. “Seberat itukah mencapainya?” Hanya suara angin menjawab tanyaku.
*
Aku yakin melihat rumah itu begitu dekat. Namanya dan namaku tertulis emas di sana. Tapi bagaimana bisa dia tak merasakan yang sama? Atau dia berpura-pura? Tak mungkin. Aku sangat mengenalnya. Sungguhkah? Hatiku mulai tercabik. Keraguankah ini, atau sekedar ketakutan?
Dia menyusuri jalan bersamaku selama tiga tahun. Atau lebih. Mengirimkan pelukan ke udara. Menebar bunga di sepanjang jalan. Sesekali tertusuk duri karena tak hati-hati. Wajahnya sumringah setiap bersua waktu memadu rindu. Aku menderita, selalu kukatakan padanya kala bertemu. Aku tahu, begitu juga aku, katanya. Lalu bagaimana? Waktu terkadang menjadi belati yang paling tajam. Jangan minta aku untuk menunggu lagi. Sudah terlalu lama. Betapa sia-sia aku menabur kata dalam hati sendiri. Tak kan dimengerti.
Aku meremas hatiku dengan geram. Rasa lelah terkuras dari dalamnya. Meneteskan titik-titik harapan yang hambar. Wajah lelakiku memantul dari bening tiap butir tetesan. Aku meniupnya hingga lenyap dari pandangan. Begini sedikit lebih baik, pikirku. Setidaknya bisa melumpuhkan rasa lelah yang berkepanjangan.
*
MALAM hari. Kami bertemu di satu badan jalan bersimpang empat. Wajahnya tampak sangat terkejut melihatku. “Kau di sini juga?” Aku diam, tak suka mendengarnya. Tentu aku juga di sini. “Kontak bathin itu bekerja lagi.” Dia tampak terkesima pada apa yang sedang kami alami. “Seperti biasa.” jawabku singkat. “Memang sudah seharusnya begitu. Tapi tetap saja terasa mengagumkan. Kau ada di sini.” sambungnya.
“Kau akan kemana?” tanyaku.
Dia menampakkan wajah khasnya yang selalu tampak dingin. “Ke sana. Kau?”
“Sama.”
“Oh...,”
“Bukankah kita sejalan? Kau bisa melihatnya? Rumah kita.”
Dia diam.
“Jalan ke sana hampir tak ada halangan. Mungkin hanya satu...”
“Mungkin dua...atau tiga...” sahutnya.
“Kalau kita terlambat ke sana, mungkin rumah itu jadi milik orang lain.”
Dia kembali diam.
Apa yang dipikirkannya? Aku sudah gerah dengan sikapnya yang tampak seperti enggan melangkah maju.
“Kita ke sana sekarang?” desakku.
“Sabarlah.”
“Kau diam saja. Tak pernah berjalan.”
“Aku melangkah pelan-pelan. Jalanan ini seperti lautan. Selalu ada ombak. Kita sedang berperahu bukan? Jangan sampai perahu kita terbalik di tengah jalan.”
Aku takut justru kau sendiri yang akan membalikkan perahu ini. Dayungku mulai retak di tangan. Apa aku harus loncat dan berenang mencari pelabuhanku sendiri, tanpamu? Kuharap ini bukan nyata. Sebab aku akan kelelahan dan tak sanggup mengatasinya. Aku ingin segera tiba di sana. Di rumah kita. Aku berharap semua ini mimpi. Sebentar lagi aku akan bangun dan tak menemukanmu. Kita tidak sedang di persimpangan. Tak ada perahu pun lautan. Kau tak diam, tapi berlari ke arahku untuk terbang ke seberang. Semuanya begitu kencang.
Ini semua cuma mimpi. Aku yakin tak lama lagi aku akan terbangun. Harus.
Kalimantan,
ADA yang tak diketahuinya sejauh perjalanan ini.
Saat pertama kali aku bersamanya, dia masih begitu hijau. Perempuan kecil yang malu-malu kala bertemu. Aku sangat hafal dengan sikapnya tiap melihatku. Selalu menghindar. Bahkan sampai sehari sebelum dia pergi merantau. Dia sedang tumbuh dengan segala kerahasiaan hatinya yang baru merekah. Dan aku adalah lelaki yang telah ingin berlabuh. Sangat berbeda jauh.
Malam itu kami berdiri bersisian. Senyumnya menjelma cahaya bulan menimpa tatapku. Kurasa dia terlalu bahagia menyambut perjalanan jauhnya besok pagi. Seperti anak kecil yang bersemangat menanti datangnya hari libur. Aku tersenyum. Lalu seperti biasa, dia kembali menghindar. Aku tak pernah mengerti dia. Hingga sempat terbaca olehku, dia membenciku meski telah lama saling mengenal. Aku tak pernah berani sengaja menyapanya. Dan dia merantau meninggalkan kampung halaman. Membawa semua kenangan dan kerahasiaan mudanya.
Tanah rantau telah menculik dirinya. Dia menghilang. Dariku, kampungnya, dan mimpi tuanya yang ternyata tak pernah kenal usang. Seperti bunga mawar yang senantiasa dirawatnya.
Saat dia pergi, dia tinggalkan cintanya. Telah dilesatkannya diam-diam anak panah pada sasaran. Tak ada yang mengerti. Dia perempuan dengan segala rahasia hati yang tersusun begitu rapi. Hampir lima belas tahun.
Sampai suatu hari dia datang lagi dengan warna lain. Aku mengingatnya sebagai perempuan hijau yang dulu bersamaku. Perempuan kecil yang pertama kali kukenal telah menabur sikap malu-malunya. Lalu penghindaran-penghindaran itu. Tapi dia telah berbeda. Dia kembali untuk memetik cinta yang begitu lama ditinggalkannya. Anak panah yang terlesatkan, kini ingin dimilikinya.
Dia bukan lagi perempuan muda yang malu-malu dan suka menghindar. Tanah rantau telah mendewasakannya dengan begitu baik. Tanpa menghapus barisan kenangan di ingatannya. Dia menemuiku di saat yang baginya sangat tepat. Saat itu, dia telah matang. Tinggi kami tak lagi jauh berbeda seperti saat dia hendak pergi merantau. Kebersamaan kami kala itu terlihat wajar. Dia benar-benar telah dewasa. Dan dia menyapaku dengan cinta seorang perempuan. Aku terkesima. Tak pernah terpikir olehku dia akan mengatakan hal itu.
Dan tiga tahun terakhir menjadi jawaban kabur dariku baginya. Aku menyayanginya. Tapi itu mustahil. Ada yang tak diketahuinya sejauh perjalanan ini.
Yogyakarta,
Kedatanganku di kotamu untuk menegaskan satu hal.
“SEKARANG kita akan ke sana?” tanyanya.
“Kau benar-benar ingin segera ke sana?” Aku balik bertanya.
“Tentu. Kau tahu aku menyayangimu sejak lama. Bertahun-tahun yang lalu. Aku menunggu.”
Bertahun-tahun yang lalu. Ya, sudah bertahun-tahun yang lalu. Dulu kau perempuan kecil yang bahkan tak pantas untuk dicintai karena usiamu yang hijau. Tapi sejak itu kau sudah mencintaiku. Aku merasa telah keliru. Kau menjadi dewasa begitu cepat. Bertahun-tahun lamanya kau memelihara cintamu dalam diam. Kau mengerti ketidakpantasan dahulu, dan menunggu waktu yang baru.
“Kau tak pernah menginginkannya.” Suaranya terdengar ketus.
Entahlah. Mungkin aku menginginkannya. Tapi ada yang tak kau ketahui selama ini. Kau datang seperti petir yang menyambar. Kau bakar aku dengan cintamu yang membara sekian lama. Kau lupa masa rantauanmu yang menumpukkan usiamu hingga kini. Semua terlihat wajar, namun tetap saja berbeda.
“Lalu bagaimana?” tanyanya lagi.
“Kau masih muda. Kurasa...”
“Kita takkan menuju ke sana. Harusnya aku tahu. Kau takut sesuatu?”
Kini aku merasa kau berubah menjadi perempuan yang sangat membenciku.
“Ada yang tak kau ketahui selama ini.”
“Apa itu?”
“Sudah bertahun-tahun. Seperti katamu. Semua sudah berubah. Terlalu banyak yang terjadi.”
“Aku tidak.”
“Aku tahu. Kau sudah kembali, tapi waktu tak pernah bisa kembali.”
Kau meninggalkan hujan dalam langkahmu yang melaju pergi. Aku tak pernah punya cara untuk mengatakan semuanya. Bahwa seorang lain telah memilikiku jauh sebelum kau kembali. Dan tak mungkin... Kupikir seharusnya kau dapat membacanya.
Kalimantan,
Guncangan itu merenggutmu tiba-tiba. Gempa bumi.
Tanah rantau yang dulu sangat kau akrabi, kini tak lagi berbaik hati. Aku tak tahu getaran mana yang lebih hebat. Cintamu padaku yang menguasai perjalanan waktu, bencana itu, ataukah getaran di hatiku saat ini. Kau datang kembali ke kampung halamanmu dengan cara yang sangat berbeda. Semua terasa begitu cepat sejak kau pergi meninggalkan mimpimu atasku bersama hujan itu, sekitar setahun lalu.
Kerumunan orang menghadapi tubuhmu yang kaku. Serentak kurasakan getaran kuat memecah hening pikiranku. Aku tak sanggup mengingat kenangan terakhir bersamamu. Juga cahaya bulan di senyummu yang penuh rahasia. Jiwaku riuh sekali.
Begitu banyak suara di sini. Yang menangisi dan membicarakanmu. Tubuhmu di temukan di reruntuhan sebuah gereja. “Gereja?” Tanyaku pada salah satu kerabatmu. “Ya, di gereja Immanuel.”
Immanuel? Sungguhkah kau di sana waktu itu? Tapi untuk apa kau berada di sana? Dukaku hanyut dalam rahasia tentangmu. Kepergianmu kali ini meninggalkan badai di diriku. Menghancurkan dinding waktu yang memisahkan usia kita.
Dinginnya tanah makam kini menjadi rumahmu. Mengubur cintamu dalam-dalam.
*
Aku menziarahinya di langit malam ini. Cahaya bulan.
Ada yang tak diketahuinya sejak setahun ini. Aku mencintainya. Dan kemarin, telah kuputuskan untuk segera menjemputnya menuju rumah kami.
Kita telah menemu rumah, Immanuel! Terngiang lagi kata-katanya dulu, di telingaku. Benar, kita telah menemu rumah. Dari jauh seolah terdengar olehku, “Tapi waktu tak pernah bisa kembali.”
Yogyakarta,2006
Laki-Laki dan Laut
-dimuat di Majalah Horison
MATAHARI di kejauhan tampak tengah bersiap-siap pamit pulang. Sisa-sisa sinarnya terlihat memerah dan bergoyang-goyang halus mengikuti arah gerak tubuh bulatnya menuruni langit. Wajahnya masih tetap terasa menyimpan sekian kesangaran yang tak terkalahkan. Hari ini telah ia habisi dalam teriknya. Kupikir sore ini ia akan undur diri dengan membawa sebuah kepuasan yang mantap. Sambil kubayangkan ia bersuara lantang dan meyakinkan hanya untuk mengucap salam selamat tinggal pada semua.
