-dimuat di Majalah Horison
MATAHARI di kejauhan tampak tengah bersiap-siap pamit pulang. Sisa-sisa sinarnya terlihat memerah dan bergoyang-goyang halus mengikuti arah gerak tubuh bulatnya menuruni langit. Wajahnya masih tetap terasa menyimpan sekian kesangaran yang tak terkalahkan. Hari ini telah ia habisi dalam teriknya. Kupikir sore ini ia akan undur diri dengan membawa sebuah kepuasan yang mantap. Sambil kubayangkan ia bersuara lantang dan meyakinkan hanya untuk mengucap salam selamat tinggal pada semua.
Langit biru yang mulai berubah warna, kawanan burung yang terbang satu arah seraya berteriak-teriak parau, laut yang diam-diam hendak menelan tubuh raja siang itu, kendaraan-kendaraan yang masih terlihat sibuk mengukur jalan-jalan kota, dan aku yang sedang menikmati letih dan rinduku. Di sini. Di kota ini. Tempat dimana aku pernah menanam sebuah benih harapan untuk seutas cinta di jiwaku. Pada seorang perempuan.
AKU berjalan di atas tumpukan batu yang berada menjorok ke arah laut. Bebatuan yang bersusun dengan rapi sepanjang badan pantai. Ketika hampir sampai di bagian ujung depan susunan batu itu, aku mengempaskan tubuhku. Kucari batu yang datar untuk kududuki. Kujuntaikan kedua kakiku pada batu yang letaknya lebih rendah. Wajahku menantang laut. Pandanganku beredar seperti tak ingin diam. Berpindah-pindah dari langit, matahari, laut, bahkan sesekali kutolehkan kepalaku, kuputar badanku, untuk dapat melihat situasi jalan raya yang ada di belakangku. Barangkali aku terlalu rindu dengan suasana kota ini. Atau laut ini. Perlahan-lahan kulepaskan segala rasa letih yang menyerangku akibat perjalanan jauh yang baru saja kutempuh.
Ya. Aku baru tiba di kota ini sekitar setengah jam yang lalu. Dari Bandara Udara Tabing, sengaja aku langsung menuju laut ini sekadar untuk menyerap kembali segala kenangan indah yang pernah kurasakan di kota ini sebelum aku pergi dulu. Terlalu banyak yang harus kulukis ulang di mataku tentang kota ini. Aku merasa tak puas hanya dengan mengukir siluet-siluet keindahan tubuh kotaku di dalam benakku. Seperti yang selama ini aku lakukan di kota perantauanku. Sangat sulit. Aku terlilit di keruwetan rasa rindu yang berkecamuk. Maka kini, aku kembali ke sini. Pulang.
Aku berdiam diri di atas bebatuan. Entah untuk apa. Tapi semua bagiku terasa sangat menyenangkan. Menenangkan. Kubenamkan kepalaku hingga mendekati dadaku. Tampak pantai di bawahku. Merayu ombak untuk datang dan membiarkannya kembali pergi. Aku menikmati gulungan ombak liar itu. Ombak yang berulang-ulang menghantam tumpukan batu yang kududuki. Seolah tak peduli padaku. Percikan hempasan air laut itu berkali-kali menyiram tubuhku yang sunyi. Siramlah aku hai air cintaku. Aku merindukanmu. Seperti juga kau merindukanku. Dulu kita selalu bertemu di sini di setiap sore. Masih ingatkah kau? Kau selalu saja menyiramku. Membasahi seluruh tubuhku. Ya. Persis seperti yang kau lakukan saat ini. Dan aku tak pernah membencimu karenanya. Kuserahkan ragaku untuk kau selimuti dengan dingin jari-jari tanganmu. Saat itu kudengar kau tertawa senang melihatku yang tak beranjak dari rumah lautmu. Tentu. Karena aku mencintaimu. Seperti juga kau mencintaiku. Jari-jari tanganmu yang dingin, yang memercik ke wajah dan tubuhku, selalu berhasil membangkitkan gairahku. Kau merayuku dengan gulungan-gulungan kekar tubuhmu yang menjalar di keluasan biru. Hingga menghampiriku di bibir pantai. Lalu kita bercengkerama dalam singkat waktu. Bersetubuh dalam khayalan dan kerinduan masing-masing. Deburmu yang bagaikan lenguh manja itu, makin membuatku tak ingin melepaskan tubuhmu di genggaman mataku. Aku terus menanti dan menemuimu. Seperti juga kau selalu kembali dan kembali padaku. Tapi tak pernah lelahkah kau? Seperti aku saat ini. Begitu lelah. Ah. Lagi-lagi kau membelai tubuhku dengan kasihmu. Dengan percikan air cintamu. Semakin membenamkanku dalam keheningan ini.
