-dimuat di Surabaya Post
/satu/
“Yang perlu mas tahu ini nggak ada bedanya sama sekali dengan yang pernah mas rasakan.”
Ditariknya nafas dalam-dalam. Seperti tercekat.
“Waktu mas mengejar Sekar.” lanjutnya.
Aku tersenyum. Melihat ekspresi wajah serius milik lelaki muda di depanku ini. Maman. Seorang anak dari satu desa terpencil di daerah Jawa Timur, yang selalu bersemangat setiap kali mendengar semua ceritaku tentang kota. Jakarta. Maman tak pernah bermimpi bisa pergi ke Jakarta. Tapi ia suka sekali mendengar tentang situasi kota metropolis itu. Dariku. Ya. Aku, yang dari kecil tinggal di Jakarta. Sampai sekarang.
Kami berkenalan sekitar lima bulan yang lalu. Saat aku datang ke desanya. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin tahu suasana desa itu. Kebetulan aku suka sekali mengunjungi daerah-daerah baru yang belum pernah kudatangi. Dan sampailah aku di desa tempat tinggal Maman. Aku bertemu dengan lelaki muda itu, dan aku tertarik padanya. Karena kulihat ia pemuda desa yang cerdas. Sejak itu aku menjadi temannya. Dia menjadi temanku. Kami pun berjanji untuk bertemu lagi. Kini, aku kembali menemuinya di sini. Di desanya.
Maman memainkan sejumput rumput liar di telinganya. Ia tampak gelisah. Setelah bosan, dilemparkannya rumput liar itu. Sesekali ia menghentakkan kaki kanannya. Juga menarik nafas panjang dan membuangnya sebagai sebuah desahan. Seperti ada kekesalan dalam dirinya yang tak bisa termuntahkan. Atau gelisah?
Aku paham mengapa Maman bersikap begitu. Melihatnya yang tak bisa tenang, aku memilih diam. Duduk bersila di sampingnya, di sebuah gubuk kecil dekat sawah. Sudah tentu sawah itu bukan milik Maman. Maman, atau biasa di kenal dengan sebutan Si Maman, hanyalah seorang penggembala kerbau di desa ini. Kerbau itupun bukan milik Maman. Tapi milik orang lain. Selain itu ia juga bekerja serabutan. “Apa saja. Asal menghasilkan duit.” katanya. Saat ini, kalau saja ia bersekolah, Maman semestinya telah duduk di kelas 2 SLTP. Tapi ia putus sekolah ketika masih kelas 1 SLTP. Penyebabnya, tentu saja masalah klasik: tak ada biaya.
“Apa orang seperti aku ini berbeda dengan yang lainnya, mas?” Maman membuyarkan pikiranku. “Apa aku nggak sama dengan mas?”
Aku tahu kemana arah pembicaraan Maman.
“Ya sama tho, Man. Yang bilang kamu beda itu siapa?”
“Tapi kenapa orang-orang sepertiku dikucilkan, mas? Kalau mas bilang, apa itu, didiskriminasikan?”
“Wah, agak repot nih pertanyaannya.”
Maman memang tak terlalu membutuhkan jawaban dariku. Tampak dari raut mukanya. Ia hanya ingin segala keluhan dan kekesalannya didengar. Itu saja. Sebuah pemikiran sederhana yang dimiliki lelaki muda seusianya.
“Gimana kabarnya Lukman?” kali ini aku yang memecahkan lamunan Maman.
“Baik, mas. Sudah seminggu ini aku nggak ketemu dia.”
“Kemana dia?”
“Sibuk kerja. Baru dapat kerja di sawahnya Pak Hidayat sana itu.”
Jari kurus Maman menunjuk ke arah depan, ke sebuah sawah yang lumayan luas.
“Pasti kamu kangen dia, kan?” aku mencoba mencairkan keadaan hati Maman.
“Ya mesti tho, mas.”
Maman diam. Menundukkan kepalanya. Aku tak tega melihat pemuda yang usianya sembilan tahun di bawahku itu. Tersirat di wajahnya sebuah keputusasaan. Kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk. Tapi entah pada siapa. Mungkin pada keadaan, pada pemerintah, atau malah pada dirinya sendiri. Yang jelas, Maman sangat kecewa. Sangat sedih. Sejak terakhir aku bercerita tentang kota. Juga rencana pemerintah membuat peraturan hukum untuk hubungan sesama jenis. Tentang ancaman pidana untuk anak di bawah umur yang melakukan hubungan seksual sesama jenis. Berarti tentang Maman. Karena Maman adalah anak di bawah umur. Dan Maman sedang menjalin cinta dengan kekasihnya yang juga masih terhitung di bawah umur. Yang paling penting lagi, Maman dan kekasihnya itu sama-sama lelaki. Lelaki muda. Nah, ancaman pidana itu sedang mengincar Maman. Temanku.