Langit biru yang mulai berubah warna, kawanan burung yang terbang satu arah seraya berteriak-teriak parau, laut yang diam-diam hendak menelan tubuh raja siang itu, kendaraan-kendaraan yang masih terlihat sibuk mengukur jalan-jalan kota, dan aku yang sedang menikmati letih dan rinduku. Di sini. Di kota ini. Tempat dimana aku pernah menanam sebuah benih harapan untuk seutas cinta di jiwaku. Pada seorang perempuan.
AKU berjalan di atas tumpukan batu yang berada menjorok ke arah laut. Bebatuan yang bersusun dengan rapi sepanjang badan pantai. Ketika hampir sampai di bagian ujung depan susunan batu itu, aku mengempaskan tubuhku. Kucari batu yang datar untuk kududuki. Kujuntaikan kedua kakiku pada batu yang letaknya lebih rendah. Wajahku menantang laut. Pandanganku beredar seperti tak ingin diam. Berpindah-pindah dari langit, matahari, laut, bahkan sesekali kutolehkan kepalaku, kuputar badanku, untuk dapat melihat situasi jalan raya yang ada di belakangku. Barangkali aku terlalu rindu dengan suasana kota ini. Atau laut ini. Perlahan-lahan kulepaskan segala rasa letih yang menyerangku akibat perjalanan jauh yang baru saja kutempuh.
Ya. Aku baru tiba di kota ini sekitar setengah jam yang lalu. Dari Bandara Udara Tabing, sengaja aku langsung menuju laut ini sekadar untuk menyerap kembali segala kenangan indah yang pernah kurasakan di kota ini sebelum aku pergi dulu. Terlalu banyak yang harus kulukis ulang di mataku tentang kota ini. Aku merasa tak puas hanya dengan mengukir siluet-siluet keindahan tubuh kotaku di dalam benakku. Seperti yang selama ini aku lakukan di kota perantauanku. Sangat sulit. Aku terlilit di keruwetan rasa rindu yang berkecamuk. Maka kini, aku kembali ke sini. Pulang.
Aku berdiam diri di atas bebatuan. Entah untuk apa. Tapi semua bagiku terasa sangat menyenangkan. Menenangkan. Kubenamkan kepalaku hingga mendekati dadaku. Tampak pantai di bawahku. Merayu ombak untuk datang dan membiarkannya kembali pergi. Aku menikmati gulungan ombak liar itu. Ombak yang berulang-ulang menghantam tumpukan batu yang kududuki. Seolah tak peduli padaku. Percikan hempasan air laut itu berkali-kali menyiram tubuhku yang sunyi. Siramlah aku hai air cintaku. Aku merindukanmu. Seperti juga kau merindukanku. Dulu kita selalu bertemu di sini di setiap sore. Masih ingatkah kau? Kau selalu saja menyiramku. Membasahi seluruh tubuhku. Ya. Persis seperti yang kau lakukan saat ini. Dan aku tak pernah membencimu karenanya. Kuserahkan ragaku untuk kau selimuti dengan dingin jari-jari tanganmu. Saat itu kudengar kau tertawa senang melihatku yang tak beranjak dari rumah lautmu. Tentu. Karena aku mencintaimu. Seperti juga kau mencintaiku. Jari-jari tanganmu yang dingin, yang memercik ke wajah dan tubuhku, selalu berhasil membangkitkan gairahku. Kau merayuku dengan gulungan-gulungan kekar tubuhmu yang menjalar di keluasan biru. Hingga menghampiriku di bibir pantai. Lalu kita bercengkerama dalam singkat waktu. Bersetubuh dalam khayalan dan kerinduan masing-masing. Deburmu yang bagaikan lenguh manja itu, makin membuatku tak ingin melepaskan tubuhmu di genggaman mataku. Aku terus menanti dan menemuimu. Seperti juga kau selalu kembali dan kembali padaku. Tapi tak pernah lelahkah kau? Seperti aku saat ini. Begitu lelah. Ah. Lagi-lagi kau membelai tubuhku dengan kasihmu. Dengan percikan air cintamu. Semakin membenamkanku dalam keheningan ini.
Kutatap pantai. Bibirnya penuh dengan buih-buih putih serupa busa. Begitu indah. Cantik sekali, batinku. Buih-buih itu, melayangkan pikiranku pada sesuatu yang sangat kukenal. Sesuatu yang tidak asing di mataku. Tapi apakah? Aku mencoba mengingat. Ah, ya! Buih-buih itu mengingatkanku pada busa sabun yang membungkus tubuh indah milik seorang perempuan. Seketika aku melihat lekuk mulus tubuh perempuan itu di antara riuhnya buih-buih yang saling memburu. Aku mendadak terangsang. Ingat pada kemolekan perempuan itu. Dilla…. Bisikku pelan.
DILLA. Dia seorang pelacur. Perempuan malam yang kukenal di kota tempat aku merantau. Kuperkirakan usianya masih cukup muda. Wajahnya cantik. Rambutnya hitam sebahu. Halus dan harum. Selalu ia biarkan tergerai begitu saja. Tubuhnya seksi. Langsing berisi. Dadanya penuh. Kulitnya kuning langsat. Tampak sangat terawat. Bicaranya juga tidak sembarangan. Meskipun isinya sebagian besar rayuan yang tentunya bernada mesra dan memancing gairah. Khususnya para lelaki. Lebih sempitnya lelaki berhidung belang. Atau lelaki iseng. Atau apa sajalah namanya. Tapi menurutku, siapa pun yang melihat Dilla, pasti akan jatuh hati. Termasuk aku. Entah aku berani memasukkan diriku dalam kategori lelaki yang bagaimana. Tapi yang jelas, aku tertarik pada perempuan ini. Pada pelacur ini. Walaupun sungguh, aku sempat tak percaya kalau ia ternyata seorang pelacur.
Beberapa kali aku mengencani Dilla. Bukan hanya karena aku ingin, tetapi aku benar-benar tertarik pada perempuan ini. Dan Dilla tidak tahu itu. Mungkin yang ada di benaknya hanyalah bagaimana melakukan pekerjaannya dengan baik. Demi sejumput lembaran uang. Itu saja. Kadang aku berpikir ia tidak mengenal lagi akan rasa cinta. Tapi entahlah. Aku pun tak berani meneruskan rasaku ini padanya. Kenapa? Karena aku punya seseorang di suatu tempat. Yang menungguku. Jauh dari kota ini. Siapa? Kekasihmu? Ya, begitulah. Dan aku merantau, juga untuk kembali padanya. Ah! Sekarang pun kau telah mengkhianati kekasihmu itu. Berapa kali kau sudah meniduri pelacur itu. Siapa namanya? Dilla? Aku terhanyut dalam alam pikiranku. Benar juga, batinku.
Dilla sudah terlalu sering mengisi hari-hariku. Parahnya lagi, Dilla seperti telah menjadi bagian dari diriku. Menjadi teman bicaraku, teman tertawa, menangis, dan teman seranjangku. Hingga aku hafal betul segala gerak-geriknya sehari-hari. Aku tahu persis semua lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Ranum buah dadanya. Lehernya yang jenjang. Dan semua. Bahkan Dilla pun memberitahukanku alamat rumah kecil miliknya. Entah untuk apa.
Tapi pernah sekali ia menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di rumahnya. Aku menurutinya. Dan sampailah aku di rumah Dilla. Di sana kami hanya menghabiskan waktu untuk bicara berdua. Tidak terjadi apa-apa. Sama sekali bukan sebuah kencan seperti yang biasa kulakukan dengannya. Bahkan aku dan Dilla duduk di kursi yang letaknya berhadapan. Aku tak bisa memeluk tubuhnya. Tapi wangi parfum khas miliknya masih dapat kucium dengan jelas dari jarak kami yang memang tak terlalu jauh. Aku hanya menatap wajahnya. Menelanjangi tatapannya. Ada dorongan hasrat yang meledak-ledak dalam diriku ketika tatapan kami saling bertabrakan. Rasanya aku ingin meraih tubuh perempuan ini, menuntunnya ke kamar, dan menindihnya dengan segala keliaranku. Ah. Benar-benar aku ingin menerkamnya saat itu.
Keringatku mulai menetes di punggungku. Gerak-gerikku mulai terlihat gelisah. Di depan perempuan itu. Di depan pelacur itu. Aku tak tahan. Aku ingin sekali melebur pada perempuan ini. Memberangus waktu dengan desah kami yang bersahutan. Kutatap bibir segar miliknya. Masih saja mengalirkan kata-kata. Membanjiri daun telingaku. Sedang aku sudah tak dapat menangkap apa yang diucapkannya. Aku sibuk dengan diriku. Aku sibuk dengan hasratku yang berkobar. Ah, sialan! Jangan pura-pura, perempuan. Batinku mulai ribut sendiri. Apa kau tak menginginkan aku? Apa kau tak ingin aku menjelajahi tubuhmu seperti biasanya? Apa kau tak merindukan kekuatanku yang menembus ruang sunyimu? Sudahlah! Hentikan bicaramu. Aku hanya inginkan kau. Dirimu. Tubuhmu. Yang menjelma jadi perempuan perkasa di ranjang bisu. Apa kau tidak ingin kembali menguasai waktu dengan permainan liar kita?
Perempuan itu terus menghujaniku dengan berbagai kata. Seolah ia tak mengerti atas apa yang kurasakan padanya saat ini. Aku tak bisa konsentrasi. Hanya wajah datar milik perempuan itu yang samar-samar tertangkap oleh mataku yang memerah. Dan semakin memerah. Keningku basah oleh peluhku. Seluruh tubuhku bergetar. Menegang. Kelaminku tegak. Aku tak tahan. Tapi perempuan di depanku seperti tak peduli pada keadaanku. Atau tak tahu? Tidak mungkin. Dia pelacur. Seperti pengakuannya sendiri. Maka pastilah ia sangat paham dengan tanda-tanda yang kualami saat ini. Apalagi ia sudah sering melihat hal ini. Ah, perempuanku. Pelacurku. Tolong aku. Bawalah aku ke puncak orgasme yang sempurna. Denganmu. Hanya bersamamu. Aku meraih tangan kiri perempuan itu. Dengan cepat ia melepaskan genggamanku.
Perempuan itu berdiri di hadapanku. Membalikkan badannya dengan cepat dan berkata padaku. “Aku mau mandi. Kau di sini saja dulu.” Aku hanya bisa diam. Selain karena tak sanggup menahan hasratku yang hampir meruntuhkan kesadaranku. Sialan! Makiku sepeninggalnya.
Aku tak tahan lagi. Hasrat ini harus disalurkan. Aku harus menuntaskannya. Dengan perempuan itu. Pelacur itu. Tidak bisa tidak. Bahkan jika ia menolak sekalipun. Kau mau memperkosanya? Yang benar saja. Aku tak tahu. Tapi ia harus melayaniku saat ini juga.
Aku berjalan ke arah kamar mandi perempuan itu. Aku kalap. Kubuka pintu kamar mandi itu dengan paksa. Saat itulah, aku melihat buih-buih busa sabun berwarna putih yang sangat halus dan cantik sekali. Secantik paras perempuan itu. Pelacur itu. Kulihat tubuhnya terbungkus oleh busa sabun. Gairahku memuncak. Perempuan itu telah membangkitkan nafsu birahiku berlebih-lebih. Aku mendekat ke arahnya. Bermaksud meleburkan diri padanya. Tapi ketika ia sadar kedatanganku, ia malah mamakiku.
