-dimuat di Harian Jawa Pos
Yogyakarta,
“BUKANKAH ini jalan yang dicari? Lihat di depan sana! Kita telah menemu rumah, Immanuel!” “Masih jauh.” katamu sambil melepaskan genggaman tanganku pelan-pelan. “Seberapa jauh? Berapa lama lagi bisa sampai di sana?” Kau diam. “Tak bisa kupastikan.” Aku menarik nafas panjang. “Seberat itukah mencapainya?” Hanya suara angin menjawab tanyaku.
*
Aku yakin melihat rumah itu begitu dekat. Namanya dan namaku tertulis emas di sana. Tapi bagaimana bisa dia tak merasakan yang sama? Atau dia berpura-pura? Tak mungkin. Aku sangat mengenalnya. Sungguhkah? Hatiku mulai tercabik. Keraguankah ini, atau sekedar ketakutan?
Dia menyusuri jalan bersamaku selama tiga tahun. Atau lebih. Mengirimkan pelukan ke udara. Menebar bunga di sepanjang jalan. Sesekali tertusuk duri karena tak hati-hati. Wajahnya sumringah setiap bersua waktu memadu rindu. Aku menderita, selalu kukatakan padanya kala bertemu. Aku tahu, begitu juga aku, katanya. Lalu bagaimana? Waktu terkadang menjadi belati yang paling tajam. Jangan minta aku untuk menunggu lagi. Sudah terlalu lama. Betapa sia-sia aku menabur kata dalam hati sendiri. Tak kan dimengerti.
Aku meremas hatiku dengan geram. Rasa lelah terkuras dari dalamnya. Meneteskan titik-titik harapan yang hambar. Wajah lelakiku memantul dari bening tiap butir tetesan. Aku meniupnya hingga lenyap dari pandangan. Begini sedikit lebih baik, pikirku. Setidaknya bisa melumpuhkan rasa lelah yang berkepanjangan.
*
MALAM hari. Kami bertemu di satu badan jalan bersimpang empat. Wajahnya tampak sangat terkejut melihatku. “Kau di sini juga?” Aku diam, tak suka mendengarnya. Tentu aku juga di sini. “Kontak bathin itu bekerja lagi.” Dia tampak terkesima pada apa yang sedang kami alami. “Seperti biasa.” jawabku singkat. “Memang sudah seharusnya begitu. Tapi tetap saja terasa mengagumkan. Kau ada di sini.” sambungnya.
“Kau akan kemana?” tanyaku.
Dia menampakkan wajah khasnya yang selalu tampak dingin. “Ke sana. Kau?”
“Sama.”
“Oh...,”
“Bukankah kita sejalan? Kau bisa melihatnya? Rumah kita.”
Dia diam.
“Jalan ke sana hampir tak ada halangan. Mungkin hanya satu...”
“Mungkin dua...atau tiga...” sahutnya.
“Kalau kita terlambat ke sana, mungkin rumah itu jadi milik orang lain.”
Dia kembali diam.
Apa yang dipikirkannya? Aku sudah gerah dengan sikapnya yang tampak seperti enggan melangkah maju.
“Kita ke sana sekarang?” desakku.
“Sabarlah.”
“Kau diam saja. Tak pernah berjalan.”
“Aku melangkah pelan-pelan. Jalanan ini seperti lautan. Selalu ada ombak. Kita sedang berperahu bukan? Jangan sampai perahu kita terbalik di tengah jalan.”
Aku takut justru kau sendiri yang akan membalikkan perahu ini. Dayungku mulai retak di tangan. Apa aku harus loncat dan berenang mencari pelabuhanku sendiri, tanpamu? Kuharap ini bukan nyata. Sebab aku akan kelelahan dan tak sanggup mengatasinya. Aku ingin segera tiba di sana. Di rumah kita. Aku berharap semua ini mimpi. Sebentar lagi aku akan bangun dan tak menemukanmu. Kita tidak sedang di persimpangan. Tak ada perahu pun lautan. Kau tak diam, tapi berlari ke arahku untuk terbang ke seberang. Semuanya begitu kencang.
Ini semua cuma mimpi. Aku yakin tak lama lagi aku akan terbangun. Harus.
Kalimantan,
ADA yang tak diketahuinya sejauh perjalanan ini.
Saat pertama kali aku bersamanya, dia masih begitu hijau. Perempuan kecil yang malu-malu kala bertemu. Aku sangat hafal dengan sikapnya tiap melihatku. Selalu menghindar. Bahkan sampai sehari sebelum dia pergi merantau. Dia sedang tumbuh dengan segala kerahasiaan hatinya yang baru merekah. Dan aku adalah lelaki yang telah ingin berlabuh. Sangat berbeda jauh.
Malam itu kami berdiri bersisian. Senyumnya menjelma cahaya bulan menimpa tatapku. Kurasa dia terlalu bahagia menyambut perjalanan jauhnya besok pagi. Seperti anak kecil yang bersemangat menanti datangnya hari libur. Aku tersenyum. Lalu seperti biasa, dia kembali menghindar. Aku tak pernah mengerti dia. Hingga sempat terbaca olehku, dia membenciku meski telah lama saling mengenal. Aku tak pernah berani sengaja menyapanya. Dan dia merantau meninggalkan kampung halaman. Membawa semua kenangan dan kerahasiaan mudanya.
Tanah rantau telah menculik dirinya. Dia menghilang. Dariku, kampungnya, dan mimpi tuanya yang ternyata tak pernah kenal usang. Seperti bunga mawar yang senantiasa dirawatnya.