Maman memang tak tahu apa-apa tentang istilah pidana. Atau tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Yang Maman tahu, ia sedang terancam. Terancam hukuman. Mungkin penjara, atau lainnya. Ia tak mengerti bagaimana jelasnya. Ia merasa bahwa pemerintah sedang mencoba merebut satu-satunya hal yang ia miliki saat ini. Cinta. Karena selain itu, Maman tidak punya apa-apa lagi.
“Bapak dan mbokku sudah lama nggak ngirim kabar. Denger-denger, rumah mereka di Jakarta kena penggusuran. Kampung Sawah. Kata mas berita itu memang betul, tho?”
Aku mengangguk.
“Aku benar-benar sudah nggak punya apa-apa, mas. Orang tua nggak tahu gimana kabarnya, harta benda sama sekali nggak ada, sekolahku putus di jalan, sekarang…. cintaku juga akan diambil oleh pemerintah. Peraturan-peraturan apa, tho? Sampai nyaris membunuhku begini. Apa karena aku orang kecil, mas? Lantas cinta saja nggak berhak kumiliki dengan damai?”
Maman memang sangat kecewa, pikirku. Ia tak peduli lagi pada apapun. Bahkan untuk melihat lebih jauh maksud pemerintah membuat rencana peraturan itu. Tapi aku memaklumi Maman. Ia memang berhak untuk tidak mempedulikan semua itu. Sudah terlalu banyak hal yang terebut darinya karena keadaan. Terpaksa. Maka wajar jika ia marah saat ini. Atau kecewa. Atau jika ia memaki rencana pemerintah membuat peraturan itu. Aku akan membiarkannya menumpahkan segala kekesalannya. Ah, aku justru kesal pada diriku sendiri. Karena telah memberitahukan tentang rencana pembentukan peraturan itu kepada Maman. Sehingga membuatnya merasa terbebani. Menambah kesedihannya. Sementara aku tahu persis, cintanya pada Lukman adalah satu-satunya sumber kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Bodoh sekali aku!
Aku masih ingin bicara dengannya. Banyak hal. Tapi aku harus kembali ke Jakarta. Ya, ke kota yang di mata Maman begitu kejam. Kutinggalkan laki-laki muda itu, setelah memberikan alamat rumahku padanya.
"Kalau-kalau kamu perlukan."
/dua/
Sudah dua bulan lebih mas meninggalkan desa ini. Aku seperti kehilangan seorang teman bicara, guru, dan seorang pencerita yang baik tentang kota Jakarta. Aku nggak sabar untuk mendengar cerita mas lagi. Maka kukirim surat ini. Mungkin sampainya akan lama. Karena nggak mungkin aku ngirim dengan kilat khusus. Aku cuma bisa ngirim pakai prangko biasa. Yang penting sampai ke tangan mas dengan selamat.
Mas, tiba-tiba aku ingin sekali mas bisa ke sini lagi. Datang ke desa ini. Untuk bicara denganku tentang banyak hal. Terutama tentang rencana peraturan pemerintah itu. Kalau nggak salah tentang KUHP ya, mas? Aku penasaran tentang kelanjutan cerita mas. Bagaimana perkembangannya sekarang, mas? Apa peraturan itu jadi dibuat? Apa aku benar-benar terancam mas? Apa aku akan dihukum kalau aku meneruskan cintaku dengan Lukman? Apa aku akan dipenjara karena cintaku, mas?
Aku tahu mas pasti sibuk dengan semua kegiatan kuliah mas. Mungkin akan lama lagi mas baru bisa datang menemuiku. Aku akan bicarakan semua pikiranku di surat ini. Kita bisa diskusikan kalau mas ada di sini nanti. Setuju, mas?
Mas, aku agak pusing dengan pembicaraan mas dahulu. Mas menyebut-nyebut tentang homoseks dan heteroseks. Aku terpaksa mencatatnya supaya nggak terbalik-balik memakainya. Juga artinya. Semua hal penting yang selama ini mas bicarakan padaku, selalu kucatat. Di benakku, juga di kertas.