Kutatap pantai. Bibirnya penuh dengan buih-buih putih serupa busa. Begitu indah. Cantik sekali, batinku. Buih-buih itu, melayangkan pikiranku pada sesuatu yang sangat kukenal. Sesuatu yang tidak asing di mataku. Tapi apakah? Aku mencoba mengingat. Ah, ya! Buih-buih itu mengingatkanku pada busa sabun yang membungkus tubuh indah milik seorang perempuan. Seketika aku melihat lekuk mulus tubuh perempuan itu di antara riuhnya buih-buih yang saling memburu. Aku mendadak terangsang. Ingat pada kemolekan perempuan itu. Dilla…. Bisikku pelan.
DILLA. Dia seorang pelacur. Perempuan malam yang kukenal di kota tempat aku merantau. Kuperkirakan usianya masih cukup muda. Wajahnya cantik. Rambutnya hitam sebahu. Halus dan harum. Selalu ia biarkan tergerai begitu saja. Tubuhnya seksi. Langsing berisi. Dadanya penuh. Kulitnya kuning langsat. Tampak sangat terawat. Bicaranya juga tidak sembarangan. Meskipun isinya sebagian besar rayuan yang tentunya bernada mesra dan memancing gairah. Khususnya para lelaki. Lebih sempitnya lelaki berhidung belang. Atau lelaki iseng. Atau apa sajalah namanya. Tapi menurutku, siapa pun yang melihat Dilla, pasti akan jatuh hati. Termasuk aku. Entah aku berani memasukkan diriku dalam kategori lelaki yang bagaimana. Tapi yang jelas, aku tertarik pada perempuan ini. Pada pelacur ini. Walaupun sungguh, aku sempat tak percaya kalau ia ternyata seorang pelacur.
Beberapa kali aku mengencani Dilla. Bukan hanya karena aku ingin, tetapi aku benar-benar tertarik pada perempuan ini. Dan Dilla tidak tahu itu. Mungkin yang ada di benaknya hanyalah bagaimana melakukan pekerjaannya dengan baik. Demi sejumput lembaran uang. Itu saja. Kadang aku berpikir ia tidak mengenal lagi akan rasa cinta. Tapi entahlah. Aku pun tak berani meneruskan rasaku ini padanya. Kenapa? Karena aku punya seseorang di suatu tempat. Yang menungguku. Jauh dari kota ini. Siapa? Kekasihmu? Ya, begitulah. Dan aku merantau, juga untuk kembali padanya. Ah! Sekarang pun kau telah mengkhianati kekasihmu itu. Berapa kali kau sudah meniduri pelacur itu. Siapa namanya? Dilla? Aku terhanyut dalam alam pikiranku. Benar juga, batinku.
Dilla sudah terlalu sering mengisi hari-hariku. Parahnya lagi, Dilla seperti telah menjadi bagian dari diriku. Menjadi teman bicaraku, teman tertawa, menangis, dan teman seranjangku. Hingga aku hafal betul segala gerak-geriknya sehari-hari. Aku tahu persis semua lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Ranum buah dadanya. Lehernya yang jenjang. Dan semua. Bahkan Dilla pun memberitahukanku alamat rumah kecil miliknya. Entah untuk apa.
Tapi pernah sekali ia menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di rumahnya. Aku menurutinya. Dan sampailah aku di rumah Dilla. Di sana kami hanya menghabiskan waktu untuk bicara berdua. Tidak terjadi apa-apa. Sama sekali bukan sebuah kencan seperti yang biasa kulakukan dengannya. Bahkan aku dan Dilla duduk di kursi yang letaknya berhadapan. Aku tak bisa memeluk tubuhnya. Tapi wangi parfum khas miliknya masih dapat kucium dengan jelas dari jarak kami yang memang tak terlalu jauh. Aku hanya menatap wajahnya. Menelanjangi tatapannya. Ada dorongan hasrat yang meledak-ledak dalam diriku ketika tatapan kami saling bertabrakan. Rasanya aku ingin meraih tubuh perempuan ini, menuntunnya ke kamar, dan menindihnya dengan segala keliaranku. Ah. Benar-benar aku ingin menerkamnya saat itu.