Saat dia pergi, dia tinggalkan cintanya. Telah dilesatkannya diam-diam anak panah pada sasaran. Tak ada yang mengerti. Dia perempuan dengan segala rahasia hati yang tersusun begitu rapi. Hampir lima belas tahun.
Sampai suatu hari dia datang lagi dengan warna lain. Aku mengingatnya sebagai perempuan hijau yang dulu bersamaku. Perempuan kecil yang pertama kali kukenal telah menabur sikap malu-malunya. Lalu penghindaran-penghindaran itu. Tapi dia telah berbeda. Dia kembali untuk memetik cinta yang begitu lama ditinggalkannya. Anak panah yang terlesatkan, kini ingin dimilikinya.
Dia bukan lagi perempuan muda yang malu-malu dan suka menghindar. Tanah rantau telah mendewasakannya dengan begitu baik. Tanpa menghapus barisan kenangan di ingatannya. Dia menemuiku di saat yang baginya sangat tepat. Saat itu, dia telah matang. Tinggi kami tak lagi jauh berbeda seperti saat dia hendak pergi merantau. Kebersamaan kami kala itu terlihat wajar. Dia benar-benar telah dewasa. Dan dia menyapaku dengan cinta seorang perempuan. Aku terkesima. Tak pernah terpikir olehku dia akan mengatakan hal itu.
Dan tiga tahun terakhir menjadi jawaban kabur dariku baginya. Aku menyayanginya. Tapi itu mustahil. Ada yang tak diketahuinya sejauh perjalanan ini.
Yogyakarta,
Kedatanganku di kotamu untuk menegaskan satu hal.
“SEKARANG kita akan ke sana?” tanyanya.
“Kau benar-benar ingin segera ke sana?” Aku balik bertanya.
“Tentu. Kau tahu aku menyayangimu sejak lama. Bertahun-tahun yang lalu. Aku menunggu.”
Bertahun-tahun yang lalu. Ya, sudah bertahun-tahun yang lalu. Dulu kau perempuan kecil yang bahkan tak pantas untuk dicintai karena usiamu yang hijau. Tapi sejak itu kau sudah mencintaiku. Aku merasa telah keliru. Kau menjadi dewasa begitu cepat. Bertahun-tahun lamanya kau memelihara cintamu dalam diam. Kau mengerti ketidakpantasan dahulu, dan menunggu waktu yang baru.
“Kau tak pernah menginginkannya.” Suaranya terdengar ketus.
Entahlah. Mungkin aku menginginkannya. Tapi ada yang tak kau ketahui selama ini. Kau datang seperti petir yang menyambar. Kau bakar aku dengan cintamu yang membara sekian lama. Kau lupa masa rantauanmu yang menumpukkan usiamu hingga kini. Semua terlihat wajar, namun tetap saja berbeda.
“Lalu bagaimana?” tanyanya lagi.
“Kau masih muda. Kurasa...”
“Kita takkan menuju ke sana. Harusnya aku tahu. Kau takut sesuatu?”
Kini aku merasa kau berubah menjadi perempuan yang sangat membenciku.
“Ada yang tak kau ketahui selama ini.”
“Apa itu?”
“Sudah bertahun-tahun. Seperti katamu. Semua sudah berubah. Terlalu banyak yang terjadi.”
“Aku tidak.”
“Aku tahu. Kau sudah kembali, tapi waktu tak pernah bisa kembali.”
Kau meninggalkan hujan dalam langkahmu yang melaju pergi. Aku tak pernah punya cara untuk mengatakan semuanya. Bahwa seorang lain telah memilikiku jauh sebelum kau kembali. Dan tak mungkin... Kupikir seharusnya kau dapat membacanya.
Kalimantan,
Guncangan itu merenggutmu tiba-tiba. Gempa bumi.
Tanah rantau yang dulu sangat kau akrabi, kini tak lagi berbaik hati. Aku tak tahu getaran mana yang lebih hebat. Cintamu padaku yang menguasai perjalanan waktu, bencana itu, ataukah getaran di hatiku saat ini. Kau datang kembali ke kampung halamanmu dengan cara yang sangat berbeda. Semua terasa begitu cepat sejak kau pergi meninggalkan mimpimu atasku bersama hujan itu, sekitar setahun lalu.
Kerumunan orang menghadapi tubuhmu yang kaku. Serentak kurasakan getaran kuat memecah hening pikiranku. Aku tak sanggup mengingat kenangan terakhir bersamamu. Juga cahaya bulan di senyummu yang penuh rahasia. Jiwaku riuh sekali.
Begitu banyak suara di sini. Yang menangisi dan membicarakanmu. Tubuhmu di temukan di reruntuhan sebuah gereja. “Gereja?” Tanyaku pada salah satu kerabatmu. “Ya, di gereja Immanuel.”
Immanuel? Sungguhkah kau di sana waktu itu? Tapi untuk apa kau berada di sana? Dukaku hanyut dalam rahasia tentangmu. Kepergianmu kali ini meninggalkan badai di diriku. Menghancurkan dinding waktu yang memisahkan usia kita.
Dinginnya tanah makam kini menjadi rumahmu. Mengubur cintamu dalam-dalam.
*
Aku menziarahinya di langit malam ini. Cahaya bulan.
Ada yang tak diketahuinya sejak setahun ini. Aku mencintainya. Dan kemarin, telah kuputuskan untuk segera menjemputnya menuju rumah kami.
Kita telah menemu rumah, Immanuel! Terngiang lagi kata-katanya dulu, di telingaku. Benar, kita telah menemu rumah. Dari jauh seolah terdengar olehku, “Tapi waktu tak pernah bisa kembali.”
Yogyakarta,2006


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com