“Keluar!”
“Kenapa?” balasku.
“Aku tidak sedang bekerja.”
“Apa bedanya? Aku akan membayarmu.”
“Keluar kau!”
“Hei. Kau kan pelacur. Kenapa menolakku?”
“Aku memang pelacur. Tapi bukan berarti aku tak punya harga diri.”
“Apa?”
“Kau tak bisa seenaknya melecehkanku begini. Keluar!”
“Kau pelacur tanggung.”
“Terserah. Keluar kau!”
Perempuan itu mendorongku keluar kamar mandi sekuat tenaganya.
“Sialan!” makiku.
Apa-apaan sih? Bukankah ia pelacur. Kenapa harus berteriak-teriak begitu? Seperti mau diperkosa saja. Toh ia sudah biasa melayani para lelaki. Nafsu berahi lelaki. Kenapa harus histeris seperti tadi? Sialan! Apa pelacur juga punya jam-jam kerja? Tidak bisakah dilanggar? Ah. Kenapa perempuan itu membawa-bawa harga diri segala?
Sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengan Dilla. Sampai aku memutuskan untuk kembali ke kota lamaku. Menjemput kekasihku.
SENJA menjemputku. Aku tersentak diempas angin kencang menerpa wajahku. Aku melamun, batinku. Di tanganku terselip sebungkus rokok putih yang belum terbuka. Aku ingin merokok. Tapi angin bertiup begitu kencang. Pasti tidak nikmat merokok dalam keadaan seperti ini. Kumasukkan kembali rokokku ke saku bajuku.
Kulayangkan pandangan ke laut. Penuh rasa rindu. Tapi aku juga rindu kekasihku. Perempuan yang menungguku. Aku harus menemuinya sekarang.
Aku berjalan seraya tersenyum-senyum. Kedatanganku pasti akan menjadi sebuah kejutan yang paling indah untuk perempuanku. Ia tak tahu kalau aku akan pulang saat ini. Tanpa kusadari langkahku semakin cepat. Tak sabar untuk segera sampai di rumahnya.
Aku berdiri di depan pintu rumahnya. Kutarik nafas dalam. Sesak, namun ada rasa bahagia. Kutundukkan kepalaku sejenak sambil berbisik, “sayang, aku pulang.” Pikiran nakalku bermain-main di kepalaku. Kubayangkan perempuanku yang melihatku dengan tatapan kaget bercampur senang saat membukakan pintu. Lalu ia akan memelukku dengan erat, menciumku, sementara aku akan mulai meraba tubuh sintalnya. Melepaskan semua kerinduan yang bertumpuk-tumpuk. Bukan tidak mungkin aku dan ia akan hanyut dalam suasana dan meneruskannya ke sebuah pergumulan liar. Demi menghapus rindu. Juga nafsu. Berahi. Aku tersenyum menertawakan anak pikirku yang kurasa agak kurang ajar ini.
Tapi cukup serukah rencanaku tadi? Haruskah aku mengetuk pintu atau menekan bel yang ada di sisi kanan daun pintu ini? Tidak terlalu klasikkah caraku? Aku berpikir sesaat. Lalu kuingat….
Kurogoh semua bagian sisi kantong di ranselku. Ah, ini dia. Tanganku menggenggam sebuah anak kunci. Aku senang ternyata aku masih menyimpan kunci pemberian perempuanku dulu.
“Ini kunci rumahku. Ah, bukan. Kunci rumah kita. Maka kau bisa pulang kapan saja kau mau. Aku akan menunggumu.”
Saat itu aku tak terlalu peduli dengan sikapnya. Untuk apa aku membawa kunci ini? Pikirku. Aku akan pergi dalam waktu lama. Tapi kuterima juga pemberiannya sekadar untuk menghargainya. Menghargai perempuanku. Dan, sekarang aku justru berterimakasih pada perempuanku. Karena kunci ini, akan membantuku. Membuat kejutan menjadi sangat sempurna. Maksudmu? Aku akan masuk ke rumah ini.
Sunyi. Aku tak melihat perempuanku. Di mana kau, sayang? Aku pulang. Tapi mataku tak menangkap bayangan perempuanku. Telingaku tak mendengar suara perempuanku. Di mana ia?
Aku berkeliling. Tapi tak kutemukan perempuanku. Kamar tidur miliknya kujumpai kosong. Begitu juga dapur kecil di bagian belakang rumah. Aku sedikit kecewa. Perempuanku tidak sedang di rumah? Ah. Rencanaku memberinya kejutan, gagal. Tiba-tiba ada yang terlintas di pikiranku. Ya. Kamar mandi. Aku belum memeriksanya.
Sepi. Apakah perempuanku ada di dalam? Tapi sayup-sayup dapat kutangkap suara kemericik air yang mengalir pelan dari kran. Rupanya perempuanku sedang mandi. Ini saatnya, bisikku pelan. Aku senang karena akhirnya aku dapat mengejutkan perempuanku. Bersiap-siaplah, sayang.
Tanganku meraih gagang pintu kamar mandi. Semoga tidak dikunci, harapku. Minimal, kaitan kunci pintu ini tidak kokoh. Aku tahu betul, perempuanku suka tak peduli dengan kaitan kunci pintu kamar mandinya. Kalau bukan aku yang memperbaikinya, ia akan membiarkan begitu saja kaitan kunci itu dalam keadaan rusak. Aku beberapa kali marah padanya karena hal-hal seperti itu. Tapi kali ini, aku justru berharap ia melakukan kebiasaannya itu. Ayo, terbukalah. Kataku dalam hati seraya membuka pintu kamar mandi itu. Dan….
Kulihat dengan jelas begitu banyaknya busa-busa sabun di lantai kamar mandi, juga tubuh perempuanku. Seperti buih-buih di pantai. Aku teringat lautku. Tapi kali ini buih-buih itu tak tampak cantik di mataku. Darahku naik. Emosiku menanjak drastis. Perempuanku tak sendiri. Seorang lelaki tak kukenal tengah berdiri menghadapi tubuh perempuanku. Telanjang. Dengan jelas kulihat wajah perempuanku yang terkejut. Juga lelaki itu. Aku terhenyak. Seluruh anggota tubuhku mendadak terasa lemah. Pikranku kalut.
“Perempuan sundal!” makiku pada perempuanku.
“Tunggu.”
Aku berjalan keluar meninggalkan keduanya yang masih dalam keadaan bugil dan penuh busa sabun. Kurasakan perempuanku ingin mengejarku. Tapi tidak mungkin ia akan keluar rumah dengan keadaan seperti itu. Aku berjalan. Dan terus berjalan. Menabrak angin malam di antara kegelapan kota. Ke pantai. Ke laut.
KUHAYATI perjalanan malam yang terasa demikian lambat di pantai. Aku menelan getir suara debur ombak yang berterusan. Menghantam dinding hatiku. Dalam gelap aku mencari-cari buih-buih putih di bibir pantai. Ah. Aku rindu perempuan pelacurku. Di manakah ia sekarang? Kugambarkan kemolekan tubuhnya di kegelapan laut. Anganku berdesir kencang. Saling membalap bersama angin malam. Kuingat semua bagian tubuh pelacurku. Matanya, dadanya, pinggulnya, rambutnya, dan semua. Tiba-tiba kulihat perempuan itu tengah berbaring di bibir pantai. Telanjang. Berselimutkan buih-buih ombak. Kurasa bayangnya mempermainkan mataku. Datang, hilang, datang, hilang. Tatapanku bertabrakan dengannya. Serentak aku ingin segera melebur dengan dirinya. Memeluknya, menciumnya, menjelajahi lekuk tubuhnya. Perempuanku, pelacurku, kau mau bergumul denganku malam ini? Apakah kau ingin menyerukan keliaran kita di sini? Di pantai. Di laut ini. Aku tak tahan. Sangat tak tahan. Berahiku memuncak. Mataku memerah. Aku ingin perempuan ini. Pelacurku.
Malam kian larut. Pikiranku kalut. Tertuju pada perempuan pelacurku. Aku akan melebur dengannya. Kuturuni tumpukan batu yang bersusun kokoh. Kusentuh bibir pantai. Menggamit tangan halus perempuanku. Pelacurku. “Mari.” Ajakku padanya menuju hamparan kegelapan yang terasa semakin dingin. Menenggelamkan kesadaranku. Pergumulan baru saja akan dimulai. Aku menoleh ke kiri. Samar kulihat perempuan pelacurku tersenyum mesra. Antara ada dan tiada. Yang kurasakan kian jelas hanyalah angin dan air laut di sekelilingku. Menelanku. Makin lama makin dalam.
Padang-Yogyakarta, Agustus 2003
MATAHARI di kejauhan tampak tengah bersiap-siap pamit pulang. Sisa-sisa sinarnya terlihat memerah dan bergoyang-goyang halus mengikuti arah gerak tubuh bulatnya menuruni langit. Wajahnya masih tetap terasa menyimpan sekian kesangaran yang tak terkalahkan. Hari ini telah ia habisi dalam teriknya. Kupikir sore ini ia akan undur diri dengan membawa sebuah kepuasan yang mantap. Sambil kubayangkan ia bersuara lantang dan meyakinkan hanya untuk mengucap salam selamat tinggal pada semua.
Langit biru yang mulai berubah warna, kawanan burung yang terbang satu arah seraya berteriak-teriak parau, laut yang diam-diam hendak menelan tubuh raja siang itu, kendaraan-kendaraan yang masih terlihat sibuk mengukur jalan-jalan kota, dan aku yang sedang menikmati letih dan rinduku. Di sini. Di kota ini. Tempat dimana aku pernah menanam sebuah benih harapan untuk seutas cinta di jiwaku. Pada seorang perempuan.
AKU berjalan di atas tumpukan batu yang berada menjorok ke arah laut. Bebatuan yang bersusun dengan rapi sepanjang badan pantai. Ketika hampir sampai di bagian ujung depan susunan batu itu, aku mengempaskan tubuhku. Kucari batu yang datar untuk kududuki. Kujuntaikan kedua kakiku pada batu yang letaknya lebih rendah. Wajahku menantang laut. Pandanganku beredar seperti tak ingin diam. Berpindah-pindah dari langit, matahari, laut, bahkan sesekali kutolehkan kepalaku, kuputar badanku, untuk dapat melihat situasi jalan raya yang ada di belakangku. Barangkali aku terlalu rindu dengan suasana kota ini. Atau laut ini. Perlahan-lahan kulepaskan segala rasa letih yang menyerangku akibat perjalanan jauh yang baru saja kutempuh.
Ya. Aku baru tiba di kota ini sekitar setengah jam yang lalu. Dari Bandara Udara Tabing, sengaja aku langsung menuju laut ini sekadar untuk menyerap kembali segala kenangan indah yang pernah kurasakan di kota ini sebelum aku pergi dulu. Terlalu banyak yang harus kulukis ulang di mataku tentang kota ini. Aku merasa tak puas hanya dengan mengukir siluet-siluet keindahan tubuh kotaku di dalam benakku. Seperti yang selama ini aku lakukan di kota perantauanku. Sangat sulit. Aku terlilit di keruwetan rasa rindu yang berkecamuk. Maka kini, aku kembali ke sini. Pulang.