Sungguh, mas. Aku bertanya-tanya tentang satu hal. Apa bedanya cinta yang ada pada kelompok homoseks dan heteroseks? Bukankah keduanya sama-sama cinta? Tapi kenapa homoseks seperti dipandang lebih rendah daripada pasangan heteroseks. Apa yang salah dari hubungan cinta sesama jenis, mas? Apa yang keliru dari homoseks? Aku dan Lukman tidak melihat perbedaan apa-apa dengan kasih sayang yang ada pada pasangan heteroseks. Mas pasti tahu, aku dan Lukman baik-baik saja. Kami bahagia, mas. Kami bahagia dengan cinta kami ini. Maka apa yang salah dari kami? Karena kami masih di bawah umur? Ah, apa anak di bawah umur belum boleh mengenal cinta? Atau karena kami sama-sama laki-laki? Kalau kami memang sama-sama lelaki, lalu kenapa? Dan kalau kami adalah pasangan lelaki dan perempuan, juga kenapa? Di mana perbedaannya, mas? Sehingga membuat homoseks menjadi sesuatu yang dilihat kurang atau tidak baik?
Mas, kalau yang menjadi masalah adalah umur kami, mengapa pasangan heteroseks yang masih di bawah umur tidak diancam pidana juga? Mengapa hanya kaum homoseks yang diancam pidana, mas? Kenapa hanya kami? Kenapa hanya aku dan Lukman? Kenapa teman-temanku yang juga menjalin cinta tidak diancam pidana? Apa karena mereka heteroseks? Mengapa, mas? Apa yang bisa menjelaskan semua ini? Mengapa Kunthi dan Edi tidak diancam pidana? Usia mereka sama denganku. Juga Ningsih dan Joko. Bagaimana ini, mas? Aku merasa diperlakukan tidak adil. Atau aku yang terlalu bodoh untuk dapat memahami maksud sebenarnya pemerintah membuat rencana peraturan itu?
Aku menjalin cinta dengan Lukman. Kunthi dan Edi juga menjalin cinta. Tapi tak ada peraturan yang mengancam mereka dengan hukuman. Padahal mas, saat ini Kunthi sedang hamil. Tapi mereka bisa hidup berdua. Kunthi dan Edi dinikahkan oleh orangtua mereka. Lalu apa istimewanya mereka, mas? Apa yang membuat hubungan cintaku dengan Lukman menjadi sesuatu yang terlarang?
Malam demi malam aku berpikir tentang ini, mas. Semua yang telah mas katakan padaku, juga cerita mas tentang rencana pembentukan peraturan itu. Duh, mas. Aku nggak habis pikir. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pemerintah dengan membentuk peraturan itu? Terus terang mas, bagiku semua cinta yang ada di dunia ini adalah pemberian. Juga cintaku. Yang ternyata menimpa kaumku sendiri. Ya. Lukman. Aku mencintai dia. Seorang yang juga lelaki sepertiku. Tapi bukankah aku tak pernah meminta untuk menjadi seperti ini mas. Aku tak pernah membuat-buatnya. Cinta ini ada dengan sendirinya dalam jiwaku. Entah dari mana asalnya. Sama seperti ketika aku bertanya pada mas: Mengapa mas bisa jatuh cinta pada Sekar? Gadis berwajah sederhana itu. Dan mas hanya menjawab: Tidak tahu. Cinta ini seperti rintik hujan yang datang tiba-tiba menyiram seluruh ruang hati mas. Dan genangannya, mengalir mengarah kepada Sekar.
Duh, mas. Semua itu membuatku yakin bahwa begitu pula cintaku kepada Lukman. Ia seperti tetes embun pagi yang menyejukkan jiwaku. Mas, sungguh, aku mencintai Lukman seperti mas mencintai Sekar. Maka mana yang salah dengan cintaku?
Aku tahu mas. Mungkin ini pikiranku yang akan menjadi dasar penentang dibentuknya peraturan baru itu. Ya….
Katakan saja cintaku adalah cinta monyet. Bagaimana, mas? Ah, pasti mas malah tertawa mendengar pikiranku yang satu ini. Tapi jangan, mas. Aku sangat serius. Begini, bukankah pada pasangan heteroseks dikenal adanya istilah cinta monyet? Bahkan ini juga terjadi pada anak usia Sekolah Dasar (SD). Bukankah mereka masih sangat muda, mas? Tapi apakah mereka diancam pidana? Tidak kan, mas. Ya, bagaimana jika pada kaum homoseks juga dipakai cara pandang seperti itu? Bahwa di kaum homoseks juga dikenal istilah cinta monyet. Yah, barangkali aku bisa dijadikan contoh nyatanya. Ini jika cinta monyet diartikan sebuah permainan perasaan pada anak-anak di bawah umur. Maka kaum homoseks yang sejak muda sudah menyadari bahwa ia homoseks, dan menjalin cinta dengan sesama jenisnya, tidak bisa dipidana. Seperti pasangan-pasangan muda yang heteroseks tadi. Seperti teman-temanku. Kunthi dan Edi. Atau Ningsih dan Joko. Bagaimana menurut mas tentang pikiranku ini?