Keringatku mulai menetes di punggungku. Gerak-gerikku mulai terlihat gelisah. Di depan perempuan itu. Di depan pelacur itu. Aku tak tahan. Aku ingin sekali melebur pada perempuan ini. Memberangus waktu dengan desah kami yang bersahutan. Kutatap bibir segar miliknya. Masih saja mengalirkan kata-kata. Membanjiri daun telingaku. Sedang aku sudah tak dapat menangkap apa yang diucapkannya. Aku sibuk dengan diriku. Aku sibuk dengan hasratku yang berkobar. Ah, sialan! Jangan pura-pura, perempuan. Batinku mulai ribut sendiri. Apa kau tak menginginkan aku? Apa kau tak ingin aku menjelajahi tubuhmu seperti biasanya? Apa kau tak merindukan kekuatanku yang menembus ruang sunyimu? Sudahlah! Hentikan bicaramu. Aku hanya inginkan kau. Dirimu. Tubuhmu. Yang menjelma jadi perempuan perkasa di ranjang bisu. Apa kau tidak ingin kembali menguasai waktu dengan permainan liar kita?
Perempuan itu terus menghujaniku dengan berbagai kata. Seolah ia tak mengerti atas apa yang kurasakan padanya saat ini. Aku tak bisa konsentrasi. Hanya wajah datar milik perempuan itu yang samar-samar tertangkap oleh mataku yang memerah. Dan semakin memerah. Keningku basah oleh peluhku. Seluruh tubuhku bergetar. Menegang. Kelaminku tegak. Aku tak tahan. Tapi perempuan di depanku seperti tak peduli pada keadaanku. Atau tak tahu? Tidak mungkin. Dia pelacur. Seperti pengakuannya sendiri. Maka pastilah ia sangat paham dengan tanda-tanda yang kualami saat ini. Apalagi ia sudah sering melihat hal ini. Ah, perempuanku. Pelacurku. Tolong aku. Bawalah aku ke puncak orgasme yang sempurna. Denganmu. Hanya bersamamu. Aku meraih tangan kiri perempuan itu. Dengan cepat ia melepaskan genggamanku.
Perempuan itu berdiri di hadapanku. Membalikkan badannya dengan cepat dan berkata padaku. “Aku mau mandi. Kau di sini saja dulu.” Aku hanya bisa diam. Selain karena tak sanggup menahan hasratku yang hampir meruntuhkan kesadaranku. Sialan! Makiku sepeninggalnya.
Aku tak tahan lagi. Hasrat ini harus disalurkan. Aku harus menuntaskannya. Dengan perempuan itu. Pelacur itu. Tidak bisa tidak. Bahkan jika ia menolak sekalipun. Kau mau memperkosanya? Yang benar saja. Aku tak tahu. Tapi ia harus melayaniku saat ini juga.
Aku berjalan ke arah kamar mandi perempuan itu. Aku kalap. Kubuka pintu kamar mandi itu dengan paksa. Saat itulah, aku melihat buih-buih busa sabun berwarna putih yang sangat halus dan cantik sekali. Secantik paras perempuan itu. Pelacur itu. Kulihat tubuhnya terbungkus oleh busa sabun. Gairahku memuncak. Perempuan itu telah membangkitkan nafsu birahiku berlebih-lebih. Aku mendekat ke arahnya. Bermaksud meleburkan diri padanya. Tapi ketika ia sadar kedatanganku, ia malah mamakiku.
“Keluar!”
“Kenapa?” balasku.
“Aku tidak sedang bekerja.”
“Apa bedanya? Aku akan membayarmu.”
“Keluar kau!”
“Hei. Kau kan pelacur. Kenapa menolakku?”
“Aku memang pelacur. Tapi bukan berarti aku tak punya harga diri.”