Aku berdiam diri di atas bebatuan. Entah untuk apa. Tapi semua bagiku terasa sangat menyenangkan. Menenangkan. Kubenamkan kepalaku hingga mendekati dadaku. Tampak pantai di bawahku. Merayu ombak untuk datang dan membiarkannya kembali pergi. Aku menikmati gulungan ombak liar itu. Ombak yang berulang-ulang menghantam tumpukan batu yang kududuki. Seolah tak peduli padaku. Percikan hempasan air laut itu berkali-kali menyiram tubuhku yang sunyi. Siramlah aku hai air cintaku. Aku merindukanmu. Seperti juga kau merindukanku. Dulu kita selalu bertemu di sini di setiap sore. Masih ingatkah kau? Kau selalu saja menyiramku. Membasahi seluruh tubuhku. Ya. Persis seperti yang kau lakukan saat ini. Dan aku tak pernah membencimu karenanya. Kuserahkan ragaku untuk kau selimuti dengan dingin jari-jari tanganmu. Saat itu kudengar kau tertawa senang melihatku yang tak beranjak dari rumah lautmu. Tentu. Karena aku mencintaimu. Seperti juga kau mencintaiku. Jari-jari tanganmu yang dingin, yang memercik ke wajah dan tubuhku, selalu berhasil membangkitkan gairahku. Kau merayuku dengan gulungan-gulungan kekar tubuhmu yang menjalar di keluasan biru. Hingga menghampiriku di bibir pantai. Lalu kita bercengkerama dalam singkat waktu. Bersetubuh dalam khayalan dan kerinduan masing-masing. Deburmu yang bagaikan lenguh manja itu, makin membuatku tak ingin melepaskan tubuhmu di genggaman mataku. Aku terus menanti dan menemuimu. Seperti juga kau selalu kembali dan kembali padaku. Tapi tak pernah lelahkah kau? Seperti aku saat ini. Begitu lelah. Ah. Lagi-lagi kau membelai tubuhku dengan kasihmu. Dengan percikan air cintamu. Semakin membenamkanku dalam keheningan ini.
Kutatap pantai. Bibirnya penuh dengan buih-buih putih serupa busa. Begitu indah. Cantik sekali, batinku. Buih-buih itu, melayangkan pikiranku pada sesuatu yang sangat kukenal. Sesuatu yang tidak asing di mataku. Tapi apakah? Aku mencoba mengingat. Ah, ya! Buih-buih itu mengingatkanku pada busa sabun yang membungkus tubuh indah milik seorang perempuan. Seketika aku melihat lekuk mulus tubuh perempuan itu di antara riuhnya buih-buih yang saling memburu. Aku mendadak terangsang. Ingat pada kemolekan perempuan itu. Dilla…. Bisikku pelan.
DILLA. Dia seorang pelacur. Perempuan malam yang kukenal di kota tempat aku merantau. Kuperkirakan usianya masih cukup muda. Wajahnya cantik. Rambutnya hitam sebahu. Halus dan harum. Selalu ia biarkan tergerai begitu saja. Tubuhnya seksi. Langsing berisi. Dadanya penuh. Kulitnya kuning langsat. Tampak sangat terawat. Bicaranya juga tidak sembarangan. Meskipun isinya sebagian besar rayuan yang tentunya bernada mesra dan memancing gairah. Khususnya para lelaki. Lebih sempitnya lelaki berhidung belang. Atau lelaki iseng. Atau apa sajalah namanya. Tapi menurutku, siapa pun yang melihat Dilla, pasti akan jatuh hati. Termasuk aku. Entah aku berani memasukkan diriku dalam kategori lelaki yang bagaimana. Tapi yang jelas, aku tertarik pada perempuan ini. Pada pelacur ini. Walaupun sungguh, aku sempat tak percaya kalau ia ternyata seorang pelacur.
Beberapa kali aku mengencani Dilla. Bukan hanya karena aku ingin, tetapi aku benar-benar tertarik pada perempuan ini. Dan Dilla tidak tahu itu. Mungkin yang ada di benaknya hanyalah bagaimana melakukan pekerjaannya dengan baik. Demi sejumput lembaran uang. Itu saja. Kadang aku berpikir ia tidak mengenal lagi akan rasa cinta. Tapi entahlah. Aku pun tak berani meneruskan rasaku ini padanya. Kenapa? Karena aku punya seseorang di suatu tempat. Yang menungguku. Jauh dari kota ini. Siapa? Kekasihmu? Ya, begitulah. Dan aku merantau, juga untuk kembali padanya. Ah! Sekarang pun kau telah mengkhianati kekasihmu itu. Berapa kali kau sudah meniduri pelacur itu. Siapa namanya? Dilla? Aku terhanyut dalam alam pikiranku. Benar juga, batinku.
Dilla sudah terlalu sering mengisi hari-hariku. Parahnya lagi, Dilla seperti telah menjadi bagian dari diriku. Menjadi teman bicaraku, teman tertawa, menangis, dan teman seranjangku. Hingga aku hafal betul segala gerak-geriknya sehari-hari. Aku tahu persis semua lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Ranum buah dadanya. Lehernya yang jenjang. Dan semua. Bahkan Dilla pun memberitahukanku alamat rumah kecil miliknya. Entah untuk apa.
Tapi pernah sekali ia menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di rumahnya. Aku menurutinya. Dan sampailah aku di rumah Dilla. Di sana kami hanya menghabiskan waktu untuk bicara berdua. Tidak terjadi apa-apa. Sama sekali bukan sebuah kencan seperti yang biasa kulakukan dengannya. Bahkan aku dan Dilla duduk di kursi yang letaknya berhadapan. Aku tak bisa memeluk tubuhnya. Tapi wangi parfum khas miliknya masih dapat kucium dengan jelas dari jarak kami yang memang tak terlalu jauh. Aku hanya menatap wajahnya. Menelanjangi tatapannya. Ada dorongan hasrat yang meledak-ledak dalam diriku ketika tatapan kami saling bertabrakan. Rasanya aku ingin meraih tubuh perempuan ini, menuntunnya ke kamar, dan menindihnya dengan segala keliaranku. Ah. Benar-benar aku ingin menerkamnya saat itu.
Keringatku mulai menetes di punggungku. Gerak-gerikku mulai terlihat gelisah. Di depan perempuan itu. Di depan pelacur itu. Aku tak tahan. Aku ingin sekali melebur pada perempuan ini. Memberangus waktu dengan desah kami yang bersahutan. Kutatap bibir segar miliknya. Masih saja mengalirkan kata-kata. Membanjiri daun telingaku. Sedang aku sudah tak dapat menangkap apa yang diucapkannya. Aku sibuk dengan diriku. Aku sibuk dengan hasratku yang berkobar. Ah, sialan! Jangan pura-pura, perempuan. Batinku mulai ribut sendiri. Apa kau tak menginginkan aku? Apa kau tak ingin aku menjelajahi tubuhmu seperti biasanya? Apa kau tak merindukan kekuatanku yang menembus ruang sunyimu? Sudahlah! Hentikan bicaramu. Aku hanya inginkan kau. Dirimu. Tubuhmu. Yang menjelma jadi perempuan perkasa di ranjang bisu. Apa kau tidak ingin kembali menguasai waktu dengan permainan liar kita?
Perempuan itu terus menghujaniku dengan berbagai kata. Seolah ia tak mengerti atas apa yang kurasakan padanya saat ini. Aku tak bisa konsentrasi. Hanya wajah datar milik perempuan itu yang samar-samar tertangkap oleh mataku yang memerah. Dan semakin memerah. Keningku basah oleh peluhku. Seluruh tubuhku bergetar. Menegang. Kelaminku tegak. Aku tak tahan. Tapi perempuan di depanku seperti tak peduli pada keadaanku. Atau tak tahu? Tidak mungkin. Dia pelacur. Seperti pengakuannya sendiri. Maka pastilah ia sangat paham dengan tanda-tanda yang kualami saat ini. Apalagi ia sudah sering melihat hal ini. Ah, perempuanku. Pelacurku. Tolong aku. Bawalah aku ke puncak orgasme yang sempurna. Denganmu. Hanya bersamamu. Aku meraih tangan kiri perempuan itu. Dengan cepat ia melepaskan genggamanku.
Perempuan itu berdiri di hadapanku. Membalikkan badannya dengan cepat dan berkata padaku. “Aku mau mandi. Kau di sini saja dulu.” Aku hanya bisa diam. Selain karena tak sanggup menahan hasratku yang hampir meruntuhkan kesadaranku. Sialan! Makiku sepeninggalnya.
Aku tak tahan lagi. Hasrat ini harus disalurkan. Aku harus menuntaskannya. Dengan perempuan itu. Pelacur itu. Tidak bisa tidak. Bahkan jika ia menolak sekalipun. Kau mau memperkosanya? Yang benar saja. Aku tak tahu. Tapi ia harus melayaniku saat ini juga.
Aku berjalan ke arah kamar mandi perempuan itu. Aku kalap. Kubuka pintu kamar mandi itu dengan paksa. Saat itulah, aku melihat buih-buih busa sabun berwarna putih yang sangat halus dan cantik sekali. Secantik paras perempuan itu. Pelacur itu. Kulihat tubuhnya terbungkus oleh busa sabun. Gairahku memuncak. Perempuan itu telah membangkitkan nafsu birahiku berlebih-lebih. Aku mendekat ke arahnya. Bermaksud meleburkan diri padanya. Tapi ketika ia sadar kedatanganku, ia malah mamakiku.
“Keluar!”
“Kenapa?” balasku.
“Aku tidak sedang bekerja.”
“Apa bedanya? Aku akan membayarmu.”
“Keluar kau!”
“Hei. Kau kan pelacur. Kenapa menolakku?”
“Aku memang pelacur. Tapi bukan berarti aku tak punya harga diri.”
“Apa?”
“Kau tak bisa seenaknya melecehkanku begini. Keluar!”
“Kau pelacur tanggung.”
“Terserah. Keluar kau!”
Perempuan itu mendorongku keluar kamar mandi sekuat tenaganya.
“Sialan!” makiku.
Apa-apaan sih? Bukankah ia pelacur. Kenapa harus berteriak-teriak begitu? Seperti mau diperkosa saja. Toh ia sudah biasa melayani para lelaki. Nafsu berahi lelaki. Kenapa harus histeris seperti tadi? Sialan! Apa pelacur juga punya jam-jam kerja? Tidak bisakah dilanggar? Ah. Kenapa perempuan itu membawa-bawa harga diri segala?
Sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengan Dilla. Sampai aku memutuskan untuk kembali ke kota lamaku. Menjemput kekasihku.
SENJA menjemputku. Aku tersentak diempas angin kencang menerpa wajahku. Aku melamun, batinku. Di tanganku terselip sebungkus rokok putih yang belum terbuka. Aku ingin merokok. Tapi angin bertiup begitu kencang. Pasti tidak nikmat merokok dalam keadaan seperti ini. Kumasukkan kembali rokokku ke saku bajuku.
