Minggu, Mei 31, 2009

Tasbih Huda Shalih

Tasbih Huda Shalih

Cerpen Maya Wulan*)

Dimuat di Riau Pos, 8 oktober 2006

APA aku harus menuding Tuhan? Sudah sejam adikku terus saja menangis. Menyalahkan ayahku tentu tak cukup lagi, selain terasa tak adil untuknya. Sejak aku mulai bisa menghitung jari sebelah tanganku, aku sudah melihat ayahku bekerja keras sebagai tukang pembuat gamelan. Karena dia aku bisa tumbuh besar. Karena dia keluarga ini masih bertahan. Karena dia pula Huda Shalih, adikku, lahir di rumah yang sempit dan tak layak ini. Padahal aku sudah mengenal rasa malu sebagai laki-laki muda. Di rumah ini tak ada rahasia. Perempuan laki-laki bersatu bernafas dalam udara yang bertukaran. Rumah sempit ini tak lagi muat menampung empat tubuh yang kian dewasa.

Apa aku harus menuding Tuhan? Kalau ibuku tak mungkin. Ia yang susah payah melahirkanku. Mempertaruhkan nyawanya demi aku yang entah kelak akan menjadi apa. Kerjaku hanya membawa gula-gula buatan ibu, untuk dititipkan di warung kecil milik tetangga kami. Itu kulakukan setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah.

Setiap bulan aku dan adikku selalu mendapatkan masalah yang sama. Tak dapat melunasi uang sekolah. Dan inilah kerja adikku setiap datang masa pembayaran, ia selalu saja menangis. Seperti sekarang. Kalau sudah begitu, ayah ibuku tak tahu harus berbuat apa. Uang tentu takkan ada dalam sekejab. Tapi anak kecil mana yang mau mengerti semua itu? Sudah satu jam Huda terus menangis. Apa aku harus menuding nasib kami?

SIANG ini adikku pulang sekolah dengan berlari. Seragam merah putihnya tampak kumal dan menguning. Rok pendeknya berkibar diterpa angin yang menerbangkan langkahnya. Sejak uang sekolahnya terbayarkan, ia kembali menjadi anak perempuan yang lincah. Ia tak pernah tahu bahwa sejak itulah aku harus kehilangan kesempatanku meneruskan pendidikanku. Harus memenuhi dua biaya pendidikan, terlalu berat bagi keluargaku. Maka kuputuskan untuk berhenti.

Setelah begitu dekat, baru tertangkap olehku wajah adikku tak seperti biasanya. Sinar matanya tak lagi tajam. Ada kegelisahan di sana. Aku menatapnya sekilas, kemudian meneruskan tugasku membuat gula-gula, yang menjadi pekerjaan baruku.

“Abang....” Suara kecil Huda Shalih menyapaku yang sejak tadi diam saja.

Sekali lagi aku hanya menatapnya sekilas dan terus mengurusi pekerjaanku.

“Abang, belikan aku kalung.”

Perkataan Huda Shalih sangat mengejutkanku. Kulihat wajah bulat adikku. Aku mengeryitkan dahi. Ada apa gerangan dengan adikku hari ini? Adakah naluri keperempuanannya yang membuatnya seperti ini? Aku memperhatikannya. Tubuhnya masih terhitung kecil. Anak yang baru saja memulai tahap pendidikan awal, bagaimana mungkin sudah berpikir yang bukan-bukan? Ingin pakai kalung? Perhiasan? Pikiran dari mana itu? Aku tersadar. Tentulah ini pengaruh teman-temannya di sekolah. Aku menghela nafasku dengan berat. Beginikah pergaulan anak-anak zaman sekarang? Bahkan anak kecil pun sudah bicara soal materi.

Aku mencuci tanganku yang penuh gula. Mengeringkannya dan membelai rambut panjang adikku. “Kenapa tiba-tiba minta kalung?” tanyaku, “Untuk apa?”

Dengan manja adikku berkata, “Teman-teman juga begitu. Pakai kalung.”

Aku tersenyum. “Tapi kenapa Huda harus meniru mereka?”

“Kata mereka aku tak seperti perempuan. Aku tidak pakai anting-anting. Juga tidak pakai kalung. Kata mereka aku seperti anak laki-laki.”

Ada yang masuk dalam dadaku hingga membuatnya bergetar kencang. Aku kasihan dengan adikku. Huda Shalih memang kurang beruntung. Menjadi anak kecil yang hidup di tengah-tengah pergaulan yang begitu mengerikan. Sialnya lagi, kami terbilang sangat miskin.