“Apa?”
“Kau tak bisa seenaknya melecehkanku begini. Keluar!”
“Kau pelacur tanggung.”
“Terserah. Keluar kau!”
Perempuan itu mendorongku keluar kamar mandi sekuat tenaganya.
“Sialan!” makiku.
Apa-apaan sih? Bukankah ia pelacur. Kenapa harus berteriak-teriak begitu? Seperti mau diperkosa saja. Toh ia sudah biasa melayani para lelaki. Nafsu berahi lelaki. Kenapa harus histeris seperti tadi? Sialan! Apa pelacur juga punya jam-jam kerja? Tidak bisakah dilanggar? Ah. Kenapa perempuan itu membawa-bawa harga diri segala?
Sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengan Dilla. Sampai aku memutuskan untuk kembali ke kota lamaku. Menjemput kekasihku.
SENJA menjemputku. Aku tersentak diempas angin kencang menerpa wajahku. Aku melamun, batinku. Di tanganku terselip sebungkus rokok putih yang belum terbuka. Aku ingin merokok. Tapi angin bertiup begitu kencang. Pasti tidak nikmat merokok dalam keadaan seperti ini. Kumasukkan kembali rokokku ke saku bajuku.
Kulayangkan pandangan ke laut. Penuh rasa rindu. Tapi aku juga rindu kekasihku. Perempuan yang menungguku. Aku harus menemuinya sekarang.
Aku berjalan seraya tersenyum-senyum. Kedatanganku pasti akan menjadi sebuah kejutan yang paling indah untuk perempuanku. Ia tak tahu kalau aku akan pulang saat ini. Tanpa kusadari langkahku semakin cepat. Tak sabar untuk segera sampai di rumahnya.
Aku berdiri di depan pintu rumahnya. Kutarik nafas dalam. Sesak, namun ada rasa bahagia. Kutundukkan kepalaku sejenak sambil berbisik, “sayang, aku pulang.” Pikiran nakalku bermain-main di kepalaku. Kubayangkan perempuanku yang melihatku dengan tatapan kaget bercampur senang saat membukakan pintu. Lalu ia akan memelukku dengan erat, menciumku, sementara aku akan mulai meraba tubuh sintalnya. Melepaskan semua kerinduan yang bertumpuk-tumpuk. Bukan tidak mungkin aku dan ia akan hanyut dalam suasana dan meneruskannya ke sebuah pergumulan liar. Demi menghapus rindu. Juga nafsu. Berahi. Aku tersenyum menertawakan anak pikirku yang kurasa agak kurang ajar ini.
Tapi cukup serukah rencanaku tadi? Haruskah aku mengetuk pintu atau menekan bel yang ada di sisi kanan daun pintu ini? Tidak terlalu klasikkah caraku? Aku berpikir sesaat. Lalu kuingat….
Kurogoh semua bagian sisi kantong di ranselku. Ah, ini dia. Tanganku menggenggam sebuah anak kunci. Aku senang ternyata aku masih menyimpan kunci pemberian perempuanku dulu.
“Ini kunci rumahku. Ah, bukan. Kunci rumah kita. Maka kau bisa pulang kapan saja kau mau. Aku akan menunggumu.”
Saat itu aku tak terlalu peduli dengan sikapnya. Untuk apa aku membawa kunci ini? Pikirku. Aku akan pergi dalam waktu lama. Tapi kuterima juga pemberiannya sekadar untuk menghargainya. Menghargai perempuanku. Dan, sekarang aku justru berterimakasih pada perempuanku. Karena kunci ini, akan membantuku. Membuat kejutan menjadi sangat sempurna. Maksudmu? Aku akan masuk ke rumah ini.
Sunyi. Aku tak melihat perempuanku. Di mana kau, sayang? Aku pulang. Tapi mataku tak menangkap bayangan perempuanku. Telingaku tak mendengar suara perempuanku. Di mana ia?
Aku berkeliling. Tapi tak kutemukan perempuanku. Kamar tidur miliknya kujumpai kosong. Begitu juga dapur kecil di bagian belakang rumah. Aku sedikit kecewa. Perempuanku tidak sedang di rumah? Ah. Rencanaku memberinya kejutan, gagal. Tiba-tiba ada yang terlintas di pikiranku. Ya. Kamar mandi. Aku belum memeriksanya.