Kulayangkan pandangan ke laut. Penuh rasa rindu. Tapi aku juga rindu kekasihku. Perempuan yang menungguku. Aku harus menemuinya sekarang.
Aku berjalan seraya tersenyum-senyum. Kedatanganku pasti akan menjadi sebuah kejutan yang paling indah untuk perempuanku. Ia tak tahu kalau aku akan pulang saat ini. Tanpa kusadari langkahku semakin cepat. Tak sabar untuk segera sampai di rumahnya.
Aku berdiri di depan pintu rumahnya. Kutarik nafas dalam. Sesak, namun ada rasa bahagia. Kutundukkan kepalaku sejenak sambil berbisik, “sayang, aku pulang.” Pikiran nakalku bermain-main di kepalaku. Kubayangkan perempuanku yang melihatku dengan tatapan kaget bercampur senang saat membukakan pintu. Lalu ia akan memelukku dengan erat, menciumku, sementara aku akan mulai meraba tubuh sintalnya. Melepaskan semua kerinduan yang bertumpuk-tumpuk. Bukan tidak mungkin aku dan ia akan hanyut dalam suasana dan meneruskannya ke sebuah pergumulan liar. Demi menghapus rindu. Juga nafsu. Berahi. Aku tersenyum menertawakan anak pikirku yang kurasa agak kurang ajar ini.
Tapi cukup serukah rencanaku tadi? Haruskah aku mengetuk pintu atau menekan bel yang ada di sisi kanan daun pintu ini? Tidak terlalu klasikkah caraku? Aku berpikir sesaat. Lalu kuingat….
Kurogoh semua bagian sisi kantong di ranselku. Ah, ini dia. Tanganku menggenggam sebuah anak kunci. Aku senang ternyata aku masih menyimpan kunci pemberian perempuanku dulu.
“Ini kunci rumahku. Ah, bukan. Kunci rumah kita. Maka kau bisa pulang kapan saja kau mau. Aku akan menunggumu.”
Saat itu aku tak terlalu peduli dengan sikapnya. Untuk apa aku membawa kunci ini? Pikirku. Aku akan pergi dalam waktu lama. Tapi kuterima juga pemberiannya sekadar untuk menghargainya. Menghargai perempuanku. Dan, sekarang aku justru berterimakasih pada perempuanku. Karena kunci ini, akan membantuku. Membuat kejutan menjadi sangat sempurna. Maksudmu? Aku akan masuk ke rumah ini.
Sunyi. Aku tak melihat perempuanku. Di mana kau, sayang? Aku pulang. Tapi mataku tak menangkap bayangan perempuanku. Telingaku tak mendengar suara perempuanku. Di mana ia?
Aku berkeliling. Tapi tak kutemukan perempuanku. Kamar tidur miliknya kujumpai kosong. Begitu juga dapur kecil di bagian belakang rumah. Aku sedikit kecewa. Perempuanku tidak sedang di rumah? Ah. Rencanaku memberinya kejutan, gagal. Tiba-tiba ada yang terlintas di pikiranku. Ya. Kamar mandi. Aku belum memeriksanya.
Sepi. Apakah perempuanku ada di dalam? Tapi sayup-sayup dapat kutangkap suara kemericik air yang mengalir pelan dari kran. Rupanya perempuanku sedang mandi. Ini saatnya, bisikku pelan. Aku senang karena akhirnya aku dapat mengejutkan perempuanku. Bersiap-siaplah, sayang.
Tanganku meraih gagang pintu kamar mandi. Semoga tidak dikunci, harapku. Minimal, kaitan kunci pintu ini tidak kokoh. Aku tahu betul, perempuanku suka tak peduli dengan kaitan kunci pintu kamar mandinya. Kalau bukan aku yang memperbaikinya, ia akan membiarkan begitu saja kaitan kunci itu dalam keadaan rusak. Aku beberapa kali marah padanya karena hal-hal seperti itu. Tapi kali ini, aku justru berharap ia melakukan kebiasaannya itu. Ayo, terbukalah. Kataku dalam hati seraya membuka pintu kamar mandi itu. Dan….
Kulihat dengan jelas begitu banyaknya busa-busa sabun di lantai kamar mandi, juga tubuh perempuanku. Seperti buih-buih di pantai. Aku teringat lautku. Tapi kali ini buih-buih itu tak tampak cantik di mataku. Darahku naik. Emosiku menanjak drastis. Perempuanku tak sendiri. Seorang lelaki tak kukenal tengah berdiri menghadapi tubuh perempuanku. Telanjang. Dengan jelas kulihat wajah perempuanku yang terkejut. Juga lelaki itu. Aku terhenyak. Seluruh anggota tubuhku mendadak terasa lemah. Pikranku kalut.
“Perempuan sundal!” makiku pada perempuanku.
“Tunggu.”
Aku berjalan keluar meninggalkan keduanya yang masih dalam keadaan bugil dan penuh busa sabun. Kurasakan perempuanku ingin mengejarku. Tapi tidak mungkin ia akan keluar rumah dengan keadaan seperti itu. Aku berjalan. Dan terus berjalan. Menabrak angin malam di antara kegelapan kota. Ke pantai. Ke laut.
KUHAYATI perjalanan malam yang terasa demikian lambat di pantai. Aku menelan getir suara debur ombak yang berterusan. Menghantam dinding hatiku. Dalam gelap aku mencari-cari buih-buih putih di bibir pantai. Ah. Aku rindu perempuan pelacurku. Di manakah ia sekarang? Kugambarkan kemolekan tubuhnya di kegelapan laut. Anganku berdesir kencang. Saling membalap bersama angin malam. Kuingat semua bagian tubuh pelacurku. Matanya, dadanya, pinggulnya, rambutnya, dan semua. Tiba-tiba kulihat perempuan itu tengah berbaring di bibir pantai. Telanjang. Berselimutkan buih-buih ombak. Kurasa bayangnya mempermainkan mataku. Datang, hilang, datang, hilang. Tatapanku bertabrakan dengannya. Serentak aku ingin segera melebur dengan dirinya. Memeluknya, menciumnya, menjelajahi lekuk tubuhnya. Perempuanku, pelacurku, kau mau bergumul denganku malam ini? Apakah kau ingin menyerukan keliaran kita di sini? Di pantai. Di laut ini. Aku tak tahan. Sangat tak tahan. Berahiku memuncak. Mataku memerah. Aku ingin perempuan ini. Pelacurku.
Malam kian larut. Pikiranku kalut. Tertuju pada perempuan pelacurku. Aku akan melebur dengannya. Kuturuni tumpukan batu yang bersusun kokoh. Kusentuh bibir pantai. Menggamit tangan halus perempuanku. Pelacurku. “Mari.” Ajakku padanya menuju hamparan kegelapan yang terasa semakin dingin. Menenggelamkan kesadaranku. Pergumulan baru saja akan dimulai. Aku menoleh ke kiri. Samar kulihat perempuan pelacurku tersenyum mesra. Antara ada dan tiada. Yang kurasakan kian jelas hanyalah angin dan air laut di sekelilingku. Menelanku. Makin lama makin dalam.
Padang-Yogyakarta, Agustus 2003
Mimpi Terindah Sebelum Mati
/1/
RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. “Mati muda.”, kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian besegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.
Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Kesana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.
/2/
NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemanapun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.
Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?
Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. “Ayah harus ke luar negeri.”, kata ibuku padaku suatu malam.
“Untuk apa?”, tanyaku.
“Untuk bekerja.” sahut ayahku, “Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini.”
Aku memasang wajah tak percaya, “Ayah janji?”
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.
Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayahku. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. “Ayah sudah terbang ke surga.”, katanya. Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumahku. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.
Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.
Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, “Apa ayahku ada di sana?”
“Benar.”, jawabnya.
“Di mana?”
“Di langit ke tujuh.”
“Apa kita bisa ke sana?” tanyaku tak sabar.
“Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?” sahutku semangat.
“Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat.”
“Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!” aku berteriak.
“Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang.”
“Aku tidak mau menghitung langit atau apapun.”
“Percayalah, kau akan menyukainya.”
“Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?”
“Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang.”
“Benarkah?”
Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apapun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.
“Apa kita bisa menghitung suara ini?” kataku menunjuk bunyi jantungku.
“Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai.”
“Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?”
“Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati.”
“Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?”
“Ya.”
“Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?”
“Tentu saja.”
“Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi.” kataku pelan.
“Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya.” jawab laki-laki itu. “Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami.”
“Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?”
Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekali pun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.
/3/
AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.
Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.
Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, “Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?” tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?
Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Nafasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.
Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.
Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, “Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani.” Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis.
Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005
Si Maman
-dimuat di Surabaya Post
/satu/
“Yang perlu mas tahu ini nggak ada bedanya sama sekali dengan yang pernah mas rasakan.”
Ditariknya nafas dalam-dalam. Seperti tercekat.
“Waktu mas mengejar Sekar.” lanjutnya.
Aku tersenyum. Melihat ekspresi wajah serius milik lelaki muda di depanku ini. Maman. Seorang anak dari satu desa terpencil di daerah Jawa Timur, yang selalu bersemangat setiap kali mendengar semua ceritaku tentang kota. Jakarta. Maman tak pernah bermimpi bisa pergi ke Jakarta. Tapi ia suka sekali mendengar tentang situasi kota metropolis itu. Dariku. Ya. Aku, yang dari kecil tinggal di Jakarta. Sampai sekarang.
Kami berkenalan sekitar lima bulan yang lalu. Saat aku datang ke desanya. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin tahu suasana desa itu. Kebetulan aku suka sekali mengunjungi daerah-daerah baru yang belum pernah kudatangi. Dan sampailah aku di desa tempat tinggal Maman. Aku bertemu dengan lelaki muda itu, dan aku tertarik padanya. Karena kulihat ia pemuda desa yang cerdas. Sejak itu aku menjadi temannya. Dia menjadi temanku. Kami pun berjanji untuk bertemu lagi. Kini, aku kembali menemuinya di sini. Di desanya.
Maman memainkan sejumput rumput liar di telinganya. Ia tampak gelisah. Setelah bosan, dilemparkannya rumput liar itu. Sesekali ia menghentakkan kaki kanannya. Juga menarik nafas panjang dan membuangnya sebagai sebuah desahan. Seperti ada kekesalan dalam dirinya yang tak bisa termuntahkan. Atau gelisah?
Aku paham mengapa Maman bersikap begitu. Melihatnya yang tak bisa tenang, aku memilih diam. Duduk bersila di sampingnya, di sebuah gubuk kecil dekat sawah. Sudah tentu sawah itu bukan milik Maman. Maman, atau biasa di kenal dengan sebutan Si Maman, hanyalah seorang penggembala kerbau di desa ini. Kerbau itupun bukan milik Maman. Tapi milik orang lain. Selain itu ia juga bekerja serabutan. “Apa saja. Asal menghasilkan duit.” katanya. Saat ini, kalau saja ia bersekolah, Maman semestinya telah duduk di kelas 2 SLTP. Tapi ia putus sekolah ketika masih kelas 1 SLTP. Penyebabnya, tentu saja masalah klasik: tak ada biaya.
“Apa orang seperti aku ini berbeda dengan yang lainnya, mas?” Maman membuyarkan pikiranku. “Apa aku nggak sama dengan mas?”
Aku tahu kemana arah pembicaraan Maman.