Aku senang bisa tahu banyak hal dari mas. Tapi tentang yang satu ini, aku menjadi demikian gelisah. Mas pasti bisa mengerti. Ketika cinta kita mengalami halangan yang besar. Dan dalam hal ini, cintaku terhalangi oleh peraturan hukum. Bayangin, mas. Peraturan itu dibuat oleh pemerintah. Artinya halanganku adalah pemerintah. Apa yang bisa dilakukan oleh anak desa sepertiku?
Duh, mas, betapa miskinnya aku. Betapa lemahnya aku. Bahkan untuk mempertahankan cintaku saja aku tak mampu!
Aku ingin sekali protes. Aku ingin menentang rencana pembentukan peraturan itu. Tapi kata mas, di Jakarta sudah banyak yang mendebatkan rencana itu. Lalu bagaimana hasilnya, mas?
Sungguh segala kebijakan dan peraturan yang dibuat pemerintah, serupa seekor hewan kecil bersayap yang sangat lincah. Ia bisa menembus dan memasuki daerah mana saja yang ia inginkan. Melewati celah-celah yang ada. Dan mencapai ke seluruh penjuru. Mas, desaku adalah salah satu sasaran hewan kecil itu. Dan aku, hanya bisa menunggu hewan kecil itu menyemprotkan senjata mautnya padaku. Aku kesal, mas. Aku kecewa.
Padahal pembuat peraturan itu sendiri tidak pernah berkunjung ke desa ini. Mungkin nama desa kami pun tidak terekam di benak mereka. Pemerintah. Sebaliknya, kami penghuni desa ini tak ada yang mampu untuk pergi ke Jakarta. Jangankan untuk benar-benar pergi ke sana. Mungkin mimpi kami untuk bisa ke sana saja sudah cukup menakutkan mereka. Bahwa kami hanya akan menambah kesesakan kota Jakarta. Selanjutnya kami sudah bisa dipastikan akan mulai membangun rumah di tempat-tempat yang suatu hari nanti harus dilakukan penggusuran. Seperti nasib orangtuaku. Aku juga nggak mau begitu, mas. Kalaupun suatu kali aku akan ke Jakarta, aku ingin datang dengan ilmu pengetahuan yang cukup. Agar suaraku didengar oleh orang-orang Jakarta. Bahwa aku juga berpendidikan. Tapi apa mungkin, mas? Sekolahku saja sudah putus. Ah, betapa sialnya aku.
Ironisnya lagi mas, peraturan pemerintah selalu saja bisa mencapai daerah manapun. Tapi kenapa, mas? Kenapa fasilitas umum tidak semuanya bisa dirasakan oleh seluruh daerah di negeri kita? Mas masih ingat, kan? Kita pernah berdiskusi tentang ini. Dan aku masih belum puas, mas. Aku masih ingin membicarakannya lagi. Lagi dan lagi. Ah.
Mas, mungkin jika mas datang ke desa ini lagi, mas bisa menjelaskan lebih banyak tentang keberadaan homoseks dan heteroseks di negeri kita. aku ingin tahu itu, mas. Tolong carikan aku informasi lengkap tentang dua hal itu. Mungkin agak berlebihan, mas. Aku merasa kaum homoseks sebenarnya tidak sedikit. Mungkin saja ada banyak, hanya tak terlihat. Atau mungkin juga teman-teman mas sendiri ada yang mencintai sesama jenisnya? Ceritakan padaku, mas. Ceritakan padaku.
Yang terpenting adalah aku dan Lukman juga menemukan kebahagiaan dalam cinta kami. Sama bahagianya seperti pasangan heteroseks lainnya.
Aku ingin tanya mas, apa pemerintah mengira cinta sesama jenis tidak bisa tumbuh pada anak muda? Pada anak di bawah umur? Mungkinkah begitu, mas? Atau mas juga berpikir seperti itu? Maka homoseks baru diperbolehkan ketika seseorang telah cukup umur. Ah, mas. Ini mengada-ngada. Aku tak setuju.
Bagaimana, mas? Bagaimana menurutmu tentang semua yang kupikirkan ini? Aku butuh pendapat mas. Barangkali mas bisa membantuku untuk meneruskan pemikiranku ini pada pemerintah. Mungkinkah bisa begitu, mas? Jelaskan padaku, mas. Apa saja. Tentang semua yang berkaitan dengan hal ini. Terangkan padaku. Tapi jangan sekarang. Aku tunggu kedatangan mas berikutnya di desaku. Untuk bicara banyak denganku. Salam. Maman.
Yogyakarta, 4 November 2003


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com