Sepi. Apakah perempuanku ada di dalam? Tapi sayup-sayup dapat kutangkap suara kemericik air yang mengalir pelan dari kran. Rupanya perempuanku sedang mandi. Ini saatnya, bisikku pelan. Aku senang karena akhirnya aku dapat mengejutkan perempuanku. Bersiap-siaplah, sayang.
Tanganku meraih gagang pintu kamar mandi. Semoga tidak dikunci, harapku. Minimal, kaitan kunci pintu ini tidak kokoh. Aku tahu betul, perempuanku suka tak peduli dengan kaitan kunci pintu kamar mandinya. Kalau bukan aku yang memperbaikinya, ia akan membiarkan begitu saja kaitan kunci itu dalam keadaan rusak. Aku beberapa kali marah padanya karena hal-hal seperti itu. Tapi kali ini, aku justru berharap ia melakukan kebiasaannya itu. Ayo, terbukalah. Kataku dalam hati seraya membuka pintu kamar mandi itu. Dan….
Kulihat dengan jelas begitu banyaknya busa-busa sabun di lantai kamar mandi, juga tubuh perempuanku. Seperti buih-buih di pantai. Aku teringat lautku. Tapi kali ini buih-buih itu tak tampak cantik di mataku. Darahku naik. Emosiku menanjak drastis. Perempuanku tak sendiri. Seorang lelaki tak kukenal tengah berdiri menghadapi tubuh perempuanku. Telanjang. Dengan jelas kulihat wajah perempuanku yang terkejut. Juga lelaki itu. Aku terhenyak. Seluruh anggota tubuhku mendadak terasa lemah. Pikranku kalut.
“Perempuan sundal!” makiku pada perempuanku.
“Tunggu.”
Aku berjalan keluar meninggalkan keduanya yang masih dalam keadaan bugil dan penuh busa sabun. Kurasakan perempuanku ingin mengejarku. Tapi tidak mungkin ia akan keluar rumah dengan keadaan seperti itu. Aku berjalan. Dan terus berjalan. Menabrak angin malam di antara kegelapan kota. Ke pantai. Ke laut.
KUHAYATI perjalanan malam yang terasa demikian lambat di pantai. Aku menelan getir suara debur ombak yang berterusan. Menghantam dinding hatiku. Dalam gelap aku mencari-cari buih-buih putih di bibir pantai. Ah. Aku rindu perempuan pelacurku. Di manakah ia sekarang? Kugambarkan kemolekan tubuhnya di kegelapan laut. Anganku berdesir kencang. Saling membalap bersama angin malam. Kuingat semua bagian tubuh pelacurku. Matanya, dadanya, pinggulnya, rambutnya, dan semua. Tiba-tiba kulihat perempuan itu tengah berbaring di bibir pantai. Telanjang. Berselimutkan buih-buih ombak. Kurasa bayangnya mempermainkan mataku. Datang, hilang, datang, hilang. Tatapanku bertabrakan dengannya. Serentak aku ingin segera melebur dengan dirinya. Memeluknya, menciumnya, menjelajahi lekuk tubuhnya. Perempuanku, pelacurku, kau mau bergumul denganku malam ini? Apakah kau ingin menyerukan keliaran kita di sini? Di pantai. Di laut ini. Aku tak tahan. Sangat tak tahan. Berahiku memuncak. Mataku memerah. Aku ingin perempuan ini. Pelacurku.
Malam kian larut. Pikiranku kalut. Tertuju pada perempuan pelacurku. Aku akan melebur dengannya. Kuturuni tumpukan batu yang bersusun kokoh. Kusentuh bibir pantai. Menggamit tangan halus perempuanku. Pelacurku. “Mari.” Ajakku padanya menuju hamparan kegelapan yang terasa semakin dingin. Menenggelamkan kesadaranku. Pergumulan baru saja akan dimulai. Aku menoleh ke kiri. Samar kulihat perempuan pelacurku tersenyum mesra. Antara ada dan tiada. Yang kurasakan kian jelas hanyalah angin dan air laut di sekelilingku. Menelanku. Makin lama makin dalam.
Padang-Yogyakarta, Agustus 2003


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com