“Ya sama tho, Man. Yang bilang kamu beda itu siapa?”
“Tapi kenapa orang-orang sepertiku dikucilkan, mas? Kalau mas bilang, apa itu, didiskriminasikan?”
“Wah, agak repot nih pertanyaannya.”
Maman memang tak terlalu membutuhkan jawaban dariku. Tampak dari raut mukanya. Ia hanya ingin segala keluhan dan kekesalannya didengar. Itu saja. Sebuah pemikiran sederhana yang dimiliki lelaki muda seusianya.
“Gimana kabarnya Lukman?” kali ini aku yang memecahkan lamunan Maman.
“Baik, mas. Sudah seminggu ini aku nggak ketemu dia.”
“Kemana dia?”
“Sibuk kerja. Baru dapat kerja di sawahnya Pak Hidayat sana itu.”
Jari kurus Maman menunjuk ke arah depan, ke sebuah sawah yang lumayan luas.
“Pasti kamu kangen dia, kan?” aku mencoba mencairkan keadaan hati Maman.
“Ya mesti tho, mas.”
Maman diam. Menundukkan kepalanya. Aku tak tega melihat pemuda yang usianya sembilan tahun di bawahku itu. Tersirat di wajahnya sebuah keputusasaan. Kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk. Tapi entah pada siapa. Mungkin pada keadaan, pada pemerintah, atau malah pada dirinya sendiri. Yang jelas, Maman sangat kecewa. Sangat sedih. Sejak terakhir aku bercerita tentang kota. Juga rencana pemerintah membuat peraturan hukum untuk hubungan sesama jenis. Tentang ancaman pidana untuk anak di bawah umur yang melakukan hubungan seksual sesama jenis. Berarti tentang Maman. Karena Maman adalah anak di bawah umur. Dan Maman sedang menjalin cinta dengan kekasihnya yang juga masih terhitung di bawah umur. Yang paling penting lagi, Maman dan kekasihnya itu sama-sama lelaki. Lelaki muda. Nah, ancaman pidana itu sedang mengincar Maman. Temanku.
Maman memang tak tahu apa-apa tentang istilah pidana. Atau tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Yang Maman tahu, ia sedang terancam. Terancam hukuman. Mungkin penjara, atau lainnya. Ia tak mengerti bagaimana jelasnya. Ia merasa bahwa pemerintah sedang mencoba merebut satu-satunya hal yang ia miliki saat ini. Cinta. Karena selain itu, Maman tidak punya apa-apa lagi.
“Bapak dan mbokku sudah lama nggak ngirim kabar. Denger-denger, rumah mereka di Jakarta kena penggusuran. Kampung Sawah. Kata mas berita itu memang betul, tho?”
Aku mengangguk.
“Aku benar-benar sudah nggak punya apa-apa, mas. Orang tua nggak tahu gimana kabarnya, harta benda sama sekali nggak ada, sekolahku putus di jalan, sekarang…. cintaku juga akan diambil oleh pemerintah. Peraturan-peraturan apa, tho? Sampai nyaris membunuhku begini. Apa karena aku orang kecil, mas? Lantas cinta saja nggak berhak kumiliki dengan damai?”
Maman memang sangat kecewa, pikirku. Ia tak peduli lagi pada apapun. Bahkan untuk melihat lebih jauh maksud pemerintah membuat rencana peraturan itu. Tapi aku memaklumi Maman. Ia memang berhak untuk tidak mempedulikan semua itu. Sudah terlalu banyak hal yang terebut darinya karena keadaan. Terpaksa. Maka wajar jika ia marah saat ini. Atau kecewa. Atau jika ia memaki rencana pemerintah membuat peraturan itu. Aku akan membiarkannya menumpahkan segala kekesalannya. Ah, aku justru kesal pada diriku sendiri. Karena telah memberitahukan tentang rencana pembentukan peraturan itu kepada Maman. Sehingga membuatnya merasa terbebani. Menambah kesedihannya. Sementara aku tahu persis, cintanya pada Lukman adalah satu-satunya sumber kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Bodoh sekali aku!
Aku masih ingin bicara dengannya. Banyak hal. Tapi aku harus kembali ke Jakarta. Ya, ke kota yang di mata Maman begitu kejam. Kutinggalkan laki-laki muda itu, setelah memberikan alamat rumahku padanya.
"Kalau-kalau kamu perlukan."
/dua/
Sudah dua bulan lebih mas meninggalkan desa ini. Aku seperti kehilangan seorang teman bicara, guru, dan seorang pencerita yang baik tentang kota Jakarta. Aku nggak sabar untuk mendengar cerita mas lagi. Maka kukirim surat ini. Mungkin sampainya akan lama. Karena nggak mungkin aku ngirim dengan kilat khusus. Aku cuma bisa ngirim pakai prangko biasa. Yang penting sampai ke tangan mas dengan selamat.
Mas, tiba-tiba aku ingin sekali mas bisa ke sini lagi. Datang ke desa ini. Untuk bicara denganku tentang banyak hal. Terutama tentang rencana peraturan pemerintah itu. Kalau nggak salah tentang KUHP ya, mas? Aku penasaran tentang kelanjutan cerita mas. Bagaimana perkembangannya sekarang, mas? Apa peraturan itu jadi dibuat? Apa aku benar-benar terancam mas? Apa aku akan dihukum kalau aku meneruskan cintaku dengan Lukman? Apa aku akan dipenjara karena cintaku, mas?
Aku tahu mas pasti sibuk dengan semua kegiatan kuliah mas. Mungkin akan lama lagi mas baru bisa datang menemuiku. Aku akan bicarakan semua pikiranku di surat ini. Kita bisa diskusikan kalau mas ada di sini nanti. Setuju, mas?
Mas, aku agak pusing dengan pembicaraan mas dahulu. Mas menyebut-nyebut tentang homoseks dan heteroseks. Aku terpaksa mencatatnya supaya nggak terbalik-balik memakainya. Juga artinya. Semua hal penting yang selama ini mas bicarakan padaku, selalu kucatat. Di benakku, juga di kertas.
Sungguh, mas. Aku bertanya-tanya tentang satu hal. Apa bedanya cinta yang ada pada kelompok homoseks dan heteroseks? Bukankah keduanya sama-sama cinta? Tapi kenapa homoseks seperti dipandang lebih rendah daripada pasangan heteroseks. Apa yang salah dari hubungan cinta sesama jenis, mas? Apa yang keliru dari homoseks? Aku dan Lukman tidak melihat perbedaan apa-apa dengan kasih sayang yang ada pada pasangan heteroseks. Mas pasti tahu, aku dan Lukman baik-baik saja. Kami bahagia, mas. Kami bahagia dengan cinta kami ini. Maka apa yang salah dari kami? Karena kami masih di bawah umur? Ah, apa anak di bawah umur belum boleh mengenal cinta? Atau karena kami sama-sama laki-laki? Kalau kami memang sama-sama lelaki, lalu kenapa? Dan kalau kami adalah pasangan lelaki dan perempuan, juga kenapa? Di mana perbedaannya, mas? Sehingga membuat homoseks menjadi sesuatu yang dilihat kurang atau tidak baik?
Mas, kalau yang menjadi masalah adalah umur kami, mengapa pasangan heteroseks yang masih di bawah umur tidak diancam pidana juga? Mengapa hanya kaum homoseks yang diancam pidana, mas? Kenapa hanya kami? Kenapa hanya aku dan Lukman? Kenapa teman-temanku yang juga menjalin cinta tidak diancam pidana? Apa karena mereka heteroseks? Mengapa, mas? Apa yang bisa menjelaskan semua ini? Mengapa Kunthi dan Edi tidak diancam pidana? Usia mereka sama denganku. Juga Ningsih dan Joko. Bagaimana ini, mas? Aku merasa diperlakukan tidak adil. Atau aku yang terlalu bodoh untuk dapat memahami maksud sebenarnya pemerintah membuat rencana peraturan itu?
Aku menjalin cinta dengan Lukman. Kunthi dan Edi juga menjalin cinta. Tapi tak ada peraturan yang mengancam mereka dengan hukuman. Padahal mas, saat ini Kunthi sedang hamil. Tapi mereka bisa hidup berdua. Kunthi dan Edi dinikahkan oleh orangtua mereka. Lalu apa istimewanya mereka, mas? Apa yang membuat hubungan cintaku dengan Lukman menjadi sesuatu yang terlarang?
Malam demi malam aku berpikir tentang ini, mas. Semua yang telah mas katakan padaku, juga cerita mas tentang rencana pembentukan peraturan itu. Duh, mas. Aku nggak habis pikir. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pemerintah dengan membentuk peraturan itu? Terus terang mas, bagiku semua cinta yang ada di dunia ini adalah pemberian. Juga cintaku. Yang ternyata menimpa kaumku sendiri. Ya. Lukman. Aku mencintai dia. Seorang yang juga lelaki sepertiku. Tapi bukankah aku tak pernah meminta untuk menjadi seperti ini mas. Aku tak pernah membuat-buatnya. Cinta ini ada dengan sendirinya dalam jiwaku. Entah dari mana asalnya. Sama seperti ketika aku bertanya pada mas: Mengapa mas bisa jatuh cinta pada Sekar? Gadis berwajah sederhana itu. Dan mas hanya menjawab: Tidak tahu. Cinta ini seperti rintik hujan yang datang tiba-tiba menyiram seluruh ruang hati mas. Dan genangannya, mengalir mengarah kepada Sekar.
Duh, mas. Semua itu membuatku yakin bahwa begitu pula cintaku kepada Lukman. Ia seperti tetes embun pagi yang menyejukkan jiwaku. Mas, sungguh, aku mencintai Lukman seperti mas mencintai Sekar. Maka mana yang salah dengan cintaku?
Aku tahu mas. Mungkin ini pikiranku yang akan menjadi dasar penentang dibentuknya peraturan baru itu. Ya….
Katakan saja cintaku adalah cinta monyet. Bagaimana, mas? Ah, pasti mas malah tertawa mendengar pikiranku yang satu ini. Tapi jangan, mas. Aku sangat serius. Begini, bukankah pada pasangan heteroseks dikenal adanya istilah cinta monyet? Bahkan ini juga terjadi pada anak usia Sekolah Dasar (SD). Bukankah mereka masih sangat muda, mas? Tapi apakah mereka diancam pidana? Tidak kan, mas. Ya, bagaimana jika pada kaum homoseks juga dipakai cara pandang seperti itu? Bahwa di kaum homoseks juga dikenal istilah cinta monyet. Yah, barangkali aku bisa dijadikan contoh nyatanya. Ini jika cinta monyet diartikan sebuah permainan perasaan pada anak-anak di bawah umur. Maka kaum homoseks yang sejak muda sudah menyadari bahwa ia homoseks, dan menjalin cinta dengan sesama jenisnya, tidak bisa dipidana. Seperti pasangan-pasangan muda yang heteroseks tadi. Seperti teman-temanku. Kunthi dan Edi. Atau Ningsih dan Joko. Bagaimana menurut mas tentang pikiranku ini?