“Abang tidak lihat Huda seperti anak laki-laki. Anak laki-laki kan tak ada yang rambutnya panjang? Sudah, tak usah dengarkan omongan orang.”

“Huda tetap mau minta kalung. Kalau tidak, besok Huda tak mau sekolah.” Adikku bicara sambil meninggalkanku.

Mendengar itu aku terkenang pada masa kecilku. Apakah dulu aku juga seperti Huda sekarang? Meminta sesuatu yang mungkin takkan bisa dipenuhi ayah ibu? Huda....Huda, kau masih muda, tapi tolonglah untuk coba mengerti keadaan yang ada di keluarga kita. Batinku berontak pada diri sendiri. Apa aku layak menyalahkan Huda Shalih yang masih berusia enam tahun?

ESOK hari adikku benar-benar tak mau berangkat sekolah. Aku khawatir ayah ibu mengetahui hal ini. Tentu akan membuat mereka terluka. Huda merengek padaku meminta dibelikan kalung. Aku membujuknya berkali-kali dan berkali-kali pula gagal. Sampai mataku tertumbuk pada sebuah tasbih milik ibuku. Aku melihatnya dengan sungguh-sungguh. Tasbih itu berwarna hijau mengkilat dan terbuat dari bahan batu-batuan. Aku ingat tasbih itu didapat ibuku dari mantan majikannya yang pulang dari ibadah haji. Waktu itu ibuku bekerja padanya sebagai pembantu rumah tangga. Beberapa tahun lalu.

Aku menatap tasbih itu dan kemudian melihat adikku yang masih saja merajuk. Lingkarannya cukup untuk ukuran leher adikku, pikirku. Kuambil tasbih itu dan memakaikannya di leher adikku.

“Lihat, bagus kan?” kataku.

Adikku tampak heran dan diam saja melihatku.

“Bagaimana? Sekarang kau jadi makin cantik.”

Tetapi adikku tetap diam.

“Kenapa? Kau tahu, kalung ini dibeli di mana?”

“Di mana?”

“Di Mekkah. Luar negeri.”

“Apa harganya mahal?”

“Tentu. Karena itu kau harus menjaganya dengan baik. Kalau tidak, ibu bisa marah.”

Adikku masih saja tampak bingung. Meskipun akhirnya ia mau juga berangkat sekolah dengan memakai tasbih itu sebagai kalung.”

SEJAK pagi aku tak tenang menunggu adikku pulang. Aku mengkhawatirkan reaksinya kalau-kalau ada temannya yang tahu bahwa itu bukan kalung sebenarnya. Tapi anak kecil takkan terlalu memperhatikan hal itu bukan? Tasbih itu sangat indah. Sangat mirip perhiasan. Kesannya mewah dan mahal. Dan aku hanya ingin adikku bahagia. Itu saja. Apa aku sudah melakukan kesalahan besar karena membohonginya? Atau membodohinya? Saat ini aku lebih khawatir jika terjadi sesuatu pada tasbih itu. Ibuku sangat menyayanginya. Mungkin juga itu satu-satunya benda berharga yang dimiliki ibuku. Sejak dulu ia menjaganya dengan sangat hati-hati dan telaten. Kuharap adikku bisa menjaganya dan dapat kukembalikan sebelum ibuku mengetahui kalau aku mengambil tasbih kesayangannya.

Adikku berdiri di depanku tanpa suara. Aku terkejut dan tersadar dari lamunanku. Aku memandang wajahnya yang terlihat kesal. Kulihat leher kecil adikku, dan tasbih milik ibuku sudah tak ada lagi.

“Mana kalungnya?” tanyaku dengan gusar.

Adikku makin tampak kesal menatapku. “Abang bohong!”

Aku tak dapat menutupi kekhawatiranku. “Huda, mana kalungnya?”

“Sudah hilang.” Jawab adikku sekenanya.

“Hilang di mana?”

Adikku diam saja, dan kemudian mulai menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Aku benar-benar resah dibuatnya.

“Huda, bilang sama abang. Di mana kalungnya hilang?”

“Itu bukan kalung! Abang bohong! Itu tasbih, iya kan? Teman-teman bilang begitu.”

Aku tertegun. Rasa bersalah menyeruak dalam diriku.

Adikku terisak.

“Huda, abang minta maaf. Tapi sekarang ada di mana tasbih itu?”

“Sudah kubuang!”

Adikku berlari meninggalkanku yang tak tahu harus berbuat apa lagi. Kali ini aku benar-benar dalam masalah. Sebentar lagi ibu pasti akan mencari tasbih kesayangannya. Adzan dzuhur berkumandang dengan lantang.

Yogyakarta, 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com

 

ShoutMix chat widget