Aku senang bisa tahu banyak hal dari mas. Tapi tentang yang satu ini, aku menjadi demikian gelisah. Mas pasti bisa mengerti. Ketika cinta kita mengalami halangan yang besar. Dan dalam hal ini, cintaku terhalangi oleh peraturan hukum. Bayangin, mas. Peraturan itu dibuat oleh pemerintah. Artinya halanganku adalah pemerintah. Apa yang bisa dilakukan oleh anak desa sepertiku?
Duh, mas, betapa miskinnya aku. Betapa lemahnya aku. Bahkan untuk mempertahankan cintaku saja aku tak mampu!
Aku ingin sekali protes. Aku ingin menentang rencana pembentukan peraturan itu. Tapi kata mas, di Jakarta sudah banyak yang mendebatkan rencana itu. Lalu bagaimana hasilnya, mas?
Sungguh segala kebijakan dan peraturan yang dibuat pemerintah, serupa seekor hewan kecil bersayap yang sangat lincah. Ia bisa menembus dan memasuki daerah mana saja yang ia inginkan. Melewati celah-celah yang ada. Dan mencapai ke seluruh penjuru. Mas, desaku adalah salah satu sasaran hewan kecil itu. Dan aku, hanya bisa menunggu hewan kecil itu menyemprotkan senjata mautnya padaku. Aku kesal, mas. Aku kecewa.
Padahal pembuat peraturan itu sendiri tidak pernah berkunjung ke desa ini. Mungkin nama desa kami pun tidak terekam di benak mereka. Pemerintah. Sebaliknya, kami penghuni desa ini tak ada yang mampu untuk pergi ke Jakarta. Jangankan untuk benar-benar pergi ke sana. Mungkin mimpi kami untuk bisa ke sana saja sudah cukup menakutkan mereka. Bahwa kami hanya akan menambah kesesakan kota Jakarta. Selanjutnya kami sudah bisa dipastikan akan mulai membangun rumah di tempat-tempat yang suatu hari nanti harus dilakukan penggusuran. Seperti nasib orangtuaku. Aku juga nggak mau begitu, mas. Kalaupun suatu kali aku akan ke Jakarta, aku ingin datang dengan ilmu pengetahuan yang cukup. Agar suaraku didengar oleh orang-orang Jakarta. Bahwa aku juga berpendidikan. Tapi apa mungkin, mas? Sekolahku saja sudah putus. Ah, betapa sialnya aku.
Ironisnya lagi mas, peraturan pemerintah selalu saja bisa mencapai daerah manapun. Tapi kenapa, mas? Kenapa fasilitas umum tidak semuanya bisa dirasakan oleh seluruh daerah di negeri kita? Mas masih ingat, kan? Kita pernah berdiskusi tentang ini. Dan aku masih belum puas, mas. Aku masih ingin membicarakannya lagi. Lagi dan lagi. Ah.
Mas, mungkin jika mas datang ke desa ini lagi, mas bisa menjelaskan lebih banyak tentang keberadaan homoseks dan heteroseks di negeri kita. aku ingin tahu itu, mas. Tolong carikan aku informasi lengkap tentang dua hal itu. Mungkin agak berlebihan, mas. Aku merasa kaum homoseks sebenarnya tidak sedikit. Mungkin saja ada banyak, hanya tak terlihat. Atau mungkin juga teman-teman mas sendiri ada yang mencintai sesama jenisnya? Ceritakan padaku, mas. Ceritakan padaku.
Yang terpenting adalah aku dan Lukman juga menemukan kebahagiaan dalam cinta kami. Sama bahagianya seperti pasangan heteroseks lainnya.
Aku ingin tanya mas, apa pemerintah mengira cinta sesama jenis tidak bisa tumbuh pada anak muda? Pada anak di bawah umur? Mungkinkah begitu, mas? Atau mas juga berpikir seperti itu? Maka homoseks baru diperbolehkan ketika seseorang telah cukup umur. Ah, mas. Ini mengada-ngada. Aku tak setuju.
Bagaimana, mas? Bagaimana menurutmu tentang semua yang kupikirkan ini? Aku butuh pendapat mas. Barangkali mas bisa membantuku untuk meneruskan pemikiranku ini pada pemerintah. Mungkinkah bisa begitu, mas? Jelaskan padaku, mas. Apa saja. Tentang semua yang berkaitan dengan hal ini. Terangkan padaku. Tapi jangan sekarang. Aku tunggu kedatangan mas berikutnya di desaku. Untuk bicara banyak denganku. Salam. Maman.
Yogyakarta, 4 November 2003
/satu/
“Yang perlu mas tahu ini nggak ada bedanya sama sekali dengan yang pernah mas rasakan.”
Ditariknya nafas dalam-dalam. Seperti tercekat.
“Waktu mas mengejar Sekar.” lanjutnya.
Aku tersenyum. Melihat ekspresi wajah serius milik lelaki muda di depanku ini. Maman. Seorang anak dari satu desa terpencil di daerah Jawa Timur, yang selalu bersemangat setiap kali mendengar semua ceritaku tentang kota. Jakarta. Maman tak pernah bermimpi bisa pergi ke Jakarta. Tapi ia suka sekali mendengar tentang situasi kota metropolis itu. Dariku. Ya. Aku, yang dari kecil tinggal di Jakarta. Sampai sekarang.
Kami berkenalan sekitar lima bulan yang lalu. Saat aku datang ke desanya. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin tahu suasana desa itu. Kebetulan aku suka sekali mengunjungi daerah-daerah baru yang belum pernah kudatangi. Dan sampailah aku di desa tempat tinggal Maman. Aku bertemu dengan lelaki muda itu, dan aku tertarik padanya. Karena kulihat ia pemuda desa yang cerdas. Sejak itu aku menjadi temannya. Dia menjadi temanku. Kami pun berjanji untuk bertemu lagi. Kini, aku kembali menemuinya di sini. Di desanya.
Maman memainkan sejumput rumput liar di telinganya. Ia tampak gelisah. Setelah bosan, dilemparkannya rumput liar itu. Sesekali ia menghentakkan kaki kanannya. Juga menarik nafas panjang dan membuangnya sebagai sebuah desahan. Seperti ada kekesalan dalam dirinya yang tak bisa termuntahkan. Atau gelisah?
Aku paham mengapa Maman bersikap begitu. Melihatnya yang tak bisa tenang, aku memilih diam. Duduk bersila di sampingnya, di sebuah gubuk kecil dekat sawah. Sudah tentu sawah itu bukan milik Maman. Maman, atau biasa di kenal dengan sebutan Si Maman, hanyalah seorang penggembala kerbau di desa ini. Kerbau itupun bukan milik Maman. Tapi milik orang lain. Selain itu ia juga bekerja serabutan. “Apa saja. Asal menghasilkan duit.” katanya. Saat ini, kalau saja ia bersekolah, Maman semestinya telah duduk di kelas 2 SLTP. Tapi ia putus sekolah ketika masih kelas 1 SLTP. Penyebabnya, tentu saja masalah klasik: tak ada biaya.
“Apa orang seperti aku ini berbeda dengan yang lainnya, mas?” Maman membuyarkan pikiranku. “Apa aku nggak sama dengan mas?”
Aku tahu kemana arah pembicaraan Maman.
“Ya sama tho, Man. Yang bilang kamu beda itu siapa?”
“Tapi kenapa orang-orang sepertiku dikucilkan, mas? Kalau mas bilang, apa itu, didiskriminasikan?”
“Wah, agak repot nih pertanyaannya.”
Maman memang tak terlalu membutuhkan jawaban dariku. Tampak dari raut mukanya. Ia hanya ingin segala keluhan dan kekesalannya didengar. Itu saja. Sebuah pemikiran sederhana yang dimiliki lelaki muda seusianya.
“Gimana kabarnya Lukman?” kali ini aku yang memecahkan lamunan Maman.
“Baik, mas. Sudah seminggu ini aku nggak ketemu dia.”
“Kemana dia?”
“Sibuk kerja. Baru dapat kerja di sawahnya Pak Hidayat sana itu.”
Jari kurus Maman menunjuk ke arah depan, ke sebuah sawah yang lumayan luas.
“Pasti kamu kangen dia, kan?” aku mencoba mencairkan keadaan hati Maman.
“Ya mesti tho, mas.”
Maman diam. Menundukkan kepalanya. Aku tak tega melihat pemuda yang usianya sembilan tahun di bawahku itu. Tersirat di wajahnya sebuah keputusasaan. Kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk. Tapi entah pada siapa. Mungkin pada keadaan, pada pemerintah, atau malah pada dirinya sendiri. Yang jelas, Maman sangat kecewa. Sangat sedih. Sejak terakhir aku bercerita tentang kota. Juga rencana pemerintah membuat peraturan hukum untuk hubungan sesama jenis. Tentang ancaman pidana untuk anak di bawah umur yang melakukan hubungan seksual sesama jenis. Berarti tentang Maman. Karena Maman adalah anak di bawah umur. Dan Maman sedang menjalin cinta dengan kekasihnya yang juga masih terhitung di bawah umur. Yang paling penting lagi, Maman dan kekasihnya itu sama-sama lelaki. Lelaki muda. Nah, ancaman pidana itu sedang mengincar Maman. Temanku.
Maman memang tak tahu apa-apa tentang istilah pidana. Atau tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Yang Maman tahu, ia sedang terancam. Terancam hukuman. Mungkin penjara, atau lainnya. Ia tak mengerti bagaimana jelasnya. Ia merasa bahwa pemerintah sedang mencoba merebut satu-satunya hal yang ia miliki saat ini. Cinta. Karena selain itu, Maman tidak punya apa-apa lagi.
“Bapak dan mbokku sudah lama nggak ngirim kabar. Denger-denger, rumah mereka di Jakarta kena penggusuran. Kampung Sawah. Kata mas berita itu memang betul, tho?”
Aku mengangguk.
“Aku benar-benar sudah nggak punya apa-apa, mas. Orang tua nggak tahu gimana kabarnya, harta benda sama sekali nggak ada, sekolahku putus di jalan, sekarang…. cintaku juga akan diambil oleh pemerintah. Peraturan-peraturan apa, tho? Sampai nyaris membunuhku begini. Apa karena aku orang kecil, mas? Lantas cinta saja nggak berhak kumiliki dengan damai?”
Maman memang sangat kecewa, pikirku. Ia tak peduli lagi pada apapun. Bahkan untuk melihat lebih jauh maksud pemerintah membuat rencana peraturan itu. Tapi aku memaklumi Maman. Ia memang berhak untuk tidak mempedulikan semua itu. Sudah terlalu banyak hal yang terebut darinya karena keadaan. Terpaksa. Maka wajar jika ia marah saat ini. Atau kecewa. Atau jika ia memaki rencana pemerintah membuat peraturan itu. Aku akan membiarkannya menumpahkan segala kekesalannya. Ah, aku justru kesal pada diriku sendiri. Karena telah memberitahukan tentang rencana pembentukan peraturan itu kepada Maman. Sehingga membuatnya merasa terbebani. Menambah kesedihannya. Sementara aku tahu persis, cintanya pada Lukman adalah satu-satunya sumber kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Bodoh sekali aku!
Aku masih ingin bicara dengannya. Banyak hal. Tapi aku harus kembali ke Jakarta. Ya, ke kota yang di mata Maman begitu kejam. Kutinggalkan laki-laki muda itu, setelah memberikan alamat rumahku padanya.
"Kalau-kalau kamu perlukan."
/dua/
Sudah dua bulan lebih mas meninggalkan desa ini. Aku seperti kehilangan seorang teman bicara, guru, dan seorang pencerita yang baik tentang kota Jakarta. Aku nggak sabar untuk mendengar cerita mas lagi. Maka kukirim surat ini. Mungkin sampainya akan lama. Karena nggak mungkin aku ngirim dengan kilat khusus. Aku cuma bisa ngirim pakai prangko biasa. Yang penting sampai ke tangan mas dengan selamat.
Mas, tiba-tiba aku ingin sekali mas bisa ke sini lagi. Datang ke desa ini. Untuk bicara denganku tentang banyak hal. Terutama tentang rencana peraturan pemerintah itu. Kalau nggak salah tentang KUHP ya, mas? Aku penasaran tentang kelanjutan cerita mas. Bagaimana perkembangannya sekarang, mas? Apa peraturan itu jadi dibuat? Apa aku benar-benar terancam mas? Apa aku akan dihukum kalau aku meneruskan cintaku dengan Lukman? Apa aku akan dipenjara karena cintaku, mas?
Aku tahu mas pasti sibuk dengan semua kegiatan kuliah mas. Mungkin akan lama lagi mas baru bisa datang menemuiku. Aku akan bicarakan semua pikiranku di surat ini. Kita bisa diskusikan kalau mas ada di sini nanti. Setuju, mas?
Mas, aku agak pusing dengan pembicaraan mas dahulu. Mas menyebut-nyebut tentang homoseks dan heteroseks. Aku terpaksa mencatatnya supaya nggak terbalik-balik memakainya. Juga artinya. Semua hal penting yang selama ini mas bicarakan padaku, selalu kucatat. Di benakku, juga di kertas.
Sungguh, mas. Aku bertanya-tanya tentang satu hal. Apa bedanya cinta yang ada pada kelompok homoseks dan heteroseks? Bukankah keduanya sama-sama cinta? Tapi kenapa homoseks seperti dipandang lebih rendah daripada pasangan heteroseks. Apa yang salah dari hubungan cinta sesama jenis, mas? Apa yang keliru dari homoseks? Aku dan Lukman tidak melihat perbedaan apa-apa dengan kasih sayang yang ada pada pasangan heteroseks. Mas pasti tahu, aku dan Lukman baik-baik saja. Kami bahagia, mas. Kami bahagia dengan cinta kami ini. Maka apa yang salah dari kami? Karena kami masih di bawah umur? Ah, apa anak di bawah umur belum boleh mengenal cinta? Atau karena kami sama-sama laki-laki? Kalau kami memang sama-sama lelaki, lalu kenapa? Dan kalau kami adalah pasangan lelaki dan perempuan, juga kenapa? Di mana perbedaannya, mas? Sehingga membuat homoseks menjadi sesuatu yang dilihat kurang atau tidak baik?
Mas, kalau yang menjadi masalah adalah umur kami, mengapa pasangan heteroseks yang masih di bawah umur tidak diancam pidana juga? Mengapa hanya kaum homoseks yang diancam pidana, mas? Kenapa hanya kami? Kenapa hanya aku dan Lukman? Kenapa teman-temanku yang juga menjalin cinta tidak diancam pidana? Apa karena mereka heteroseks? Mengapa, mas? Apa yang bisa menjelaskan semua ini? Mengapa Kunthi dan Edi tidak diancam pidana? Usia mereka sama denganku. Juga Ningsih dan Joko. Bagaimana ini, mas? Aku merasa diperlakukan tidak adil. Atau aku yang terlalu bodoh untuk dapat memahami maksud sebenarnya pemerintah membuat rencana peraturan itu?
Aku menjalin cinta dengan Lukman. Kunthi dan Edi juga menjalin cinta. Tapi tak ada peraturan yang mengancam mereka dengan hukuman. Padahal mas, saat ini Kunthi sedang hamil. Tapi mereka bisa hidup berdua. Kunthi dan Edi dinikahkan oleh orangtua mereka. Lalu apa istimewanya mereka, mas? Apa yang membuat hubungan cintaku dengan Lukman menjadi sesuatu yang terlarang?
Malam demi malam aku berpikir tentang ini, mas. Semua yang telah mas katakan padaku, juga cerita mas tentang rencana pembentukan peraturan itu. Duh, mas. Aku nggak habis pikir. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pemerintah dengan membentuk peraturan itu? Terus terang mas, bagiku semua cinta yang ada di dunia ini adalah pemberian. Juga cintaku. Yang ternyata menimpa kaumku sendiri. Ya. Lukman. Aku mencintai dia. Seorang yang juga lelaki sepertiku. Tapi bukankah aku tak pernah meminta untuk menjadi seperti ini mas. Aku tak pernah membuat-buatnya. Cinta ini ada dengan sendirinya dalam jiwaku. Entah dari mana asalnya. Sama seperti ketika aku bertanya pada mas: Mengapa mas bisa jatuh cinta pada Sekar? Gadis berwajah sederhana itu. Dan mas hanya menjawab: Tidak tahu. Cinta ini seperti rintik hujan yang datang tiba-tiba menyiram seluruh ruang hati mas. Dan genangannya, mengalir mengarah kepada Sekar.
Duh, mas. Semua itu membuatku yakin bahwa begitu pula cintaku kepada Lukman. Ia seperti tetes embun pagi yang menyejukkan jiwaku. Mas, sungguh, aku mencintai Lukman seperti mas mencintai Sekar. Maka mana yang salah dengan cintaku?
Aku tahu mas. Mungkin ini pikiranku yang akan menjadi dasar penentang dibentuknya peraturan baru itu. Ya….
Katakan saja cintaku adalah cinta monyet. Bagaimana, mas? Ah, pasti mas malah tertawa mendengar pikiranku yang satu ini. Tapi jangan, mas. Aku sangat serius. Begini, bukankah pada pasangan heteroseks dikenal adanya istilah cinta monyet? Bahkan ini juga terjadi pada anak usia Sekolah Dasar (SD). Bukankah mereka masih sangat muda, mas? Tapi apakah mereka diancam pidana? Tidak kan, mas. Ya, bagaimana jika pada kaum homoseks juga dipakai cara pandang seperti itu? Bahwa di kaum homoseks juga dikenal istilah cinta monyet. Yah, barangkali aku bisa dijadikan contoh nyatanya. Ini jika cinta monyet diartikan sebuah permainan perasaan pada anak-anak di bawah umur. Maka kaum homoseks yang sejak muda sudah menyadari bahwa ia homoseks, dan menjalin cinta dengan sesama jenisnya, tidak bisa dipidana. Seperti pasangan-pasangan muda yang heteroseks tadi. Seperti teman-temanku. Kunthi dan Edi. Atau Ningsih dan Joko. Bagaimana menurut mas tentang pikiranku ini?
Aku senang bisa tahu banyak hal dari mas. Tapi tentang yang satu ini, aku menjadi demikian gelisah. Mas pasti bisa mengerti. Ketika cinta kita mengalami halangan yang besar. Dan dalam hal ini, cintaku terhalangi oleh peraturan hukum. Bayangin, mas. Peraturan itu dibuat oleh pemerintah. Artinya halanganku adalah pemerintah. Apa yang bisa dilakukan oleh anak desa sepertiku?
Duh, mas, betapa miskinnya aku. Betapa lemahnya aku. Bahkan untuk mempertahankan cintaku saja aku tak mampu!
Aku ingin sekali protes. Aku ingin menentang rencana pembentukan peraturan itu. Tapi kata mas, di Jakarta sudah banyak yang mendebatkan rencana itu. Lalu bagaimana hasilnya, mas?
Sungguh segala kebijakan dan peraturan yang dibuat pemerintah, serupa seekor hewan kecil bersayap yang sangat lincah. Ia bisa menembus dan memasuki daerah mana saja yang ia inginkan. Melewati celah-celah yang ada. Dan mencapai ke seluruh penjuru. Mas, desaku adalah salah satu sasaran hewan kecil itu. Dan aku, hanya bisa menunggu hewan kecil itu menyemprotkan senjata mautnya padaku. Aku kesal, mas. Aku kecewa.
Padahal pembuat peraturan itu sendiri tidak pernah berkunjung ke desa ini. Mungkin nama desa kami pun tidak terekam di benak mereka. Pemerintah. Sebaliknya, kami penghuni desa ini tak ada yang mampu untuk pergi ke Jakarta. Jangankan untuk benar-benar pergi ke sana. Mungkin mimpi kami untuk bisa ke sana saja sudah cukup menakutkan mereka. Bahwa kami hanya akan menambah kesesakan kota Jakarta. Selanjutnya kami sudah bisa dipastikan akan mulai membangun rumah di tempat-tempat yang suatu hari nanti harus dilakukan penggusuran. Seperti nasib orangtuaku. Aku juga nggak mau begitu, mas. Kalaupun suatu kali aku akan ke Jakarta, aku ingin datang dengan ilmu pengetahuan yang cukup. Agar suaraku didengar oleh orang-orang Jakarta. Bahwa aku juga berpendidikan. Tapi apa mungkin, mas? Sekolahku saja sudah putus. Ah, betapa sialnya aku.
Ironisnya lagi mas, peraturan pemerintah selalu saja bisa mencapai daerah manapun. Tapi kenapa, mas? Kenapa fasilitas umum tidak semuanya bisa dirasakan oleh seluruh daerah di negeri kita? Mas masih ingat, kan? Kita pernah berdiskusi tentang ini. Dan aku masih belum puas, mas. Aku masih ingin membicarakannya lagi. Lagi dan lagi. Ah.
Mas, mungkin jika mas datang ke desa ini lagi, mas bisa menjelaskan lebih banyak tentang keberadaan homoseks dan heteroseks di negeri kita. aku ingin tahu itu, mas. Tolong carikan aku informasi lengkap tentang dua hal itu. Mungkin agak berlebihan, mas. Aku merasa kaum homoseks sebenarnya tidak sedikit. Mungkin saja ada banyak, hanya tak terlihat. Atau mungkin juga teman-teman mas sendiri ada yang mencintai sesama jenisnya? Ceritakan padaku, mas. Ceritakan padaku.
Yang terpenting adalah aku dan Lukman juga menemukan kebahagiaan dalam cinta kami. Sama bahagianya seperti pasangan heteroseks lainnya.
Aku ingin tanya mas, apa pemerintah mengira cinta sesama jenis tidak bisa tumbuh pada anak muda? Pada anak di bawah umur? Mungkinkah begitu, mas? Atau mas juga berpikir seperti itu? Maka homoseks baru diperbolehkan ketika seseorang telah cukup umur. Ah, mas. Ini mengada-ngada. Aku tak setuju.
Bagaimana, mas? Bagaimana menurutmu tentang semua yang kupikirkan ini? Aku butuh pendapat mas. Barangkali mas bisa membantuku untuk meneruskan pemikiranku ini pada pemerintah. Mungkinkah bisa begitu, mas? Jelaskan padaku, mas. Apa saja. Tentang semua yang berkaitan dengan hal ini. Terangkan padaku. Tapi jangan sekarang. Aku tunggu kedatangan mas berikutnya di desaku. Untuk bicara banyak denganku. Salam. Maman.
Yogyakarta, 4 November 2003
.jpg)

